Langsung ke konten utama

AKU dan PENDERITAANKU

AKU DAN PENDERITAANKU 

Ode evi yulianti

            Aku adalah anak yang terlahir dari keluarga broken home, sejak usia dua tahun, aku sudah di asuh ayahku. Orang tuaku berpisah sejak usiaku menginjak dua tahun dan kakakku yang saat itu berusia tujuh tahun. Namaku adalah Zeze, aku anak bungsu dari dua bersaudara, kakakku seorang laki-laki dan dia bernama Fion. Hasil sidang membuat hak asuh anak jatuh ke tangan papa, sedangkan mamaku yang saat adalah seorang pendatang dari Kalimantan, memutuskan untuk kembali pada kedua orang tuanya yang berada di Samarinda. Hari-hari yang kulalui hampir sama dengan anak kebanyakan di luar sana, bedanya mereka mempunyai orang tua yang utuh, sedangkan tidak pada diriku. Tapi dengan perhatian papa yang begitu menyayangi kami, kekurangan itu seolah tidak ada. Karena setiap hari papa selalu melaksanakan tugasnya sebagai seorang ayah bahkan tak jarang menjadi seorang ibu pula buatku. Sejak perceraian orang tua, papa memboyong kami untuk pergi jauh dari tempat yang penuh dengan mamaku, karena menurut papa, tempat itu terlalu menyakitkan buatnya, kami pun pergi ke daerah Maluku utara, yang tempat itu begitu asing buatku karena tak seorang pun yang kami kenali. Tapi karena tekad papa yang ingin menghilangkan jejak anak-anaknya pada mamaku, hingga di tengah keterasingan pun tak masalah buatnya. Tak berselang lama, papaku menikah kembali dengan anak Kepala Desa di daerah tersebut, Aku yang sejak kecil nggak ngerti apa-apa tentang perceraian, nggak pernah tahu bahwa mama sambungku adalah mama tiri, karena dia begitu baik, menyayangiku bagai anak sendiri.

            Hamparan laut begitu luas, yang Nampak jelas di depan mataku. Kediaman yang kami huni di Maluku sangat dekat dengan laut, hamper tiap hari saya dan kakak selalu mengisi waktu luang dengan berenang di air asin, keadaan lautnya yang begitu jernih dan bersih, sehingga dengan mata telanjang kita bisa melihat aneka biota laut, bintang laut dengan jenis-jenis dan warna yang berbeda, ikan-ikan kecil penghuni terumbu karang serta berbagai jenis rumput laut yang dikelola oleh masyarakat setempat Nampak membentang di sepanjang pesisir pantai. Hamper 100 persen para warganya berprofesi sebagai pelaut. Berbeda dengan papaku, karena laut asing buatnya, maka papa dalam kesehariannya bekerja di perusahaan kayu terbesar saat itu yaitu PT. Luna Timber. Sejak kecil hidupku selalu berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lainnya, karena memang keluarga papaku adalah keluarga besar dan mengetahui lika-liku kehidupan rumah tangga papa, beranjak kelas 3 SD, tiba-tiba aku harus berpisah dengan papa dan kakakku karena mengikuti nenek dan kembali ke Bau-bau. Setelah menamatkan SD, saya kembali dijemput oleh papaku dengan alasan udah terlalu kangen, karena saat itu memang aku adalah anak perempuan satu-satunya. Walaupun saat ini aku sudah mempunyai adik lagi yaitu laki-laki.

            SMP kelas satu, saya mulai bersekolah lagi dilingkungan baru. Dengan keadaanku yang memang suka menegur sapa serta periang, membuatku jadi pribadi yang idolakan anak-anak sekelas. Tak butuh waktu lama untuk bisa berbaur dengan mereka, karena ternyata mereka sendiri yang selalu datang ke mejaku walau sekedar basa-basi belaka. Aku pun diangkat menjadi ketua kelas, dengan anggapan bahwa kemampuanku lebih di atas mereka. Waktu terus bergulir, suka-duka kehidupanku datang silih berganti. Hingga ketika kelas dua SMP aku harus mengikuti tanteku yang saat itu suaminya adalah seorang guru. Aku pun hidup bersama tante sampai menamatkan SMP. Tak berhenti sampai di situ, Setelah masuk SMA, saya pun harus pindah kemabali ke Bau-bau mengikuti Nenek. Kebetulan saat itu saya masuk di SMA Negeri Dua bau-bau, setelah mengenyam pendidikan selama 10 bulan, aku dikeluarkan bersama teman-teman karena mengikuti demo terkait pelengseran kepala kepala sekolah aktif ketika itu.

