Khoirul Anam
Desiran ombak yang menghantam bebatuan, semilir angin mesra mencumbu dedaunan bakau, kilau warna asri hamparan tanaman padi di sekitar pantai yang memanjakan pandangan. terdengar jelas ditelingaku, saut saut para nelayanan yang sibuk mempersiapkan diri untuk meladang. disitulah aku terlahir didesa kecil pinggir pesisir pantai pathek berada di desa gelung, penarukan situbondo. “Santri” nama itu di sandingkan pada namaku saat ini. keterbatasannya sebagai buruh tani tak akan pernah menghalangi langkah kesantrianku. Kata bapakku dengan wajahnya yang banyak lekukan-lekukan didahinya. “Orang mencari ilmu itu harus banyak lapar nak”. Saya ingat betul kata-kata itu yang menyerua sebagai bekalku berangkat pesantren. Sekarung bawaan rasanya terkesan berlebihan namun persedianku selama sebulan. Didalamnyanya banyak hal yang masih mentahan, singkong, padi, jagung, katanya agar tidak mudah basi. Kutoleh dan kudekap keduanya, serta kusampaikan bahwa aku hanya membutuhkan ridho dan doamu pak, bu. Dengan gagah bapak mengatakan “jangan khawatir nak nanti sesekali bapak akan sering mengunjungimu nak”. Namun aku tidak pernah berharap akan hal tersebut karna aku tahu itu hanya kiasan-kiasan untuk menguatkanku. Beliau pernah menyampaikan jadi lelaki jangan cengeng, jangan lemah, sakit, susah, sedih ,jangan mundur, focus pada tujuannya, jangan terpengaruh pada yang lainnya.
Malam itu aku tak terdengar lagi coletahan lembut perempuan tua yang menyuruhku makan.Tak terdengar lagi suara menggelegar yang gagah yang mengingatkanku ibadah. Malam ini dan malam-malam berikutnya aku akan merindukan suara itu. Ditempat ini suara gema lafal-lafal Alqur’an, gema suara Tasbih, lantunan-lantunan indah sholawat puji-pujian kepada Nabi. Tidak terdengar lagi suara-suara kemodernan.
“Salaff” itu julukan pesantren dari kebanyakan orang menamainya. aku terus mendengar menunggu suara- suara yang mana akan aku ikuti yang menghantarkanku kepada ilmu. Suara yang manakah yang membawa arah untuk memulai semuanya, kawankah, ustadkah, atau sang kyai kah. langkah yang tak satu pun aku mengenalnya ditempat baru ini. “Assalamualaikum nak..!! “ suara ini tidak asing ditelingaku, aku kenal suara gagah yang slalu mengingatkanku dalam segala hal setiap harinya.. ahhh,, mana mungkin ,,atau bisa jadi dia merindukanku dan ingin mengajakku pulang kembali. Kotelehkan sejenak sebelum ku jawab salamnya. “Walaikumsalam wr.wb” dia beridiri didepan pintu kamar dengan diterangi bias lampu yang sepertinya membuat dirinya bercahaya, atau baju putihnya dan ikat kepalanya yang bercahaya. Aku hampir tak begitu tampak jelas wajah itu. Setelah mendekat memang wajahnya bercahaya bersih dan ada tiga titik lekukan yang berbentuk segitiga mencekung kedalam didahinya. “Nak Abdul…!!!! Enggeh pak kyai”,, hati saya hanya menerka-nerka dari cahaya yang ditunjukkan mungkin ini pak kyai pengasuh pondok pesantren. “Nak Abdul yang baru tadi datang kesini?” Enggehh pak kyai,, dalam hati kecilku sepertinya dugaanku tidak salah beliau tidak memberikan keberatan apapun dengan sebutan yang aku lontarkan. Rasa canggung dan hormat saya menghiasi. Komunikasi basa basi sebagai perkenalan awal atau penyambutan bagi santri baru sepertiku. Sepertinya perkenalan dengan kecanggungan akan terjadi lagi kepadaku setelah pembicaraan terkahir sebelum meninggalkanku beliau menyuruhku untuk ke ndalem nya esok. Ndalem merupakan tempat atau kediaman kyai beserta keluarga. Tidak sembarang orang yang bisa dan dijinka untuk masuk kedalamnya. Hanya orang-orang tertentu dan dipilihan saja..tapi kenapa dengan saya, mungkin karna santri baru banyak arahan secara intern yang harus dibekalkan kepadaku. bagitu banyak duga-duga yang terus berkeliaran di otak ku ini.
