KAMU DAN KENANGAN
HERMAN GUSTI
Tamparan hujan kembali bertamu dijendela kamarku. Saat jingga yang seharusnya kucicip tergantikan gigil yang tiba-tiba terdengar renyah diruang pengap ini. Siapa yang tahu jika aku selalu sibuk dan ricuh merapikan sesak yang meleset pada deruh hujan yang membawaku pada sesosok lelaki yang selalu jatuh pada kepalaku.
Tak lain dan tak bukan lelaki yang membuatku tak bisa lupa itu adalah teman seangkatanku saat masih sekolah dasar, bisa diperkirakan 15 tahun yang lalu saat aku dan dia yang masih lugu-lugunya mengigit jajan tanpa tahu malu di setiap jalan pulang menuju rumah. Aku dan dia searah jika pulang sekolah sehingga aku tidak akan pernah lupa jika raut wajahnya yang sudah tampan saat ini menyapaku setelah kami sudah menjadi remaja dewasa yang siap untuk jatuh cinta.
Entah pertemuan yang seperti apa, aku dan dia jatuh cinta dengan gilanya, menjadi paling bahagia diantara pasangan romantis abad ini, menghiraukan setiap tutur kata orang-orang yang menganggap kami tidak cocok menjadi pasangan. Tidak masalah dengan perkataan buruk dari orang-orang, kami selalu menjaga telinga dan hati agar tidak termakan gosip-gosip yang menyakiti telinga kami bahkan batin.
Lelaki tampan itu adalah Gael, nama yang cukup mempesona untuk lelaki seperti dia.
“Ara? Sapa suara serak basah dari belakangku.
“Hei kamu Gael, sedang apa kamu disini?” jawabku dengan kagetnya.
“Aku membeli cake untuk temanku, hari ini ulang tahunnya, biasalah kejutan. Sedang apa kamu disini ?”
“ aku membeli kue untuk ibu, kebetulan ibu juga berulang tahun hari ini. Gimana kabar kamu Ga, sudah sekian lama kita tidak bertemu setelah kita tamat sekolah dasar.”
“Puji Tuhan kabarku baik.” jawabnya.
Dalam hatiku sungguh terkejut bagaimana bisa Gael sungguh tampan seperti ini. Kami jarang bertemu setelah lulus sekolah dasar karena Gael tiba-tiba harus pindah rumah, ayahnya adalah seorang pengusaha yang harus siap gonta-ganti rumah bila ada pekerjaan di luar kota. Disinilah awal kami membangun relasi yang tersendat sekian tahun. Kamipun bertukar media sosial juga nomor handpone.
Setelah pertemuan tak berencana itu, kami sudah tidak menjadi dua orang asing lagi. Kebetulan kami juga berkuliah di universitas yang sama, ia ditransfer dari universitas yang ada di Surabaya. Kami selalu pulang kuliah bersama, weekend, ke tempat penjualan bukupun bersama-sama, sehingga kami berdua tidak pernah benar-benar sendiri.
Malam yang menegangkanpun terjadi, seakan aku tidak diperuntukan untuk berbicara, menjadi lebih gugup seakan aku baru berlari beratus-ratus meter, jantungku berdetak lebih cepat tidak seperti biasanya.
“Ra, coba kita duduk lebih dekat!” ucapnya serius
“Kamu kenapa Ga, tidak seperti biasanya kamu seserius ini.” Jawabku
“Udah, sini dekat aku.”
Ia menariku lebih dekat, sampai kepalaku terbentur pada dada bidangnya, jantungku berdegub lebih kencang. Bagaimana bisa seorang lelaki sabayaku yang kuanggap sahabat membuatku gugup setengah mampus. Apa sebenarnya perasaanku ini?.
“Ra, aku menyukaimu.” Ucapnya spontan.
Aku hening, bisa ditebak raut wajahku saat ini, menjadi lebih merah dan terkejut.
“Aku sudah menyukaimu saat kita bertemu kembali, aku janji akan ada disetiap moment penting dalam hidup kamu, apa kamu mau jadi pacarku?” tambahnya.