            Setelah keluar dari SMA Negeri Dua Bau-bau, akupun di ajak om yang ketika itu adalah guru agama di SMA Negeri Empat Bau-bau. Alhamdulillah walaupun Cuma beberapa bulan mengais ilmu di sekolah baru, aku pun naik kelas tanpa ada catatan buruk. Entah bagaimana ceritanya saat itu, kakakku yang tiba-tiba muncul dan menyodorkan satu lembar foto yang berukuran 3 R.” ini siapa kak.” Kataku padanya. Sambil tertunduk dan terdiam, kakakku seakan berat mengatakan hai itu. “ ini foto siapa kakak.” Tanyaku kembali padanya, namun kali ini air matanya ikut berbicara, seakan merasa sakit yang teramat dalam sehingga air mata itu tak berhenti mengalir. “ Dia adalah mama kita, mama yang selama ini telah meninggalkan kita berdua dan memilih untuk pulang di kampong halamannya dari pada harus mencari kita.” Ucapnya lirih. Jujur, dalam lubuk hati terdalam, saya sebenarnya sudah mendengan selintingan kabar tentang keadaan papan dan mamaku saat itu, Cuma buatku apalah artinya mengungkit kisah pahit masa lalu papaku yang pada akhinya akan membuat aku atau bahkan papaku yang terluka. “ Mama kita tuch bukan yang di Maluku! Tapi mama kita saat ini ada di Jakarta dengan keluarga barunya. “ ucap kakak sembari menghampiriku dan merangkulku yang saat itu tiba-tiba merasa kangen banget ama sosok mama kandungku. Aku pun menjerit histeris, seakan nggak percaya ini akan terjadi padaku. Dilemma yang melanda hati, antara ibu kandung yang melahirkanku dan seorang ibu tiri yang nggak ada bedanya seperti seorang ibu kandung. Sosok kedua ibu yang harus aku pilih, apakah harus memilih ibu kandung atau ibu tiri berasa ibu kandung.

            Setelah berpikir matang-matang, aku memutuskan untuk tetap hidup bersama Nenek sampai selesai pendidikan sekolah menengahku. Sebagai seorang anak yang telah mengetahui keberadaan ibu kandungnya, tentu nggak gampang. Aku marah, aku benci dengan keadaan saat itu. Darahku seakan terhenti, hari-hariku seakan tak berpenghuni, hatiku kosong entah kemana akan ku bawa derita ini ! Tuhan….berilah hamba petunjuk yang terbaik. Berkahi hamba dengan cahaya-Mu agar kelak aku nggak salah memilih. Dan berilah hamba kekuatan untuk bisa menyatukan hubungan yang renggang orang tuaku, hubungan yang penuh dengan api kebencian, hubungan yang penuh dengan dendam saling menyakiti. Walaupun saat ini kenyataannya keluargaku tidak bisa bersatu kembali. Tapi baikkanlah hubungan persaudaraan di antara mereka demi kami anak-anaknya. Itulah secuil harapan anak yang tak berdaya saat itu. Hari-hari yang kulalui seakan berat, bahkan terkadang aku ingin lari dari kenyataan ini. Kenapa Allah harus mempertemukanku dengan ibuku ketika aku sudah merasa bahwa keluargaku utuh tanpa dan bahagia.