Hari itu, sudah aku persiapkan topik yang kemungkinan dibahas oleh pak kyai agar komunikasi tidak lagi canggung dan lebih terjalin lagi. “Assalamualaikum kyai” ku ucapkan salam sembari ku ketuk pintu itu.. “Walaikumsalam masuk nak abdul!! “Sepertinya kyai lebih siap menghadapiku , Salam yang aku lontarkan langsung medapat respon seolah-olah kyai memang sudah menunggu kedatanganku. Saya melangkah masuk ke dalam. Cuman aku urungkan kembali langkahku melihat sang kyai tidak menggukan atribut-atribut kehormatannya yang bisa kyai gunakan. “Tidak apa apa nak teruskan saja” sahut sang kyai. Semenjak hari itu percakapan semikin lebih santai rasa dag digdug sudah tidak lagi. Setiap hari sya keluar masuk di ndalem kyai yang tidak dilakukan oleh santri kebanyakan. Sering kyai meminta urut, meminta kerokin, dan lainnya .Kurang lebih saya sebagai “abdi dhalem” dalam bahasa jawa mungkin. Bahasa pesantren ditempat saya Menyebutnya dengan namanya “Kabuleh atau Haddam ” sepertinya ini sebutan dalam bahasa maduranya.
Hari terus berlalu peran yang saya mainkan di pesantren lebih ke abdi dhalem kyai bukan santri. saya sedikit kebingungan untuk membedakan keduanya. Saya tidak mengikuti kegiatan kesantrian yang dilakukan oleh santri kebanyakan seperti ngaji, belajar kitab, dan kegiatan lainnya. Aku lebih banyak melayani sang kyai. Tetapi walaupun begitu tidak sedikit ilmu yang kyai langsung sampaikan melalui perbincangannya. Hal yang menjadi perhatianku melihat tasbih yang dipegangnya terus bergerak, sesekali saya melihat gerak bibirnya yang sedang berdzikir. Saya hampir tidak pernah melihat tasbih itu berhenti untuk berputar bahkan dalam keadaan makan, sedang berbicara, berbaring, seolah-olah sang kyai tak pernah lepas dari tasbih yang terus bergerak walaupun dalam keadaan tertidur.
Sebuah malam hening tidak terdengar lagi suara-suara santri yang belajar kitab, puji-pujian,ngaji tidak seperti biayasanya seperti ini. Hanya terlihat beberapa santri yang lalu lalang menuju masjid untuk melakukan sholat malam. Ku tolehkan penglihatanku ke jam yang sedang berdetik dengan suara detikannya yang sangat terdengar. Ditengah malam itu sang kyai datang menghampiriku, tidak biasanya semalam ini, atau sang kyai sedang tidak sehat badannya sehingga beliau membutuhkanku untuk melakukan sesuatu ,mungkin pijat, atau kerokan, atau yang lainnya.
