Langsung ke konten utama

Topeng Monyet

 

Topeng Monyet

Oleh: Kholilatuz Zuhria

“Dung dung, drrung dung dung!”

“Dung dung, drrung dung dung!”

 Inilah gending yang paling akrab di telingaku. Bukan akrab seperti kalian dengan teman-teman kalian. Tapi aku terpaksa mengakrabinya karena gending inilah gending yang paling lama kudengar. Selama yang dapat aku ingat, hampir tiap hari aku mendengar gending itu. Tak tanggung-tanggung mungkin lebih lama dari waktu manusia bekerja atau menuntut ilmu tiap hari.

Entahlah, aku ini apes atau beruntung. Yang jelas, aku dibeli Tuanku di pasar hewan di dekat Alun-alun Tugu saat aku belum genap 1 tahun. Sejak saat itu, aku mengabdi padanya. Selebihnya, aku tidak bisa mengingat. Dari mana aku, kemana orang tuaku, aku tidak ingat lagi.

***

“Aya, Kopral! Salto ke belakang!” Teriakan Tuanku sontak mengagetkanku yang asyik mengunyah butir-butir kacang pemberian penonton. Aku pun salto berkali-kali di hadapan puluhan anak kecil. Mereka tepuk tangan nampak gemas melihatku, beberapa juga ketakutan.

Aku mahir salto bukan karena ibuku yang mengajarinya. Aku bisa salto karena aku sering melihat acara kesukaan Tuanku di televisi, sinetron kolosal. Aku banyak menirukan adegan perkelahiannya, termasuk salto.

Sebenarnya, aku capek sekali hari ini. Seharian menghibur penonton. Entah sudah berapa ribu kali aku bersalto. Hari Minggu ini memang ramai di alun-alun depan masjid Jami'. Entah berapa puluh ribu upah yang Tuanku dapatkan dari kerjaku menghibur.

Mendekati maghrib, Tuanku membawaku pulang. Melihat binar-binar di mata Tuanku, rasa lelahku sedikit berkurang. Ia kelihatan senang.

“Alhamdulillah, Pral! Hari ini lumayan. Nanti malam aku bisa membelikan sepatu di roma buat Mir'ah.”

Roma adalah kiri kanan jalan di utara Klenteng yang tiap malam dijadikan arena jual beli barang bekas. Roma adalah rombengan malam karena yang dijual adalah barang bekas dan hanya ada pada malam hari. Ada juga yang menyebutnya rombengan maling. Tentu kalian sudah mengira mengapa disebut demikian.

***

Nduk, mbayar ujian wingi kurang piro?” Tanya tuanku pada putrinya.

“Kirang sekawan dasa, Pak.”

“Ya wes, iki lho bayaren mene, ben awakmu isa melok ujian.”

“Sampun angsal artane, Pak?”

 Uwes, Nduk. Maeng Kopral oleh akeh”

“Alhamdulillah, Pak. Kula saget ujian berarti.”

Sejak dua hari yang lalu aku dengar Mir’ah merengek ingin segera membayar uang ujian. Untunglah, hari ini alun-alun ramai, banyak anak kecil yang menikmati pertunjukanku hingga Tuanku bisa mendapat uang cukup untuk membayar ujian. Aku bisa membayangkan bagaimana perasaan Mir’ah dan bapaknya. Mir’ah harus banyak bersabar, memendam perasaannya karena sering telat membayar setoran sekolah. Ia dipaksa memaklumi keterbatasan kemampuan ayahnya dalam hal mencari biaya hidup.  Maklum, sekolahan Mir’ah adalah sekolah favorit, kebanyakan muridnya adalah anak para pejabat dan pengusaha yang tidak pernah kesulitan membayar iuran-iuran di sekolah. Sedangkan Tuanku pastilah sangat trenyuh saat anaknya bilang harus bayar ini itu, beli buku ini itu di sekolah sedang ia tidak mempunyai uang cukup untuk membayarnya. Aku sering melihat mata Tuanku berkaca-kaca sebelum ia terbaring tidur di ranjang reyotnya.

***

Tuanku bukannya tinggal diam dengan keterbatasan kemampuannya. Ia pernah mengajukan permohonan beasiswa  untuk biaya sekolah anaknya. Tapi ia mengalami kesulitan mengurusinya. Pihak sekolah menjelaskan bahwa untuk siswa dari kabupaten sulit mendapatkan beasiswa karena beasiswa diutamakan bagi penduduk kota.

“Aku urip taunan ndek Kota, golek sandang pangan ya ndek Kota, tapi diarani wong Kabupaten merga aku gak due KTP Kota. Ate ngurusi KTP Kota, jare kudu duwe omah ndek Kota. Lek aku duwe omah ndek Kota, aku ya gak kira bingung urip ngontrak ngolah-ngalih. Masak gak ngerti wong-wong iku? Masak njaluk beasiswa kudu tuku omah disek?” Di warung kopi ujung gang, Tuanku mengeluhkan penolakan beasiswa hanya karena perbedaan urusan administrasi.

“Oalah, Kang, ya ngeneki wong cilik kaya awak dewe ngeneki. Kerjo ngaya-ngaya kalahe ya ambek administrasi.” Seorang tetangga menimpali.