            Selama bertahun-tahun, papaku nggak bercerita membahas masa lalu mereka. Papaku membawa kami di tempat terasing tujuannya adalah supaya kami nggak mendengar dari siapapun tentang ibu kandung kami. Tapi papa lupa bahwa kakakku yang saat itu sudah beranjak usia 7 tahun yang mana dia udah paham permasalahan dan mengingat sosok mama kandungku. Hari itu papaku datang dari Maluku khusus untuk meyakinkan masalah yang disembunyikan selama ini. Belum lagi aku keluar sekolah, papa sudah menemui kepala sekolah untuk mengizinkanku pulang terlebih dahulu. Aku pun dipanggil oleh salah satu guru yang diperintah kepala sekolah untuk memanggilku. Aku yang nggak tahu duduk perkaranya kalau yang panggil adalah papaku, merasa ketakutan, salah apakah diriku, sampai kemudian Bapak kepala sekolah harus memanggilku untuk mengahadap ke meja beliau? Seribu pertanyaan mengahantui pikiranku saat itu, setelah masuk ke ruang kepala sekolah, sontak aku pun reflex dan langsung histeris setelah meliahat sopsok yang duduk bersama kepala sekolah. “ Papaaaa… kok papa nggak ngomong-ngomong kalau papa mau datang? Khan aku jadi takut, sepanjang jalan hatiku deg-degan karena di panggil kepala sekolah.” Ucapku sambil mendekati papa dan mencium tangannya. Setelah meminta ijin, kami pun pergi meninggalkan ruang kepala sekolah untuk pulang ke rumah nenek. Tapi salah, ternyata papa nggak mengajakku untuk pulang, melainkan menuju ke Rumah Makan Kurnia, saat itu di kota Bau-bau rumah makan Kurnia sangat terkenal. “ lho! Kok malah ke sini sich Pap,” kataku lirih. Sambil terus berjalan. Setelah duduk papa berujar.” Mau makan apa Nak?” aku yang nggak curiga dengan sikap papa, merasa biasa aja, karena wajar papa khan baru datang, mungkin mau menyenangkan hati anknya yang sudah lama nggk bersua. Akupun memesn nasi kuning, karena menu favorit di situ adalah nasi kuning. Dengan lahap, aku menyantap nasi kuning tersebut, sedangkan papaku Cuma memandangku dengan wajah sedih, seakan dia begitu kasihan padaku, tak disadarinya, butir air matanya jatuh dan dengan gesit membersihkan air mata itu sambil mengalihkan perhatianku. “ Nambah Nak?” ujar papa padaku. “ nggak ahh pa, udah kenyang. Ohh ya papa datang naik kapal apa? Kok papa nggak ngasih kabar terlebih dahulu? Kalau dikabarin kahan aku bisa jemput papa tadi.” Tanyaku sambil terus melahap makanan yang berada di piringku.

            Kata pertama akhirnya terucapkan dari bibir papaku, padahal selama makan tadi, papa Cuma melihatku tanpa kata yang terucap dibibirnya. “ Nak, papa sengaja datang ke sini khusus menemuimu. Karena papa dengar kakak kamu datang menemuimu dan memberitahukan tentang keberadaan ibu kandungmu. Supaya kamu nggak salah paham dengan semua yang ada. Sejak belasan tahun papa berusaha menyimpan kenyataan ini buatmu, tak lain adalah untuk kebaikan kalian anak-anakku, tapi kenyataannya terungkap dengan sendirinya.” Kata papaku dengan tatapan sedih ke arahku. Aku yang Cuma terdiam dan tertunduk, mendengarkan dengan seksama omongan papa. “ ya Nak, mama kamu masih hidup, dan yang selama ini merawatmu dengan penuh kasih dan sayangnya Cuma ibu tirimu. Tapi apalah arti ibu kandung dan ibu tiri! Toh kenyataannya yang merawat kamu sejak kecil dan yang selalu memperhatikan kebutuhan jasmani dan sekolah kamu adalah ibu tirimu. Tapi kalaupun toh kamu mau menemui ibu kandungmu, alangkah idealnya kalau pendidikanmu selesai nanti. Semua papa serahkan keputusan akhir padamu. Kalau kamu mau berangkat saat ini akan papa beri uang untuk tiket dan biaya perjalanan lainnya. Papa ngaku salah dan sekarang menerima sikap yang akan kau ambil.” Ucap papa, dengan nada agak merendah, seolah-alah berharap kalau aku harus bersabar untuk menemui ibu kandungku. Dari raut wajah papaku, terlihat banget betapa dia begitu berat melepasku. Karena selama ini memang papa rela menderita hanya untuk melihat anak-anaknya bahagia. “ Pa…jujur, jauh dari lubuk hati saya papa dan mama adalah sosok yang paling berarti buatku, sejak kecil kalianlah yang selalu ada mendampingi setiap langkah kakiku, tapi sebagai seorang anak nggak bisa dipungkiri bahwa aku juga merindukan sosok ibu kandungku, walau sekadar melihat bentuk aslinya. Dan sejahat-jahatnya mama buat papa, tapi buat kami , mama tetaplah mama yang sudah melahirkan kami dengan taruhan jiwa dan raganya. Tapi, aku juga sadar sesadar-sadarnya, bahwa untuk pindah sekolah ke Jakarta nggak segampang itu, jadi aku memutuskan, untuk menyelesaikan sekolah terlebih dahulu, baru kemudian pergi bertemu dengan mama.” Jawabku, berusaha meyakinkan Papa, supaya  beliau bisa tenang dalam mengais rejeki nanti.

