HIRUK PIKUK KEHIDUPAN
PETANI TEMBAKAU
Karya: Baiq Tety Yuliana
Di sebuah desa yang
tereletak jauhh dari perkotaan, tepatnya di ujung selatan pulau Lombok Nusa
Tenggara Barat. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat di desa tersebut
adalah bertani. Hampir 12 jam masyarakat yang berprofesi sebagai petani berada
di sawah untuk menanam apapun yang bisa ditanam.
Bertani merupakan
satu-satunya cara masyarakat melangsungkan hidupnya. Sehingga ketika gagal
panen, maka semua akan bersedih karena memikirkan bagaimana akan melanjutkan
hidup setahun kedepan. Pahit, pilu, sedih, luka, lelah, letih, dan lesu menjadi
sambutan di pagi hari.
Pergi pagi pulang
petang, meninggalkan anak cucu di rumah menjadi kebiasaan setiap hari. Keluarga
menjadi tempat pulang ketika lelah menjalankan aktivitas yang begitu berat di
tengah sawah dan di bawah terik sinar matahai yang begittu menyengat. Malam
hari merupakan kesempatan satu-satunya untuk berkumpul bersama keluarga.
Menjadi seorang petani
bukanlah suatu perkerjaan yang mudah. Butuh tenaga yang kuat, kesabaran yang
tiada batas, pantang menyerah dengan apapun yang terjadi. Musim panas adalah
musim yang paling dinantikan oleh semua petani. Musim panas menjadi
satu-satunya harapan untuk menanam tembakau yang berkualitas. Lika liku menanam
tembakau dirasakan setiap hari.
Di pagi hari, udara
yang begitu dingin menusuk sampai tulang bu Minah dan pak Selamet harus
menyiapkan diri berangkat ke sawah. Di saat orang lain masih tertidur pulas, bu
Minah dan Pak Selamet harus menahan dingginya udara subuh untuk mencari nafkah.
“Pak ayo bangunn, kita harus sholat subuh
karena setelah ini kita harus bergegas ke sawah” ucap sang istri yang
membangunkan suaminya.
“iya bu sebentar lagi” ucap pak Selamet
“ayo pak, bangunn kita ndak boleh
malas-malasan, kita ini bukan orang kaya, kalau ndak bertani darimana kita
mendapatkan uang, ayoo pak”
“iya bu, ini bapak bangun”
Sesudah melaksanakan sholat subuh berjamaah, pak
Selamet dan Minah bersiap-siap untuk pergi ke sawah. Ketika di perjalanan pak
Selamet dan bu Minah mengobrol.
“pak gimana ya rasanya jadi orang kaya yang
punya banyak uang, ndak perlu ke sawah kayak kita, bangun kapanpun mereka mau”
“ussttt sudah bu sudah, rezeki itu sudah ada yang
aturr”
“iya sih pak, Cuma ya pengen aja. Kita dari
dulu sampai sekarang hidupnya begini-begini saja”
“buuu, kita harus bersyukur, kita ndak
boleh banyak mengeluh. Mesikpun kita petani yang misikin tapi kita masih mampu
membiayayi hidup kita dan biaya sekolah anak-anak kita”
“iya pak iyaa, Alhamdulillah”
Setelah mengobrol panjang, pak Selamet dan bu Minah
akhirnya sampai di sawah. Sebelum memulai kegiatan membersihkan sawah, Pak
Selamet dan bu Minah melakukan doa bersama supaya selau diberi kesehatan dan
keberkahan terhadap pekerjaan yang dilakukan.
“Buk, ini kan awal dari proses menanam
tembakau. Kita memiliki beberapa sawah. Jadi hari ini kita bagi tugas, ibu
membersihkan sawah A bapak membersihkan sawah B”
“aduh jangan deh pak, kita kerjakan satu
sawah dulu, kalo masing-masing nanti ibuk ndak ada temen ngobrol”
“yaudah klo begitu, mari mulai membersihkan
rerumputan ini bu”
“iya pak”
Bu Minah dan pak Selamet memilki beberapa sawah dan
mereka hanya mengerjakan berdua. Bu Minah dan pak Selamet tidak memiliki uang
untuk membayar orang lain agar membantu membersihkan rumput di sawahnya.
Mesikpun banjir keringat, tenggorokan yang kering tidak mematahkan semangat Bu
Minah dan Pak Selamet. Ketika memberishkan rumput menggunakan arit, Bu Minah
mengajak Pak Selamet untuk ngobrol agar tidak merasa lelah.
“pak sekarang kita mau menanam tembakau,
tapi kita nggk punya modal. Gmna ya pak?