“Assalamualaikum nak abdul,,!! “walaikumsalam pak kyai adakah yang bisa sya lakukan untuk pak kyai ditengah malam ini kyai”sambal kutundukkan kepalaku sebagai wujud hormat dan takdimku kepada beliau.” Sudah cukup Nak” mulai besok kamu harus pindah pondok nak tidak lagi disini “ mendengar kata itu kesunyian tidak Nampak lagi. Detak jantung rasanya merubah suasana sunyi, pikiran ramai dengan renungan kesalahan yang telah aku lakukan, kata-kata beliau membuatku bingung yang serasa saya berada ditengah kerumunan orang dipasar dan pak kyai memanggilku dengan lantang tapi aku tidak tahu maksudnya. Berkali-kali sya ucapkan maaf kepada sang kyai atas kesalahan yang aku lakukakan. Walaupun aku masih belum tahu kesalahan apa yang telah aku perbuat sehingga sang kyai memindahkanku dari pesatren itu. Padahal kegiatan kesantrian masih belum pernah aku lakukan. Ujung kitabpun aku masih belum pernah buka bersama ustad-ustad pengajar, hanya sesekali sya membuka sendiri. Ku sampaikan kepada beliau “ saya masih ingin mengabdikan diri saya kepada kyai” akan tetapi kyai mempertegas seolah-olah keputusannya sudah bulat untuk memindahkanku dari pesantren itu. Sebagai santri aku hanya ikut dawuh sang kyai apapun yang beliau sampaikan. Besok harus pindah ke sebuah pesantren di Madura nak guru saya. InsyaAllah nak abdul akan lebih berguna nantinya disana” dawuh kyai kepada abdul. Saya hanya bisa mengangguk atau apa yang didawuhkan kyai akan tetapi dipikiranku, aku harus segera memberitahukan berita ini kepada orang tuaku agar pagi sebelum kyai menghantarkanku ke pesantren baruku aku bisa ketemu dengan kedua orang tuaku.
Adzan subuh berkumandang sepertinya semenjak saya telfon semalam ke dua orang tuaku langsung bergegas kepesantren untuk menemuiku. Jarak tempuh pesantren dengan rumahku cukup jauh jika berkendara dengan menggunakan sepeda motor kurang lebih 2 jam bisa sampai. Sepertinya orang tuaku tidak sampai 2 jam yang mereka tempuh dari setelah aku telfon melalui telfon pesantren dengan seijin kyai. Setelah sholat subuh saya menyampaikan kepada orang tuaku terkait dengan apa yang didawuhkan oleh sang kyai kepadaku. Sebenarnya aku sudah bisa menebak keputusan orang tuaku akan seperti apa, karena saya tahu betul bagaimana ayah dan ibu pasti akan mengikuti dawuh dari sang kyai yang begitu beliau takdimi atau teladani. Bahkan beliau mengalahkan keterbatasan yang dia punya untuk itu. Mereka datang bukan untuk menentang keputusan kyai akan tetapi memberikan semangat dan penguatan kepadaku. Seperti biasa saya sadar dengan kondisi keterbatasan ekonomi keluarga. Sekali lagi orang tuakua membekali sepertinya cukup banyak yang beliau persiapkan jika sebelumnya sekarung bawaan kali ini beliau bawa dua karung bawaan yang sekali lagi barang-barang mentah seperti beras, jagung, biji-bijian dan beberapa barang lainnya yang mampu bertahan lama. “Nak sama seperti sebelumnya awal keberangkatanmu kepesantren ibu bawakan sama cuman ibu lipat gandakan. Itu persedian bapak sama ibu dirumah tapi jangan kwatir nanti bapak dan ibu akan beli lagi.” Cuman bapk dan ibu tidak sering-sering datang mungkin sebulan sekali atau lebih akan berkunjung”. Aku tidak bisa mengutarakan banyak kata-kata. Aku hanya mampu mengangguk untuk menahan sesaknya hati ini agar air mata ku tidak aku teteskan. Sementera itu, Bapakku dengan wajah datarnya seperti terlihat tidak peduli kepadaku padahal dalam hatinya ,dia begitu sayang dan berharap aku menjadi orang yang bermanfaat nantinya. Dengan senyap di hanya mengulurkan tangannya dan mendekapku tanpa sepatah katapun. Dekapan pelukannya membuatku kuat, gagah, dan kesidahanku serasa hilang seketika.