            Setelah lama bertukar pendapat dengan papaku, kita pun memutuskan untuk pulang ke rumah nenek yag berada di tengah-tengah kota Bau-bau. Sesampainya di rumah, seolah nggak ada masalah yang terjadi. Keesokan harinya papa berpamitan untuk kembali ke Maluku Utara karena pada saat itu papa nggak ijin alias kabur. Dengan perasaan lega papa pulang meninggalkanku. Sedangkan aku dengan berat harus ditinggal papa lagi, padahal rasa kangen yang selama ini belum terbayarkan, papa udah harus pulang Karena tuntutan pekerjaannya. Setelah kepulangan papa, perasaanku yang awalnya berat, berubah menjadi ringan bahkan enteng karena kesediaan papa untuk melepasku pergi menemui mama. Itu adalah sinyal bahwa papa lambat laun sudah mulai melupakan pahitnya masa lalu rumah tangganya.

            Selama sudah mengetahui keberadaan mama, komunikasi kami mulai terjalin dengan baik. Seiap hari, mama selalu menelponku walau sekadar mananyakan kabar dan tugas sekolah. Untuk menarik simpatik, hamper tiap minggu mama selalu mengirimkan uang jajan via wesel di kantor pos. seolah nggak mau kalah, ibu tiriku pun selalu berusaha agar aku nggak melupakannya dengan cara ketika lagi longgar waktunya, ia selalu menyambangiku di Bau-bau walau Cuma beberapa hari saja. Ibu tiriku nggak pernah menjelek-jelekkan ibu kandungku, dia selalu mengatakan bahwa kelak ketika kamu menemui ibu kandungmu jangan pernah lupa bahwa di sini ada kami yang juga selalu menyintai dan merinduimu. Kamu memang nggak terlahir lewat rahim mama, tapi buat mama kamu adalah anak perempuannya mama satu-satunya. Mama bersyukur, Allah mempertemukan mama dengan kalian, kalian adalah anugerah terindah pemberian Tuhan untukku. Sejujurnya, aku tahu, bahwa mama begitu sulit menerima kenyataan ini, tapi dengan berbesar hati, dia rela berbagi kasih sayang itu.

            Saat itu, tepat di bulan Mei tahun 2003, pasca ujian nasional. Dengan restu Papa dan Mamaku untuk pergi ke Jakarta untuk pertama kalinya dengan maksud selain untuk bertemu dengan mama kandungku, juga untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Karena momen lulus SMA, kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan akademis yang lebih tinggi kerap dinanti-nantikan banyak remaja termasuk aku saat itu. Selai itu, system pendidikan perkuliahan yang berbeda dengan SMA dan jenjang yang lebih rendah lainnya, memungkinkan tiap mahasiswa bebas memilih jurusan dan mata kuliah yang akan diambil dan semuanya bisa disesuaikan dengan keuangan orang tua serta minat bakat seseorng. Aku pun langsung ke Jakarta tanpa di jemput. Aku ingin mandiri tanpa merepotkan mama di Jakarta. Dengan modal nekad dan percaya diri serta keyakinan yang tinggi, akhirnya aku bisa menemukan alamat mama. Ternyata mama sudah menungguku di depan apotek dekat rumah mama. Dengan bermodalkan foto pemberian kakak, akhirnya aku bisa bertemu dengan mama. Pertemuan pertama terasa biasa saja, karena udah terbiasa nggak ketemu jadi ya biasa aja. Itu yang ku rasakan saat itu, sedangkan mama, karena memang dia sudah memendam kerinduan yang teramat sangat, sehingga sejak pertemuan di jalan raya sampai ke rumah masih terus berlinang air mata di pipinya, ia nggak pernah menduga kalau takdir membuat anaknya kembali ke dalam dekapannya walau tak kecil lagi. Selama 16 tahun memendam rasa yang teramat dalam untuk bisa mendekap anaknya, akhirnya di tahun terakhir penantiannya berbuah manis.