“bapak juga sedang memikirkan dari mana
kita bisa mendapatkan uang untuk modal bu”
“iya pak, menanam tembakau ini butuh modal
yang banyak. Kita harus membeli pupuk, obat untuk menyemprot ulat, dan membeli
benih tembakau”
“begini saja bu, kita meminjam modal sma
pak Ridwan saja nanti setelah kita panen tembakau baru kita ganti uangnya”
“tapi pak, pak Ridwan orangnya seperti
rentenir, kita ndak bisa telat bayar hutang yang ada bunganya nanti naik pak”
“tapi mau gmna lagi bu, pak Ridwan
satu-satunya orang yang bisa meminjamkan kita uang. Secara dia paling kaya di
kampung kita ini. Kita banyak berdoa dan berusha saja ya bu supaya tanaman
tembakau kita bagus di tahun ini”
“Aminn pak. Yasudah ibu mengikuti keputusan
bapak saja”
Setelah melalui hari yang panjang, waktu menunjukkan
pukul 5 sore. Saatnya Bu Minah dan Pak Selamet pulang ke rumah. Sesampainya di
rumah, Bu Minah dan Pak Selamet memberishkan diri, kemudian melaksanakan
sholat berjamaah, dan makan bersama.
Sesudah makan, pak Selamet izin kepada Bu Minah untuk pergi ke rumah Pak Ridwan.
Sesampainya di rumah Pak Ridwan, Pak Selamet mengucapakan
“Assalammualaikuk Pak Ridwan”
“Waalaikumsalam, ehh ada pak Selamet. Silahkan masuk”
“terima kasih pak”
“begini pak, maksud saya datang kemari,
saya ingin memninjam uang untuk modal tanam tembakau”
“iya ya saya sudah menduga itu. Butuh berapa?”
“saya butuh 10 juta pak”
“oke, kasih uangnya”. Tutur pak Ridwan kepada anak
buahnya
“insyaAllah saya akan mengganti uangnya setelah panen
tembakau pak”
“oke saya pegang janji kamu. Jika terlambat maka
bunganya saya naikkan”
“iya pak terima kasih. Kalau begitu saya pulang dulu”
“iya”. Ucap pak Ridwan.
Usaha pak Selamet meminjam uang telah berhasil. Kini
saatnya pak Selamet pulang ke rumah dengan membawa uang 10 juta sebagai modal
menanam tembakau. Sesampainya di rumah, Pak Selamet memberikan uang kepada
istrinya agak dikelola dengan baik. Kini, Bu Minah dan Pak Selamet dapat
membeli kebutuhan yang diperlukan untuk menanam tembakau.
Waktu menunjukkan pukul 4 pagi, ayam berkokok tandanya
sholat subuh harus dikerjakan. Bu Minah dan Pak Selamet sholat berjamaah dan
berdoa kepada Allah supaya segala usaha menanam tembakau diberikan kelancaran.
Usai sholat subuh, saatnya Bu Minah dan Pak Selamet
melanjutkan pekerjaan membersihkan rumput di sawahnya. Setelah beberapa jam,
sawah Bu Minah dan Pak Selamet mulus seperti lapangan bola, tidak ada satupun
rumput yang tersisa.
“wahhh, sawahnya udah bagus ya pak. Sudah
siap ditanamkan bibit tembakau” ucap bu Minah kepada suaminya sambal tersenyum.
“iya bu, rasanya ndak sabar nunggu hari
esok melihat sawah kita dipenuhi dengan warna hijau. Hijaunya daun tembakau”
“iya pak. Besok bibit tembakau kita akan
dibawakan ke sawah oleh Pak Agung”
“oh iya bu, bagus kalau begitu. Biar besok
kita tinggal menanam bibitnya bersama petani-petani yang lain”
“nggeh pak”
Kini Bu Minah dan Pak Selamet tidak sabar menunggu
hari esok. Hari yang paling ditunggu-tunggu dengan harapan yang sangat tinggi.
Bu Minah dan Pak Selamet sangat berharap tanaman tembakau saat ini berhasil,
tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu gagal panen karena diguyur
hujan yang tiba-tiba datang dari langit. Hujan seharian membuat tanaman
tembakau menjadi layu bahkan daunnya menguning sehingga tidak bisa dijual
dengan harga yang tinggi. Harapan Bu Minah dan Pak Selamet di tahun ini, semoga
tidak ada hujan yang tiba-tiba datang begitu saja sehingga merusak tanaman
tembakau yang telah dirawat selama berminggu-minggu.
Hari menanam tembakau pun tiba, Bu Minah dan Pak
Selamet bergegas ke sawah setelah melaksanakan kewajiban sholat subuh.
Sesampainya di swah, Bu Minah dan Pak Selamet melihat pak Agung telah berdiri
dan membawakan bibit unggul tembakau.
“pagi bu Minah dan Pak Selamet” sapaan Pak
Agung kepada Bu Minah dan Pak Selamet
“pagi juga pak Agung”
“pak, bu ini bibit tembakau yang dipesan
kemarin, kualitasnya bagus, bibitnya saya rawat dengan baik. Semoga bibit ini
tumbuh menjadi tanaman tembakau yang berkualitas”
“Aminn pak Agung, terima kasih banyak” ucap
Bu Minah dan Pak Selamet serentak.