Pagi itu aku berangkat dihantarkan langsung oleh sopir sang kyai ketempat pesantrenku yang baru. Sebelum berangkat kyai memberikan ku sebuah bingkisan kecil yang tak tau apa didalammnya. Nampaknya tubuhku terlalu letih sehingga saya tertidur cukup pulas semenjak berangkat aku tidak mengetahui padatnya lalu lintas, atau hiruk pikuk suara bising kendaraan di jalanan. Aku terbangun ketika suara adzan dhuhur berkumandangan. Mungkin aku sudah sampai di pasntren itu tetapi saya melihat kanan kiri perjalanan adalah hutan yang begitu lebatnya dan sepertinya jalanan menanjak . Meskipun di sekitar hutan suara azan, suara puji-pujian yang tak asing aku dengar di pesantrenku sebelumnya. Kumelihat sebuah kemegahan masjid di tengah-tengah lebatnya hutan dan sang sopir pak Adnan menghentikan mobilnya di masjid tersebut untuk melakukan sholat dhuhur.
Berbeda dengan pesantren saya sebelumnya di sisni pasantren yang baru saya disediakan gubung kecil yang terbuat dari pohon pring yang di desain sangat unik sekali dan hanya untuk di diami oleh satu santri dari masing-masing gubuk yang disediakan. Sangat berbeda taka da penyambutan dan perkenalan kedatanganku seperti sudah kebanyakan orang tahu dan sudah kenal. Pengurus pesantren hanya mengantarkan dan menunjukkan tempatku atau gubuk yang akan aku tempati setelahnya langsung pergi meninggalkanku sendiri. Sya berbenah barang bawaanku akan tetapi pikiranku salalu terfokus dan penasaran terhadap bekal yang diberikan oleh sang kyai ketika hendak ia berangkat,. Aku cari cari kotak bingkisan itu berada saya kira sudah hilang atau tertinggal dimobil ternyata tadi ketika sholat saya lupa telh membungkusnya dengan kain sorban dan saya masukkan ke dalam tas bajuku.aku bergegas membuka kotak kecil yang ternyata berisi tasbih yang biasanya berputar ditangan sang kyai dia hadiahkan kepadaku. Sedangkan ada secarik kertas pesan yang beliau sampaikan yang bertulis “ aku tahu engkau memperhatikanku tasbihku dan komat-kamit mulutku, bacalah ini nak dan jangan engkau lepas seperti yang engkau lihat di diriku nak” itu pesan sang kyai yang ditulis dalam secarik kertas dan bacaan arab yang harus aku baca dalam siang, dalam malam, dalam waktu terjaga, atau tertidur, tidak pernah terputus dan akan aku jaga dan aku lakukan apa yang telah disanatkan sang kyai kepadaku.
Aku hitung sudah tujuh hari aku dipesantren ini tidak ada hal yang berkaitan dengan kesantrian yang aku lakukan ditempat ini. Tidak ada perintah atau mengaji, atau yang lainnya yang di perintahkan di pesantren ini saya melihat para santri diberikan kebebasan dalam mengikuti kegiatan yang dia mau. Aku juga melakukan hal yang sama seperti mereka, ikut mengaji, sholawatan, kajian-kajian dan kegiatan lainnya seperti bersih-bersih masjid, lingkungan, kamar mandi, dan lainnya. Dengan kegiatan yang sama yang saya lakukan secara rutin dan tak lupa pula putaran tasbih yang diberikan sang kyai belum pernah sejanakpun berhenti berputar ditanganku.