Setelah berpikir panjang, melihat ketulusan yang ada pada matanya, aku mengangguk tanda setuju. Tepat dihari itu kami syah menjadi sepasang kekasih. Selama menjalani perasaan ini, aku semakin jatuh dan jatuh cinta padanya terus menerus. Setiap sesuatu yang ia lakukan membuatku tidak pernah berhenti bahagia.
Hingga pada suatu siang yang begitu menyengat, aku sendirian menyesap jus alvocado di taman.Tidak dengan Gael, entah dimana dia sekarang, sejak seminggu lalu dia tidak pernah menyempatkan diri untuk beradu tawa denganku. Saat ini adalah hari-hari dimana aku dan Gael sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas akhir dalam perkuliahan. Tidak disangka kami berdua akan menjadi alumni di universitas ini.
“ apakah Gael sedang diruang baca ya?” tanya batinku.
“aku merindukannya.” Sedih batinku
Aku bergegas menghubunginya namun dering telepon tidak pernah beralih dengan suara serak basah yang tidak tabuh bagi telingaku. Hampa sudah. Seperti inikah cinta? Kau harus siap jatuh. Jatuh hati lalu jatuh karena patah hati. Bukan tentang diduakan saja setelah menjalin, seseorang akan merasa patah ketika pasangannya tak pernah berkabar. Tapi pikirku tak pernah sampai pada hal semacam itu, kami ditakdirkan untuk saling memahami. Toh dia punya aktivitas pribadi yang harus ia lakukan tanpaku.
Hari-haripun berlalu impian kami berdua memakai toga terlaksana dengan baik. Begitu bahagia tersirat lewat wajah kecilku itu, tapi tidak dengan Gael ada suatu hal buruk yang menimpanya, entah apapun itu aku tidak berani bertanya, menuggu Gael bercerita adalah hal yang terbaik dalam hubungan cinta kami.
“Ra, aku mau bicara! Panggilnya dengan suara ragu.
“ Bicara apa Ga?”
ketakutan dihatiku semakin menggila, tatapannya seakan tak ingin lepas sedetikpun dariku. Aku seakan terbawa dalam zonanya, ingin menangis namun tak tahu sebabnya.
“Aku disuruh ibu untuk bekerja bersama ayah di Swiss, kau jangan khawatir Ra, kita akan selalu berkirim kabar, kumohon pahami aku.” Sedihnya
Tidak ada jawab yang kuungkap lagi seakan bibirku dikekang dengan sangat kuat.
“Tidak.. tidak aku tak boleh melarangnya untuk pergi, ini seharusnya hal terbaik, aku tak boleh sedih, toh Gael akan kembali lagi dan aku tak tahu waktunya” batinku
Aku dan Gael berbicara dari hati kehati, Gael menjadi lebih bijak menenangkan aku,membuatku lebih paham akan situasi, sebab itu juga adalah cita-cita Gael yang patut aku bangga, sebab iya dipercayakan untuk menjadi partner ayahnya sendiri. Sebenarnya ini adalah berita diantara sedih dan gembira, aku tak tahu harus memasang raut seperti apa di hadapan Gael. Pada hakikatnya Gael akan tetap beranjak dari kenanganku disini.
Gael pun pergi, aku tidak tahu harus dengan siapa mengadu, Gael berjanji akan ada disetiap moment penting dalam hidupku, janji yang selalu kuingat dalam lubuk terdalamku.
Aktivitaspun berubah setelah Gael pergi, weekend yang seharusnya bersama dengan gandengan tangan tergantikan tatapan lewat layar handponeku. Tak apa selagi Gael masih tetap ada. Sesekali Gael datang mengunjungiku setahun dua kali, untuk merayakan hari jadi kita ataupun hari kelahiran kita. Aku merasa tidak terlalu kesepian dengan kondisi hubungan seperti ini.
Tahun tahun pun berlalu, berita dukapun melanda diantara kami berdua, lebih tepatnya Gael, ayahnya meninggal dunia karena serangan jantung. Perusahaan mereka terlilit hutang dan bangkrut, aku merasa tak berdaya setelah mendengar berita ini. Selama dalam lingkaran kedukaan aku tak pernah berhenti mengabari Gael agar selalu kuat dan tabah.