            Hari demi hari ku lalui waktuku bersama mama dan adikku di Jakarta, Alhamdulillah kami cepat akrab, dan terasa nggak ada jarak di antara anak-anak mama. Waktu ku lalui terasa sepi tanpa mendengar suara papa dan adik-adaikku yang di Maluku, setiap kali aku merindukan mereka, aku selalu ke wartel untul sekadar mendengan kabar dan suara mereka. Nampak jelas dari suara mereka bahwa mereka sudah mulai muve on dari diriku yang kini telah dimiliki mama. Setelah puas menikmati suasana baru kota Jakarta, tiba saatnya untuk masuk kuliah, saat itu tujuan utamaku adalah Akper Fatmawati Jakarta Selatan, namun kuota penuh. Akhirnya untuk mengisi kekosongan waktu saya pun bekerja di Matahari Cilandak sambil mencari-cari kampus yang cocok buatku.

            Selama bersama mama, saya merasa ada jarak, hal itu wajar karena memang sedari kecil aku berada di bawah asuhan ibu tiriku, otomatis rasaku akan lebih dekat dengan ibu tiri. Tapi semua bisa ku atasi dengan selalu bercerita apapun yang saya alami sehari-harinya. Lambat laun hubungan itu mulai dekat dan mulai terasa. Mama selalu berusaha menjadi yang terbaik di tengah kekurangannya sebagai seorang ibu yang adil dalam membagi kasih sayang dengan adik-adikku. Sedangkan adik-adikku yang di Jakarta nggak pernah marasa iri padaku, seolah mereka sadar bahwa saat ini biarlah mama menjadi milikku seutuhnya. Tapi aku juga sadar bahwa keegoisanku pasti akan membuat mereka terluka, sekalipun nggak terucap. Kami bahagia dalam kebersamaan ini. Waktu terpisah 16 tahun terbayarkan lunas dengan keadaan kami saat ini. Setiap hari, mama selalu membuatkan makanan kesukaanku, dia berusaha membuatku senyaman mungkin. Seakan dia sadar bahwa waktu masa lalunya banyak terbuang dengan nggak bisa membelai langsung anak-anaknya karena takdir.

            Di lain tempat, papaku yang begitu kehilangan jatuh sakit karena memikirkanku. Aku pun mendapat kabar tersebut dari nenek. Karena papa nggak mau memberitahuku tentang keadannya saat itu. Bingung dan bimbang harus bagaimana langkah yang harus ku ambil. Apakah pulang menengok papa yang sedang sakit atau tetap bertahan karena beberapa hari lagi saya harus masuk kampus untuk pertama kalinya. Saya pun berinisiatif untuk pulang walau beberapa hari saja. Karena aku yakin obat ampuh papaku adalah kehadiranku. Tanpa berpikir panjang, aku pun memutuskan untuk pulang sementara. Atas restu mama, aku pun pulang dengan menggunakan kapal Pelni Rinjani. Setelah melakukan pelayaran selama 4 hari empat malam, saya pun tiba di Maluku dengan selamat. Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada mereka, aku pulang dengan membawa segudang kerinduan buat mereka. Tanpa salam dan permisi, aku langsung nyelonong masuk kamar. Papa yang saat itu terbaring lemah di atas ranjang, terlihat kurus dan pucat. Dia begitu menderita menahan sakit dan itu terlukis di raut wajahnya yang lesu. Pandangannya kosong, entah apa yang sedang dipikirkannya. Yang pasti dia begitu menderita. “ Papaaaaa…..” teriakku sambil berlari memeluknya yang terbaring tak berdaya. Orang-orang yang mendengar teriakku langsung berlari menuju kamar papa. “ Papaaaa….apa yang terjadi pada papa? Kenapa papa nggak ngabari keadaan papa saat ini? Kalau terjadi sesuatu pada papa, gimana aku bisa menghadapi hidup ini sendirian. Papaaaa ….papaaaa.” kataku sambil meraung dan terus menangis memeluk tubuh kurus itu. Papaku nggak bisa berkata satu kata pun. Hanya air mata yang mampu menggambarkan isi hatinya saat ini, apakah tangisan itu tangisan bahagia karena kepulanganku ataukah tangisan kesakitan menahan sakit yang dideranya.