Saya masih ingat betul malam itu, kesunyian yang sama kejadian dipindahkannya aku oleh sang kyai. Sunyi, suara jangkrik bersaut –sautan, suara kodok sepertinya menggantikan suara para sanatri sedang mengaji bersama-sama dengan kawanan kodok lainnya. Suara hewan-hewan malam yang menambah kesan sunyi malam itu. Seperti yang telah aku sampaikan pada awal aku tiba,bahwa pasentren ini terletah di bukit yang dikelilingi hutan yang lebat . di malam itu tidak seperti biasanya aku tak mampu menyelesaikan ritual malamku setelah akau melakukan sholat. Rasanya dahaga haus yang tak tertahan, leher serasa kekeringan seperti sudah dilanda kemarau berkepanjangan. Aku bergegas mengambil botol tempat kuletakkan air ternyata pun kehabisan. Aku harus mengambilnya dari sebuah mata air yang harus menuruni sebuah lembah yang curam untuk mendapatkannya. Disebhuah lembah tersebut memancurkan tiga mata air yang mengalir sangat derasnya. Akan tetapi untuk mencapai lembah atau mata air perjalan yang curam dan tak dapat dipungkiri malam yang gelap seperti ini hewan-hewan liar akan cuga ditemui belum lagi jalannan berbatu yang licin.namun hal itu tidak ada pilihan lagi untuk segara bergegas berangkat untuk mengambil air tersebut. Berbekal lampu sentrer kecil yang membantuku menyusuri jalan kulangkahkan kaki ku perlahan. Rasa haus dan dahagapun semakin terasa. Sesekali tergelincir karena bebatuan yang licin dan beberapa terasa perih dikaki sepertinya terluka.
Suara gemericik air sudah terdengar yang menandakan tinggal sedikit lagi aku akan samapai pada mata air. Namun tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang tanpa suara aku tolehkan perlahan siapakah ini. Setelah ku toleh terlehat kakek-kakek tua dengan tongkatnya, sepertinya hal ini sangat aneh sekali padahal saya dari awal tidak melihat cahaya apapun dibelakangku yang menunjukkan ada seseorang. Entah dari mana datangnya kakek ini. Aku tidak melihat kesan seram pada kakek ini, dengan pakaian putihnya dan ikat kepala yang biasanya digunakan oleh kyai. Serta ada kain sorban yang menutupi lehernya mungkin agar tidak kedinganan si kakek ini. Dan wajah yang begitu bersih bercahaya jadi rasa takut tidak aku rasakan sama sekali. Tanpa berkata-kata beliau menyodorkan sebuah daun talas kepada ku yang didalamnya terdapat sebuah gemerlap cahaya emas batangan. “Tidak Kakek” aku tidak membutuhkan itu tujuanku kesini hanyalah untuk mengembil sebuah air untuk menghilangkan dahagaku” ku lanjutkan kembali perjalanku. Sepertinya kakek itu tidak berhenti pula menggodaku. Daun talas yang berisi sebuah emas batangan ditambah banyak lagi. Aku melihat begitu banyak sekali tumpukan emas di daun itu yang kakek tawarka kepadaku akan tetapi aku masih ingat betul kepada tujuan ku untuk menghilangkan dahagaku karna kehausan dan membutuhkan air minum sebagai penghilangnya. Emas yang ditawarkan kepada tidak menggairahkanku karna hasratku lebih menginkan air. Aku pun atk peduli kepada kakek dan kulanjutkan perjalananku. Akhirnya akupun sampai dank e mata air tersebut.. aku puaskan dahagaku stelah aku puas aku isikan botol yang sudah ku bawa sebagai bekal di pondok. Dipertengahan aku melihat kakek tersebut sepertinya telah menungguku, kali ini kakek dengan suaranya yang lembut di berbicara kepadaku “ ambilah ini nak abdul”? bagaimana kakek ini tahu dengan namuku, di serahkan sekarung penuh yang berisi emas batang yang ia serahkan kepadaku. “ aku iklas nak, ku sudah tua ini tak penting lagi untukku makanya ku berikan kepadamu nak” sekali lagi akupun menolok permintaan kakek tua itu dengan rasa maaf yang setinggi-tingginya, aku sampaikan bahwa keinginan ingin mengambil air tidak lebih dari itu kakek emas itu tidak bisa menggodaku. Air ini sudah cukup untuk menghilangkan dahagaku.“Nak,,hari ini namamu saya ganti menjadi Abdullah Muhammad Indris” dia ulangi kalimat itu tiga kali lalu ku tolehkan pandanganku kepadanya kakek tua itu tidak terlihat lagi. Aku meneruskan langkah kakiku untuk kembali ke pondok pesantrenku. Kajadian itu hanya berlalu hanya menyisakan cerita yang aku simpan sendiri tanpa sedikitpun aku bincangkan dengan kawan-kawan santriku yang lainnya.aku hamper sudah melupakan sebuah nama yang diberikannya kepadaku kala itu.