Namun segala sesuatu berpindah arah setelah kejadian kedukaan itu. Gael menghilang dengan seketika, media sosialnya ditutup dan nomor teleponnya tak pernah tersambung. Aku semakin takut dengan keadaan tidak jelas ini. Menghubungi orang-orang terdekatnya namun jawabannya adalah Gael sedang tidak ingin diganngu.
Sampai-sampai keadaan memaksaku untuk mengirim surat untuk Gael, namun harapan punah, tak ada satupun surat yang terbalas. Aku seperti hilang akal sebab sudah puluhan kali tidak pernah terbalas surat namun tetap kukirimi surat itu. Sampai akhiranya aku dengan percaya diri mengikutinya ke Swiss. Dengan segala ketidaktahuanku akan dunia luar negeri, aku tetap meyakinkan diri untuk bergegas kearahnya. Syukur saja aku masih punya alamat rumahnya saat kami masih sering berkabar, hal ini tidak membuatku susah saat mencari alamat Gael. Sampailah aku tepat didepan rumahnya. Aku dengan tegap masuk keperumahan megah itu, semua kepercayaan dalam diriku membulat saat menginjak halaman rumah itu.
“Ra, kamu? Ngapain disini, kamu tak seharusnya disini? Ucap suara yang begitu kurindukan.
“Ga,...........”
Belum sempat ku melanjutkan pembicaraanku, aku di bentak habis-habisan oleh Gael. Sungguh ini bukan seperti Gael yang kukenal. Gaelku adalah Gael yang lembut dan penuh kasih sayang. Ibunya yang ada disitu membantuku memapah karena tak sanggup melihat perilaku Gael saat ini. Dengan hampa aku pulang ke Hotel disekitar situ, hatiku terpukul. Bagaimana bisa Gael sekeras itu.
Esok harinya, aku mendapati Gael berdiri didepan pintu kamarku, sebab aku berencana pulang ke Indonesia saat itu juga.
“Ra, untuk segala sesuatu maafkan aku, tapi hal ini harus kita selesaikan” ucapnya
“Apa yang perlu kita selesaikan Ga, keputusan apa yang harus kau katakan sepagi ini?” tanyaku
“Mungkin aku hanya perlu membiarkan kamu” Ucapnya
“Membiarkan apa Ga?”\tanyaku lagi
“Membiarkanmu terlepas” jawabnya
Mungkin ini adalah keputusan Gael yang paling benar, perginya aku ke Swiss kali ini membuatku paham bahwa yang selalu dekat tak mungkin akan terus terikat, aku dan Gael harus bisa saling merelakan, seberapa patahnya hatiku, aku harus tetap pergi dari hadapannya.
Akhirnya aku kembali ke Indonesia dengan perasaan tak karuan, bagiku Gael adalah keyakinan terakhir dalam hidupku, namun apalah dayaku. Tuhan tidak memberikan Gael untuku. Setiap jalan pulangku, kepalaku berkecamuk dengan kenangan bersama Gael. Tetesan air mata seharusanya tak jatuh dengan ngerinya karena ini. Berulang kali aku memukul dada agar yakin bahwa aku bisa tanpa Gael saat ini.
Setibanya di Indonesia, aku tidak mampu menahan sedih sebab setiap sudut di tempat ini adalah bagian dari kenangan aku bersama Gael. Setiap hujan yang turun adalah sedih bagiku. Hujan selalu membuatku basah karena air mata, entah suasana macam apa saat hujan, kedua pipiku tidak pernah selalu kering.
Hari-hariku selalu berjalan seperti seadanya, bekerja lalu pulang, rebah dan mengenang Gael. Sampai saat ini Gael tak pernah selalu hadir dan berkabar setelah kejadian hebat di Swiss itu. Aku cukup sibuk melihat pintu rumahku. Apakah ada seseorang yang memencet bel yang kemungkinan adalah sesosok Gael yang amat kucintai. Namun itu hanyalah ilusi belaka.
Sesekali aku berbicara pada diriku.
“Perlukah aku membeli mesin waktu, agar segala sesuatu tentang aku dan Gael bisa terulang, bila perlu terjembak bersamanya di setiap detik waktu, agar aku tidak sesedih ini setelah Gael benar-benar pergi, setidaknya aku masih mampu memutar waktu untuk sekedar mengobati rindu”.
Komentar
Posting Komentar