            Seisi rumah terkejut bercampur senang, karena orang yang diharap-harap akhirnya bisa kembali mengisi keceriaan rumah ini lagi. Ibu tiriku yang juga begitu merinduiku karena sudah beberapa bulan nggak bertemu secara fisik denganku, memeluk dan menciumiku seperti orang yang baru kehilangan anak dan bertemu kembali. Maklum ini pertama kalinya kami berpisah dan nggak pernah ketemu. Pun demikian dengan penghuni rumah lainnya. Biasanya papa nggak pernah mau makan, setelah kepulanganku, Alhamdulillah papa udah mulai mau makan walau sedikit, lambat laun, keadaan papa semakin membaik, seolah benar kata orang bahwa obat mujarab buat papa adalah kehadiranku yang merupakan anak kesayangannya. Selama sebulan aku merawat papa, akhirnya papa bisa pulih kembali dan bisa masuk kerja seperti biasa. Setiap pulang kerja, orang yang pertama kali ditanyain adalah diriku, antara senang dan sedih, senangnya aku begitu disayangi, sedihnya karena terlalu besar rasa sayang itu sehingga menyiksa dirinya sendiri. Rasa sayangnya justru mengukung diriku dalam masalah.

            Usia paruh baya nggak melunturkan semangat Papaku untuk bekerja mencari nafkah keluarga. Dengan semangatnya mencari pundi-pundi rupiah untuk kami. Malam itu, setelah melihat keadaan yang tepat, akupun memberanikan diri untuk meminta ijin kembali pulang ke Jakarta dengan alasan kuliah. Karena sudah satu bulan aku nggak mengetahui perkembangan kampus saat ini. Akhirnya dengan berat, papa bisa ikhlas melepasku untuk meraih cita-cita. Aku pun kembali ke Jakarta dan menjalani perkuliahan sebagaimana biasa. Dengan semangat untuk merubah hidup yang lebih baik, dan bisa membanggakan orang tua, aku bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu. Tak terasa masa kuliah itu berakhir dan saya pun mendapat gelar S.Pd. dengan acara wisudaku, akhirnya kedua orang tuaku, yang tadinya saling membenci di pertemukan pada momen bahagia anaknya, tak ada lagi kebencian yang terselip, yang terpancar hanyala raut wajah bahagia karena keberhasilanku sebagai anak broken home, yang bisa membuktikan bahwa tak selamanya masalah orang tua akan berdampak negative pada hidu p anak-anak hasil cetakannya. Dan aku bisa membuktikan itu pada dunia. Bersamaan dengan gelar tersebut, di tengah berkumpulnya semua anggota keluargaku, aku pun di lamar oleh seseorang yang belum lama mengisi hari-hariku dan memotivasiku sehingga bisa menyelesaikan kuliah. Dia bekerja di instansi pemerintahan yang berdinas di Jakarta dan atas restu orang tua, kami pun menikah. Di Tahun 2010 ada penerimaan CPNS dan setelah menyelesaikan semua persyaratan pendaftaran, aku pun lulus seleksi CPNS. Tepat bulan Desember setelah melakukan tes dan aku dinyatakan lulus menjadi Guru. Di sinilah puncak kebahagiaanku, bisa mempertemukan orang tua yang selama ini bermasalah karena masa lalu mereka, dan bisa mempersembah prestasi karier pada orang mereka yang sudah menjadikanku menjadi pribadi yang tahan banting dengan gelombang kehidupan yang semakin hari semakin kencang tiupan angin dalam mengarungi hidup di dunia ini. Terima kasik ku pada orang tua terhebatku, yang sudah menjadikanku seperti sekarang. Benar kata pepatah, cinta orang tua sepanjang masa, dan cinta anak sepanjang gala.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen : Siapa Kamu ?