“kalau begitu saya pamit pulang dulu ya
pak, bu”
“iya pak Agung, hati-hati di jalan”
Sembari menunggu petani-petani yang lain untuk
membantu menanam tembakau, Bu Minah dan Pak Selamet memeriksa bibit tanaman
yang dibawakan oleh Pak Agung.
“MasyaAllah bu, bibit tembakaunya
cantik-cantik sekali seperti cantiknya istriku”
“ahh bapak, bisa saja” Bu Minah tersipu malu
Setelah beberapa menit, sepuluh orang petani yang
dibayar oleh Bu Minah akhrinya datang. Saatnya mereka membagi tugas untuk
menanam bibit tembakau. Bu Minah dan Pak Selamet memiliki beberapa sawah
sehingga petani-petani tersebut harus dibagi dua supaya pekerjaan cepat
selesai.
Sebelum memulai menanam
tembakau, Pak Selamet terlebih dahlu memipin doa supaya diberikan keberkahan
oleh Allah SWT.
“ibu-ibu silahkan lima orang bisa mengikuti
saya, dan lima orang lainnya mengikuti Bu Minah” ucap pak selamet mengarahkan
petani-petani.
“enggeh pak Selamet”
“Semoga saja tanaman tembakau tahun ini
berhasil ya ibu-ibu supaya kita bisa membayar hutang dan membiyayai kehidupan
kita sehari-hari” ucap salah satu petani.
“semoga saja bu, saya sangat berharap kita
semua berhasil panen tembakau dengan kualitas yang baik supaya ekonomi keluarga
kita semua bisa stabil” sahut ibu petani lainnya.
“Aminnn bu” ucap Bu Minah dan ibu-ibu
petani yang lainnya.
Beberapa jam telah berlalu. Semua bibit tembakau telah
ditanam. Kini saatnya Bu Minah dan Pak Selamet harus rajin menyiram tanaman
tembaku setiap hari.
Setiap pagi, Bu Minah dan Pak Selamet semakin rajin
berangkat ke sawah. Tidak sabar melihat tanaman tembakaunya bertambah tinggi.
Setelah bebrapa hari dilewati, kini tanaman tembakau Bu Minah dan Pak Selamet
bertambah tinggi yang awalnya hanya 20 cm menjadi 50 cm. Melihat daun tembakau
yang begitu lebar dan cantik membuat Bu Minah dan Pak Selamet menaruh harapan
yang sangat tinggi terhadap harga yang akan ditawarkan ketika menjual
tembakaunya.
Berminggu-minggu telah berlalu, maka semakin dekat
dengan hari pemetikan daun termbakau yang pertama. Kebahagiaan Bu Mina dan Pak
Selamet tidak bisa ditahan lagi, sepanjang hari merka selalu terseneyum
bahagia. Akan tetapi kebahgaiaan itu hanya sementara, kejadian yang sama
terluang kembali di tahun ini. Hujan deras dan angin kencang melanda tanaman
tembakau seluruh petani, termasuk tanaman tembakau milik Bu Minah dan Pak
Selamet. Bu Minah tak tak kuasa menahan diri dan mengeluarkan tangisan yang
begitu hebat karena tanaman tembakaunya yang cantik dan berkualitas akan layu
begitu saja dan tidak dapat dijual dengan harga yang tinggi.
“Pak, pak bagaimana ini. Sekarang hujan
tembakau kita di sawah pasti akan layu”
“iya bu bapak juga memikirkan itu, tapi mau
bagaimana lagi kehendak Allah siapa yang tau”. Ucap pak Selamet yang berusaha
menahan tangis dan berusaha menegarkan dirinya.
“bagaimana kita akan membayar hutang kepada
pak Agung?” Tanya bu Minah
“begini saja bu, kita kan masih ada sisa
padi beberapa karung dan kalau boleh simpanan emas milik ibu kita jual. Karena
ndak ada pilihan lagi bu”
“iya sudah pak” ucap bu Minah kecewa
“Hmmm. Semoga tahun-tahun berikutnya kita
berhasil menanam tembaku ya bu”
“iya pak, mau bagaimana lagi. Meskipun
gagal berkali-kita kita harus tetap menoba dan berusaha ya pak” ucap bu Minah
yang berusaha menguatkan diri dan suaminya.
“iya bu, kita harus percaya rencana Tuhan
jauh lebih indah” ucap Pak Selamet sambal memeluk istirnya.
Saat kesenangan dan harapan yang begitu besar lenyap begitu
saja lantas tidak membuat Bu Minah dan Pak Selamet menyerah. Rasa sedih tentu
saja ada, tetapi Bu Minah dan Pak Selamet tidak bisa ikut larut dalam
kesedihannya. Prinsip Bu Mindah dan Pak Selamet adalah jika gagal maka coba
lagi dan jika jatuh maka harus bangkit lagi. Rencana Allah jauh lebih indah.
Setelah kesedihan pasti akan datang kesenangan. Semoga Bu Minah dan Pak Selamet
diberikan rezeki yang berlimpah setelah kejadian yang menimpa dirinya dan
suaminya.
Komentar
Posting Komentar