MEMBELAH TANPA PISAU
Tegukan air kelapa yang membasahi tenggorokan, tetes demi tetes terahir mereka tenggak sampai tak ada sisa sama sekali. Kelapa yang di kupas dengan batu lancip yang di peroleh dari pohon kelapa yang terletak di pingir sungai. Begitu nikmat dirasakan setelah mandi di sungai. Wajah polos dan canda tawa mereka riang terdengar setelah melihat Budi mukanya belepotan oleh setabut kelapa.
Budi berkata ,“Cari batu besar, ayo belah kelapanya”.
Iman pun menjawab, “Di pertigaan jalan ada bukan?”.
“Jalan yang mana Man kamumah?” Budi menimpali.
“Itu yang searah dengan jalan pulang, pelupa kamumah ah” kata iman kemudian.
“Udah ayo cepet pake baju, …..ayo” Budi menjawab kata-kata iman.
Mereka pun mengambil baju sekolah mereka dan mengambil tas lalu pulang sambil menenteng kelapa masing-masing yang akan mereka belah. Dijalan mereka berbincang dan bercanda kecil yang seperti permainan sederhana. Iman memulai permainan dengan berkata, “Yang paling belakang paling bodoh”. Iman yang berada paling depan sambil tertawa melihat Wawan yang sedang santai berjalan di belakang mereka. Wawan pun berbegas menyusul dan Budi saat itu langsung menyalip Iman. Mereka terus saling menyalip sampai Wawan paling depan.
Lalu muncul ide dalam benak iman karena merasa sudah tertinggal, “Yang paling depan suka sama Bu Kuwi (bu kuwi adalah nama orang gila)”. Dan seketika pula Wawan yang berada paling depan menghentikan langkahnya, lalu budi melangkah ke belakang sampai mereka bertiga sejajar. Mereka diam tanpa kata dan seolah bingung karena mereka semua berdiri sejajar. Suasanan hening dan mereka bertiga saling melihat satu sama lain dengan pikiran dibenaknya masing-masing. Wawan yang dari tadi menjadi korban dalam permainan ini kali ini punya ide. Ia tersenyum kemudian lari sendiri dan berkata, “Yang paling ahir sampai pertigaan pus up sepuluh”.
Iman dan Budi kemudian berlari menyusul Wawan, Wawan yang curang saat itu sudah tak bisa lagi dikejar. Tinggal Budi dan Iman saat ini yang harus memperebutkan tempat terssebut. Siapa yang harus di hukum dan siapa yang tidak ditentukan saat ini.
Budi berlali kencang di jalan pesawahan dengan lebar lebih-kurang satu meter setengah, suara pensil dan peralatan tulis lainnya berisik terdengar dari dalam tasnya. Tangannya yag memegang kelapa dan tasnya yang tak pas di pundaknya tidak membuatnya harus membagi fokus pada beberapa aktifitas. Budi harus fokus pada tas yang selalu melorot ke kanan dan kekiri karena ukuran tali penggedongnya terlalu longar dan tangan depannya tak bisa membenarkannya karena jika salasatu tangannya terlepas dari kelapa, maka kelapanya akan jatuh ke tanah. Saat Budi sedang sibuk dengan tasnya, Iman yang kelapanya memiliki pucuk mempunyai keuntungan untuk membenarkan tasnya sambil berlari. Ia memegang pucuk kelapa dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menarik tali pengukur yang kanan dan yang kiri. Setelah selesai melakukan itu ia kembali memegang kelapa dengan kedua tangannya.
Budi yang berada di depan Iman berhenti sejenak dan mencoba membenarkan tasnya terlebih dahulu, lau dalam hitungan detik Iman berada sejajar dengan BudI yang baru saja mulai berlari. Balap lari sengit pun mulai terjadi, iman saat itu bisa menyusul budi sampai berada jauh lima langkah lari didepan Budi. Tapi kemudian Budi tak kalah semangat, ia mencoba menaikan kecepatannya untuk mengejar budi, tas yang sudah nyaman membuatnya bisa menyusul Iman.
Tinggal dua langkah lagi Budi dapat menyulul Iman, Iman kemudian menoleh ke belakang dan melihat budi sebentar lagi akan mengejarnya. Iman menambah kecepatannya dan Budi pun sama demikian. Dan pertigaan tenpat finis mereka sudah tinggal 50 meter lagi. Wawan yang sudah berada disana mencoba menyemangati mereka dengan riangnya karena sudah lebih dulu disana.
“Ayo… ayo.. haha… pus up yang terahir” Wawan berbicara sambil teriak.
Iman dan Budi pun semakin kencang, kepala Iman sampai condong ke belakang karna tubuhnya tidak seimbang dengan kecepatan lari dengan posisi tangan yang memegang kelapa. Tapi ternyata Budi berlari lebih cepat dan berada setengah langkah di depan Iman, Budi terus berlari meyusul Iman. Sampai ia berada 5 langkah di depan Iman. 10 meter lagi mereka sampai dan Budi sudah tersenyum karena sebentar lagi finish. Budi tersenyum sumringah sambil mebayangkan Iman di pus up sepuluh sambil di ejek bersama Wawan.
Di tengah bayang-bayang hayalan, Budi berlari tidak dengan kesadaran. Kakinya melangkah dengan ringan, pikirannya sudah merasa menang, matanya seolah lambat terpejam dan geraknya seolah sudah berada di tempat tujuan karena khayalannya. Tapi budi membuat kesalahan, di depannya ada kerikil berdiameter dua centi meter yang ia injak tanpa sadar hingga Budi kehilangan keseimbangan. Lari Budi jadi melambat, kelapa yang dipegangnya hampir lepas dan ia harus berhenti sejenak untuk menangkap kelapa yang hampir jatuh itu.
