Langsung ke konten utama

INTROVERT

INTROVERT

Fahmi Nur Fawaid 

Burung sudah mulai berkicauan tanda hari sudah berganti, aku pun terbangun dari tempat tidurku merenggangkan badan berolahraga pagi seolah menjadi rutinitasku. Pagi hari aku berlajan menuju kamar mandi bersiap mandi untuk memulai hari yang cerah ini. Setiap hari aku berangkat ke sekolah hanya berpamitan ke ibu sedangkan ayahku yang pegawai kantor harus berangkat pagi untuk menghindari macet di kota Sumbersari

Namaku Andi setiap hari aku berangkat ke sekolah sendiri mengingat jarak tempuh menuju sekolah tak jauh dari rumahku aku putuskan berangkat sendiri dengan sepeda ontel yang aku puyai, kebiasaan mandiri dan suka sendiri melekat kepadaku entah mengapa teman-teman kelasku mengira aku mempunyai dunia sendiri yang tak asik diajak bermain bersama padahal aku sangat ingin bermain bersama dengan mereka temen kelasku. Setiap kali aku memulai mengajak berbicara, menjalin pertemanan dan mencoba bermain bersama entah mengapa aku merasa bahwa mereka tak senang dengan keberadaanku

            Aku ingin menjadi seperti mereka bisa bermain bersama dan menjalin pertemanan dengan leluasa seolah-olah menjadi burung yang bisa terbang bebas di angkasa hal ini tentu berbeda denganku yang terbelenggu dan terperangkap di dunia imajinasiku. aku merasa sangat iri melihat kebersamaan mereka dan ketika waktu mereka membentuk geng bermain di kelas dan mengetahui bahwa hanya aku saja yang tak diajak aku sedih, kecewa dan hanya bisa menangis dalam diam namun apa yang bisa kulakukan, aku hanyalah seorang introvert yang tak pandai menjalin pertemanan.

Suatu hari, kelasku kedatangan murid baru pindahan dari kota Pekanbaru namanya Aldi yang sering aku panggil al, awalnya aku mengira dia sama seperti temen-temanku dikelas yang kurang peduli dengan keberadaanku sampai aku tak menyangka dia akan menyapa dan mengajak aku berkenalan terlebih dahulu. aku sangat senang saat itu, akhirnya ada yang ingin berteman denganku, sejak saat itu aku dan al berteman dan mulai melakukan kegiatan bersama  

Beberapa bulan telah berlalu, waktu memasuki jam istirahat akupun pergi ke toilet karena ingin buang air kecil. Dari kejauhan aku melihat temanku al sedang dikerumuni oleh geng di kelasku. Aku pun diam-diam menghampiri dan menguping percakapan mereka. Aku kaget ketika temanku ini di tanya mengapa masih saja berteman denganku sambil meninju perutnya, dari percakapan mereka akhirnya aku menyadari bahwa ternyata bukan kali ini saja temanku diperlakukan seperti itu. Sambil memegang perut dan menahan rasa sakit akhirnya temanku mejawab bahwa tak ada salahnya berteman denganku dia menjelaskan bahwa aku itu orang yang baik dan tidak aneh seperti apa yang mereka pikirkan saat ini.

Ketika mendengar jawaban itu, mereka nampaknya sangat marah dan lanjut memukuli temanku al. Aku ingin bertindak tapi entah mengapa kakiku tak mampu bergerak ke arah mereka. Aku hanya bisa diam terpaku dan menangis mengetahui temanku dipukuli gara-gara aku sambil menutup mata dengan kedua tangan aku menjatuhkan diri ke lantai dan duduk merungkup tak berdaya menyesali dan membenci kelemahanku ini, dalam rasa bersalah, sesal, dan sedih yang teramat, serta rasa tak mau kejadian ini terulang kembali kepada al aku putuskan untuk menjauhinya.

Keesokan harinya, aku melihat al menghampiriku dan dia pun tersenyum tak nampak ada jejak kesakitan di wajahnya. Aku mencoba menjauh darinya, hari demi hari aku tetap berusaha menjauh dari al berbagai alasan sudah aku utarakan dan lakukan namun dia terus saja mendekat kepadaku hingga aku pun menyerah untuk menjauhnya dan pertemanan kita pun terjalin kembali seperti dahulu. setelah kajadian itu, kami saling berbagi rasa entah kebahagian maupun kesedihan. Aku pun mulai bisa menikmati masa sekolah dengan nyaman karena kehadiran al yang membuat aku tak merasa sendiri lagi di sekolahan ini. kami memiliki hobi yang sama membaca dan mengoleksi novel itulah hobi kami. banyak waktu yang kami habiskan bersama untuk membaca novel atau pergi ke toko buku untuk memperbanyak koleksi novel kami

Waktu pun terus berlalu, saat itu jam menunjukan pukul lima sore dan diluar hujan sedang turun dengan lebat, entah mengapa pada saat itu aku merasa ada yang tidak enak di benakku. dan benar saja 30 menit setalah itu aku mendapat telepon dari ibunya al, aku mengira percakapan yang terjadi hanya berkabar biasa saja tapi ketika mengangkat telepon tersebut terdengar suara isak tangis. akupun menanyakan apa yang terjadi dengan nada penasaran, ibu temanku ini pun menjelaskan ternyata al temanku ini meninggal karena kecelakaan sepeda motor. Mendengar penjelasan itu, aku tidak percaya dan menanyakan kembali namun jawabannya pun tetap sama.