Di warung kopi inilah aku sering mendengar celoteh tetangga kiri kanan rumah yang menceritakan drama kehidupannya. Ada yang mengeluhkan kredit motor telat, istri ngambek gara-gara sering ditinggal begadang, dan sebagainya. Hal yang paling sering diceritakan Tuanku adalah betapa ia membanggakan anaknya. Baginya, anak adalah hari depannya. Semua yang ia miliki dan ia lakukan adalah untuk anaknya kelak.

***

Mir’ah, adalah anak yang pandai. Ia lah kebanggaan ayahnya. Piala di atas bufet usang yang memisahkan ruang tamu dan meja makan itu adalah piala bukti kepandaian Mir’ah. Ia mendapatkannya saat ia mengikuti lomba pidato bahasa Arab pada pekan Arabi di sebuah PTN di Kota ini. Belum lagi piagam penghargaan yang ia dapatkan karena sering memenangkan lomba di tingkat kecamatan dan kabupaten. Piala di atas bufet itu adalah piala yang paling ia banggakan. Sebenarnya, ia ingin lebih menghargai piala itu. Tapi ia tidak mempunyai tempat yang lebih tinggi lagi selain bufet. Di atas bufet itulah tiap orang yang datang bertamu bisa jelas melihat piala itu.

“Cak, ankku menang maneh lomba, kaya biasane, anakku juara siji.”

Kata-kata seperti itulah yang sering Tuanku lontarkan kala ia bertemu orang-orang yang ia rasa belum mengetahui kabar kemenangan anaknya. Bahkan aku sering melihat orang yang pura-pura kaget mendengar kabar dari Tuanku. Bagaimana tidak pura-pura, lha wong baru kemarin mendengar kabar itu dari orang yang sama.

“Tuanku! Tuanku! Bagaimana monyet bisa mengingat lebih lama dari manusia,” Kataku dalam hati. Geli sendiri aku mendengarnya.

Melihat kemampuan dan kesungguhannya dalam belajar, aku rela seumur hidup menjadi budak tak terbeli sebagai lakon topeng monyet. Bagiku, melihat Mir’ah belajar tiap aku selesai menghibur, bagaikan meminum jamu. Ya! Seperti minum jamu beras kencur, favorit Tuanku yang sering kucuri di atas meja reotnya.

***

Pagi ini, langit agak mendung. Beberapa petugas DKP sibuk mnyapu sambil sesekali meminum kopi dari gelas plastik yang dibeli di warung kopi sebelah timur Alun-alun. Masih agak sepi untuk mulai menghibur. Tuanku pun masih sedikit malas untuk mulai memukul gendang. Jadi ia asyik meminum kopi sama seperti para petugas DKP.

Doakan aku Mir’ah. Meskipun hari ini hari Senin, aku yakin aku bisa menghasilkan lembaran bergambar Mohammad Hoesni Thamrin dan Dr. KH. Idham Chalid lebih banyak lagi. Aku akan menghibur sebaik mungkin. Aku tidak ingin melihat mata bapakmu berkaca-kaca lagi. Dengan modal jamu buatanmu aku akan kerja keras, meski aku mendapatkan jamu itu dengan cara yang tidak baik, aku yakin hasilnya akan baik. Aamiin.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen : Siapa Kamu ?

  Siapa kamu      Pagi yang sangat berembun karena semalaman turun hujan deras, setelah cuaca agak terang segerombolan ibu-ibu dan bapak-bapak bersiap untuk memulai aktivitas mereka. Pekerjaan sebagian besar orang di desa Insoe merupakan petani. Pagi itu tidak sengaja para ibu-ibu dan bapak-bapak menemukan sebuah koper besar berwarna hitam pekat, mereka bertanya-tanya milik siapa itu, kenapa koper sebagus itu di buang di ladang pertanian. Semakin penasaran dengan isi koper itu para petani pun mulai membukanya.      Terceganglah mereka bahwa isi dari koper hitam itu merupakan sesosok mayat wanita. Panik melanda seluruh petani, desapun menjadi geger dibuatnya. Kepala desa langsung memanggil petugas kepolisian, agar mereka bisa mengidentifikasi mayat tersebut. Petani dan warga setempat tidak berani mendekat, setelah polisi datang barulah seorang mayat perempuan itu dikeluarkan dari koper. Sungguh malang nasib perempuan tersebut, tubuhnya dipenuhi deng...

CERPEN PANGGILAN PADA HARI HUJAN

  CERPEN  PANGGILAN PADA HARI HUJAN Ho Ngoc Hieu Yuni diam-diam bergulir kursi roda ke jendela. Gerimis dari sore kemarin ke pagi hari ini masih belum berhenti. Dia duduk di sana dengan diam, tidak ingin melihat ke luar jendela bahkan sekali pun. Meskipun bunga-bunga, tanaman riang, pohon dan rumput, vitalitas subur di bawah hujan tipis tembus ... *** Itu sudah setengah tahun dari hari kecelakaan mengerikan terjadi. Dalam perjalanan dari sekolah pulang rumah, Yuni tertabrak dengan bus, kakinya dihancurkan hingga harus mengamputasi. Semua mimpi, ambisi dari seorang gadis berusia lima belas tahun dihancurkan oleh kecelakaan tragis itu. Dari seorang gadis manis, ramah, sering menyenangkan dan percakapan dengan semua orang di kelilingnya. Sejak waktu itu, Yuni tidak mau lagi berbicara, pertemuan atau hubungi dengan orang yang lain, kecuali orangtuanya. Yuni berpikiran bahwa hidupnya begitu berhenti, semua hal yang baik dalam kehidupan akan tidak pernah datang sama dia lagi ....