Iman mengambil kesempatan itu dan menyalip Budi sambil tertawa kecil, Ia menoleh kepada Budi dengan senyuman yang meledek sambil terus berlari kencang. Dan iman akhirnya memenangkan permainan yangmereka sepakati hukumannya.
Wawan menertawakan Budi yang hampir menang itu sambil berbicara, “Pus up ya Bud”. Budi pun tak menyesali kekalahannya dan tertawa bersama wawan, budi kemudian sedikit mengomel sambil terwa riang, “Bentar lagi aku menang itu!!!”.
“Terima saja hukumanmu, aku yang hitung ya” kata Wawan.
“Haha.. ayo taro kelapa sama tasnya” Iman berbicara sambil berjalan mendekati Budi dan Wawan.
Budi kemudian melakukan perintah mereka lalu bersiap untuk pus up dengan hati ikhlas dan riang. Budi memulai pus up-nya dan Wawan mulai menghitungnya tapi ia kemudian mengusili hitungan pus up budi.
“es.. a.. te.. u…. sa-tu” setiap huruf oleh Wawan di hitung dengan satu kali pus up dan kalimat satu di hitung dengan satu, wawan mengatakan di pus up Budi yang ke tujuh bahwa Budi belum dua hitunganpun sambil tertawa. Budi nampaknya tak menghiraukan Wawan dan menyelesaikan hitungan pus up nya secara normal.
“Ayo buka kelapanya” kata budi sambil berdiri setelah menyelesaikan pus up.
“Yang kalah aja duluan” kata iman kemudian dengan senyum meledek.
“Ada juga yang curang lari duluan” kata budi kemudian.
“Ah, sendiri juga bisa bukan?” wawan menimpali sambil tersenyum.
Mereka bertiga mengambil kelapa mereka masing-masing, dan menghantamkan kelapa itu ke batu besar yang berada di samping jalan dan tepat berada di atas parit sawah yang kira-kira dua puluh centi meter menjorok ke jalan. Wawan mengambil bagian pertama, sementara budi dan iman beristirahat sambil melihat wawan memecahkan kelapanya.
Lemparan pertama yang wawan pecahkan hanya meberikan efek lecet pada permukaan sabut. Lanjut ke lemparan yang kedua, wawan berancang-ancang dan kemudian melemparkan kelapanya dengan keras ke batu itu. Kelapa itu pun mulai retak, tapi belum kedalam hanya sabut kelapanya saja yang retak.
Lemparan ke tiga wawan berharap ini yang terahir, “Liatin nih anak-anak” kata Wawan, lalu ia melemparkannya lebih keras dari yang kedua dan pertama, kelapa itu berputar setengah putaran sebelum menghantam batu, bagian sabut yang tadi sudah retak tepat terkena batu itu. Kelapa itu terpental kesebelah kanan dan menggelinding di tanah sebanayak 7 kali sangking kerasnya lemparan Wawan. lalu Wawan langsung mengambil kelapa itu. Ternyata tenaga wawan sangat kuat sampai kelapa hanya tiga kali lemparan sudah pecah dan tinggal ia tarik di bagian yang retaknya untuk membelahnya menjadi dua.
Iman dan Budi bergantian melemparkan kelapanya dan Wawan sudah siap untuk menyantap kelapa yang tinggal ia makan itu. Ia mengambil bagian tempurung retak untuk menjadikannya sendok pengeruk kelapa. Wawan menikmati kelapanya sambil melihat iman dan budi yang masih berusaha memecahkan kelapa mereka masing-masing.
“Kenapa tadi golok Bapak ku tak aku ambil ya” kata Budi sambil melempar kelapa dengan kencang. “Aduh.. kalau pake golok itu gak seru, enakan kaya gini, seru, kaya orang kota aja harus pake golok segala buka kelapa juga” wawan menjawab kata-kata Budi sambil memakan kelapanya.
Budi berkata kemudian. kalau kelapa ini tidak di kupas terlebih dahulu dengan golok,kita tak usah susah payah melempar kebatu seperti ini, tinggal kupas saja serabut kelapa dengan batu lancip sampai tempurung menjadi bulat. Kita bolongi sedikit ujung kelapa yang ada bolong kecil berdiameter 3 mili meter mungkin. Kemudian setelahnya kita tinggal menghantamnya sekali ke tanah atau batu keciljuga langsung belah.
Tapi Iman punya teori lain. iman berkata, kalau aku sing tak usah cape-cape kaya gitu Bud, kupas saja sebagian sampai terlihat tempurung. Membentuk satu persepuluh bentuk bola pada kelapa maksud Iman. Setelahnya kita tinggal pukul pake batu lancip jika tempurungnya telah terlihat.
“Ah, sudah makan saja kalian tinggal makan juga banyak omongnya ya” kata Wawan sambil menghabiskan potongan danging kelapa terahirnya. Kemuidan ia berdiring dan berkata pada teman-temanya, nanti kalau besok dapet atau naik sendiri kalian pake cara kupas kelapa kalian. Aku tolong di kupasin ya!.
“Yuk pulang” Wawan sambil berjalan mengatakannya.
“Sana aja pergi sendiri aku sama iman mau makan dulu” kata Budi
“Kan punyaku sudah habis, kalian lama si ngabisinnya” Wawan menjawab sambil duduk menghampiri mereka yang sedang asik makan kelapa dengan nikmatnya. Kelapa muda dengan daging yang empuk putih bersih itu lahap mereka makan, rasa haus dan lapar mereka sepulang sekolah terobati oleh buah kelapa yang mereka makan. Dan nampak nya mereka akan kembali main setelah selesai makan.
Komentar
Posting Komentar