Segera aku menutup telepon dan tanpa pikir panjang langsung berlari menuju rumah temanku yang jaraknya kurang lebih 4 KM dari rumahku. Hujan badai kuterjang dan jarak pun tak kupikirkan, selama perjalanan aku berkata dalam hatiku, “tuhann…mengapa?? Aku hanya ingin memiliki seorang teman, mengapa engaku merebut temanku satu satunya ini.” Aku menagis sepanjang perjalanan dan ketika sampai di rumah temanku ini, benar saja bendera kuning telah bertengger di rumahnya. Akupun langsung masuk ke rumahnya dan saat itu pula aku melihat jenazahnya.

            Aku menangis sejadi-jadinya, hatiku hancur melihat ini. Mengapa hal ini terjadi kepada temanku satu-satunya. Akupun harus merelakan kepergiannya dan saat itu ibunya menceritakan kehidupan temanku ini sebelum mengenalku. dari situ aku menyadari bahwa dia juga sama sepertiku di sekolah lamanya, ia selalu dikucilkan dan ketika bertemu denganku ia bisa menjadi lebih baik lagi. Dia sering menceritakan hal-hal kebersamaan denganku kepada ibunya. Akupun terharu mendengar itu, ternyata kehidupan introvertku ini dapat membuat orang lain bahagia. Aku menyadari bahwa segala sesuatu pasti ada manfaatnya. Aku hanya bisa mendoakan semoga temanku tenang disana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen : Siapa Kamu ?

  Siapa kamu      Pagi yang sangat berembun karena semalaman turun hujan deras, setelah cuaca agak terang segerombolan ibu-ibu dan bapak-bapak bersiap untuk memulai aktivitas mereka. Pekerjaan sebagian besar orang di desa Insoe merupakan petani. Pagi itu tidak sengaja para ibu-ibu dan bapak-bapak menemukan sebuah koper besar berwarna hitam pekat, mereka bertanya-tanya milik siapa itu, kenapa koper sebagus itu di buang di ladang pertanian. Semakin penasaran dengan isi koper itu para petani pun mulai membukanya.      Terceganglah mereka bahwa isi dari koper hitam itu merupakan sesosok mayat wanita. Panik melanda seluruh petani, desapun menjadi geger dibuatnya. Kepala desa langsung memanggil petugas kepolisian, agar mereka bisa mengidentifikasi mayat tersebut. Petani dan warga setempat tidak berani mendekat, setelah polisi datang barulah seorang mayat perempuan itu dikeluarkan dari koper. Sungguh malang nasib perempuan tersebut, tubuhnya dipenuhi deng...

CERPEN PANGGILAN PADA HARI HUJAN

  CERPEN  PANGGILAN PADA HARI HUJAN Ho Ngoc Hieu Yuni diam-diam bergulir kursi roda ke jendela. Gerimis dari sore kemarin ke pagi hari ini masih belum berhenti. Dia duduk di sana dengan diam, tidak ingin melihat ke luar jendela bahkan sekali pun. Meskipun bunga-bunga, tanaman riang, pohon dan rumput, vitalitas subur di bawah hujan tipis tembus ... *** Itu sudah setengah tahun dari hari kecelakaan mengerikan terjadi. Dalam perjalanan dari sekolah pulang rumah, Yuni tertabrak dengan bus, kakinya dihancurkan hingga harus mengamputasi. Semua mimpi, ambisi dari seorang gadis berusia lima belas tahun dihancurkan oleh kecelakaan tragis itu. Dari seorang gadis manis, ramah, sering menyenangkan dan percakapan dengan semua orang di kelilingnya. Sejak waktu itu, Yuni tidak mau lagi berbicara, pertemuan atau hubungi dengan orang yang lain, kecuali orangtuanya. Yuni berpikiran bahwa hidupnya begitu berhenti, semua hal yang baik dalam kehidupan akan tidak pernah datang sama dia lagi ....

Topeng Monyet

  Topeng Monyet Oleh: Kholilatuz Zuhria “Dung dung, drrung dung dung!” “Dung dung, drrung dung dung!”   Inilah gending yang paling akrab di telingaku. Bukan akrab seperti kalian dengan teman-teman kalian. Tapi aku terpaksa mengakrabinya karena gending inilah gending yang paling lama kudengar. Selama yang dapat aku ingat, hampir tiap hari aku mendengar gending itu. Tak tanggung-tanggung mungkin lebih lama dari waktu manusia bekerja atau menuntut ilmu tiap hari. Entahlah, aku ini apes atau beruntung. Yang jelas, aku dibeli Tuanku di pasar hewan di dekat Alun-alun Tugu saat aku belum genap 1 tahun. Sejak saat itu, aku mengabdi padanya. Selebihnya, aku tidak bisa mengingat. Dari mana aku, kemana orang tuaku, aku tidak ingat lagi. *** “Aya, Kopral! Salto ke belakang!” Teriakan Tuanku sontak mengagetkanku yang asyik mengunyah butir-butir kacang pemberian penonton. Aku pun salto berkali-kali di hadapan puluhan anak kecil. Mereka tepuk tangan nampak gemas melihatku, bebe...