Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2021

LAURA (oleh Devandra)

Laura ….. Kau adalah wanita yang sangat cantik Hatimu bagaikan kain putih dan halus Kaulah wanita yang sangat kuat Laura …. Kini engkau menjadi malaikat Surga Kepergiaanmu meninggalkan sejuta kasih sayang Dunia bagaikan tunduk di hadapanmu Laura …. Senyum manis mu tidak akan pernah hilang Kenangan indah bersama mu akan slalu teringat Kau tercipta menjadi wanita terhebat Laura … Kau katakan pada dunia akan takut sendiri Kini kaum hawa yang mengatakan takut kehilangan Laura …. Kau terlahir di rahim dari wanita yang hebat Jutaan manusia pun kagum dengan mu Laura… Selamat tinggal … Terimakasih wanita hebat Kau menaburkan kasih sebelum kau pergi  

Guru ku Taman Harapanku

  Guru ku Taman Harapanku Karya:   Petrus Afendi   Kulangkahkan Kakiku Kuringankan langkahku Untuk menggapai harapanku Harapan besar dan cita - cita luhur Seperti yang diwariskan Bapak Bangsa Kihajar Dewantara   Engkau Inspirasiku Tuntunan dan Bimbinganmu Sangat kudambakan Engkau bagaikan sinar rembulan Pemberi kesejukan dan kedamaian hati   Perjuangan untuk menggapai anganku Adalah hal yang pasti Tekad hati untuk membuka diri belajar bersama dan hal baru itulah niatku   Oh guruku   taman harapanku Kuingin selalu berada didekatmu Hingga akhirnya aku temukan Sesuatu yang mendamaikan dan membahagiakan jiwa Terima kasih guruku taman impianku Jasa teladan komitmen pengorbananmu akan kukenang selalu Hingga ajal menjemputku   Disusun pada hari Kamis, 20 Oktober 2021

Kepergianmu

Tuhan... mengapa kau ambil dia dari pelukku Dia yang selalu menjaga dan melindungiku Dia yang yang membimbing dan mengajariku tentang kehidupan Dia yang selalu mengusap air mataku dikala aku sedih Dan dia yang selalu memberiku motivasi serta kebahagiaan   Apa aku salah.. Jika aku merindukan semua tentangnya Merindukan senyum canda tawa dari bibir wajahnya Senyum canda dan tawa yang belum sempat aku abadikan dalam media Kini hanya tinggal di memori pikiran dan hati kecilku    Bukan aku tak iklas akan takdir Tuhan Tapi.. aku hanya tak ingin kenangan itu hilang Tuhan.. kutitipkan dia di sampingmu Jagalah dia untukku Dan sampaikanlah cinta dan kasihku untuknya Selamat jalan kakak Takkan ku lupa semua tentang mu                                                  ...

Cerpen Syair Lagu yang Mengingatkanku Padanya

Pagi ini sangat cerah aku segerah bangun dan merapikan tempat tidurku. setelah itu aku bergegas mandi untuk mempersiapkan diri ke sekolah. waktu menunjukkan pukul 06.15, setelah   aku sudah siap untuk pergi kesekolah aku harus menunggu jemputan dari sahabatku Dilla, ya dia adalah salah satu sahabat baikku kami bersahabat sejak kami duduk di kelas 7 SMP. “Tinnnnn....tinnnn...” Bunyi klakson dari depan rumah, aku   pun segera keluar dari rumah dan ternyata itu Dilla “emmmmmbz gak kurang siang berangkatnya...?” tanyaku sambil menyindir “emang jam berapa sekarang?” “ jam 06.30” “ owch masih setengah tujuh .” jawabnya Karna masuk bel sekolah pukul 06.45 dila melajukan motornya dengan kecepatan pelan,agar waktu kita sampai disekolah tepat bel masuk berbunyi. saat kami sampai diparkiran sekolah bel masuk pun berbunyi, aku dan dila segera lari dan masuk kedalam kelas, Dan untunglah kelas masih belum ada guru yang masuk. “ Assalamualaikum....” (kataku sambil melepaskan ...

PUISI AKU = KITA

  Aku = Kita Alvi Innayah Aku bertanya pada detik-detik Makna dua jiwa yang bernada sama Dia dan dia dengan mata menusuk Yang pada titanya aku bersimpuh Dan pada senyumnya aku menuju   Segala tentang semesta yang kugenggam Seluruh tentang rasa yang kucincang   Begini. Waktu milikku yang menjadi miliknya Terhitung sabar dan terserah Baiklah, Masaku adalah masa kami Aku yang telah menjadi kita   Sidomulyo, 14 12 ‘21 Gh_

PUISI KATA "NYATA"

  Kata “nyata” Alvi Innayah Selamat datang nyata mimpi dunia yang tertata mengetuk gulungan asa yang tertunda   Perihal kata dan rasa yang mendesak sesak di dada   Perih diantara letih mengikis tipis serambi merintih belum pula enggan tertatih   Entah sudut atau lengkung masih berupa goresan yang terkungkung Sidomulyo, 14 12 ‘21 Gh_

PUISI DIAM

  DIAM Karya: Baiq Tety Yuliana Aku yang tak menyukai keramaian Yang sangat membenci kebisingan Namun mencintai keramaian.   Sendiri bukan berarti sepi Aku bahagia dengan caraku sendiri Caraku yang tak pernah dimengerti.   Diam seribu bahasa adalah keahlianku Aku membenci orang lain yang sok tahu Apalagi mengkritik hidupku.   Diam bukan berarti bisu Namun aku tak mau tahu Karena hidupku sudah penuh dengan lika-liku.

PUISI SEORANG PENGGEMAR

  SEORANG PENGGEMAR Karya: Baiq Tety Yuliana   Kamu… Iya, kamu yang aku cinta Kamu yang aku kagumi Dan kamu yang selalu aku dambakan   Aku mengenalmu dengan sangat baik Caramu menatap dunia, sungguh membuatku terkagum Terima kasih karena kamu telah hadir di dunia ini Karenamu, aku selalu merasakan rindu yang tak terhingga   Mencintamu adalah hal terberat dalam hidupku Namun ya, aku menyukainya   Seringkali aku tertampar oleh kenyataan Tapi aku tetap tidak bisa sadar Entah mengapa, aku semakin mencintaimu   Aku sadar, kamu orang yang sangat spesial Memilikimu adalah hal yang tidak mungkin Karena aku hanyalah seorang penggemar Penggemar yang akan selalu mencintaimu sampai kapanpun.

CERPEN HIRUK PIKUK KEHIDUPAN PETANI TEMBAKAU

  HIRUK PIKUK KEHIDUPAN PETANI TEMBAKAU Karya: Baiq Tety Yuliana               Di sebuah desa yang tereletak jauhh dari perkotaan, tepatnya di ujung selatan pulau Lombok Nusa Tenggara Barat. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat di desa tersebut adalah bertani. Hampir 12 jam masyarakat yang berprofesi sebagai petani berada di sawah untuk menanam apapun yang bisa ditanam.             Bertani merupakan satu-satunya cara masyarakat melangsungkan hidupnya. Sehingga ketika gagal panen, maka semua akan bersedih karena memikirkan bagaimana akan melanjutkan hidup setahun kedepan. Pahit, pilu, sedih, luka, lelah, letih, dan lesu menjadi sambutan di pagi hari.             Pergi pagi pulang petang, meninggalkan anak cucu di rumah menjadi kebiasaan setiap hari. Keluarga menjadi tempat pulang ketika lelah menjalank...