  Siapa kamu      Pagi yang sangat berembun karena semalaman turun hujan deras, setelah cuaca agak terang segerombolan ibu-ibu dan bapak-bapak bersiap untuk memulai aktivitas mereka. Pekerjaan sebagian besar orang di desa Insoe merupakan petani. Pagi itu tidak sengaja para ibu-ibu dan bapak-bapak menemukan sebuah koper besar berwarna hitam pekat, mereka bertanya-tanya milik siapa itu, kenapa koper sebagus itu di buang di ladang pertanian. Semakin penasaran dengan isi koper itu para petani pun mulai membukanya.      Terceganglah mereka bahwa isi dari koper hitam itu merupakan sesosok mayat wanita. Panik melanda seluruh petani, desapun menjadi geger dibuatnya. Kepala desa langsung memanggil petugas kepolisian, agar mereka bisa mengidentifikasi mayat tersebut. Petani dan warga setempat tidak berani mendekat, setelah polisi datang barulah seorang mayat perempuan itu dikeluarkan dari koper. Sungguh malang nasib perempuan tersebut, tubuhnya dipenuhi deng...

CERPEN PANGGILAN PADA HARI HUJAN

  CERPEN  PANGGILAN PADA HARI HUJAN Ho Ngoc Hieu Yuni diam-diam bergulir kursi roda ke jendela. Gerimis dari sore kemarin ke pagi hari ini masih belum berhenti. Dia duduk di sana dengan diam, tidak ingin melihat ke luar jendela bahkan sekali pun. Meskipun bunga-bunga, tanaman riang, pohon dan rumput, vitalitas subur di bawah hujan tipis tembus ... *** Itu sudah setengah tahun dari hari kecelakaan mengerikan terjadi. Dalam perjalanan dari sekolah pulang rumah, Yuni tertabrak dengan bus, kakinya dihancurkan hingga harus mengamputasi. Semua mimpi, ambisi dari seorang gadis berusia lima belas tahun dihancurkan oleh kecelakaan tragis itu. Dari seorang gadis manis, ramah, sering menyenangkan dan percakapan dengan semua orang di kelilingnya. Sejak waktu itu, Yuni tidak mau lagi berbicara, pertemuan atau hubungi dengan orang yang lain, kecuali orangtuanya. Yuni berpikiran bahwa hidupnya begitu berhenti, semua hal yang baik dalam kehidupan akan tidak pernah datang sama dia lagi ....

Topeng Monyet

  Topeng Monyet Oleh: Kholilatuz Zuhria “Dung dung, drrung dung dung!” “Dung dung, drrung dung dung!”   Inilah gending yang paling akrab di telingaku. Bukan akrab seperti kalian dengan teman-teman kalian. Tapi aku terpaksa mengakrabinya karena gending inilah gending yang paling lama kudengar. Selama yang dapat aku ingat, hampir tiap hari aku mendengar gending itu. Tak tanggung-tanggung mungkin lebih lama dari waktu manusia bekerja atau menuntut ilmu tiap hari. Entahlah, aku ini apes atau beruntung. Yang jelas, aku dibeli Tuanku di pasar hewan di dekat Alun-alun Tugu saat aku belum genap 1 tahun. Sejak saat itu, aku mengabdi padanya. Selebihnya, aku tidak bisa mengingat. Dari mana aku, kemana orang tuaku, aku tidak ingat lagi. *** “Aya, Kopral! Salto ke belakang!” Teriakan Tuanku sontak mengagetkanku yang asyik mengunyah butir-butir kacang pemberian penonton. Aku pun salto berkali-kali di hadapan puluhan anak kecil. Mereka tepuk tangan nampak gemas melihatku, bebe...