Disisi yang lainnya ada sebuah desa kecil terdapat sebuah kisah seoarang petani bernama pak jali yang memotong sebuah pohon besar yang dibantu warga desa karna besarnya pohon tersebut. Anehnya pohon yang telah ditebangnya bersama warga itu sudah terpotong habis namun tidak bisa dirobohkan. Dengan segala cara warga desa pun bahu membahu untuk merobohkan pohon. Alhasil tetap saja pohon tetap berdiri dengan tegapnya.pada sebuah malam pak jail bermimpi jika pohon itu akan dapat dirobohkan oleh seorang kyai dari pesantren Gunung Sleret bernama kyai Abdullah Muhammad Idris. Keesokan harinya pak jali menceritakan perihal mimpi tersebut kepada istrinya. Istrinyapun menyerankan untuk dikomunikasikan kepada pak lurah agar mimpi tersebut mungkin bisa menjadi solusi robohnya pohon. Pak luruh memberikan dukungan pada pak jali untuk menelurusi apa yang telah disamapikan pada mimpinya. Dengan mendatangi kyai yang bernama Abdullah Muhammad Idris di pesantren gunung sleret. dengan didampingi pak lurah pak jali bergegas berangkat, dengan menempuh waktu kurang lebih 2 jam perjalan pak jali dan pak lurah sampai di pesantren tersebut. Setelah sampai di pintu gerbang bapak jali melihat beberapa santri yang sedang santai kemudian pak jali menanyakan perihal kyai yang berada dimimpinya. “Assalamualaikum Nak “ kata pak jali kepada segerombolan santri yang sedang berbincang-bincang. Dengan serentak para santri menjawab “ walaikumsalam wr.wb”. tak perlu basa basi pak jali pun langsung mengutarakan maksud kedatangannya tersebut kepada para santri untuk menemui kyai yang bernama Abdullah Muhammad idris. Para santri pun kebingungan dengan kyai yang disampaikan oleh pak jali. Salah satu santri menyampaikan kepada pak jali bahwa tidak ada kyai dengan nama yang bapak sebutkan di pesantren ini. “ coba nak di ingat lagi sya yakin ada, karna ada yang menunjukkan ke bapak bahwa kyai tersebut berada di tempat ini!!” dengan rasa hampir putus asa pak jali mencoba meyakinkan diri bahwa mimpi yang hadir itu adalah petunjuk yang mampu membantunya. Tidak lama kemudian ada salah satu santri menyampaikan “ ada bapak namanya Abdul tapi diya bukan kyai tapi santri “ sambal mereka tertawa menyampaikannya kepada bapak jali. namun keyakinan pak jali tidak melunturkannya meskipun jadi bahan tertawaan para santri. “ mungkin itu nak, apakah bisa ditunjukkan kepadaku tempat berdiamnya anak itu?”
Lurus saja bapak ada simpang 3 bapak belok kanan lurus saja ada sebuah pondok paling ujung di bawah pohon. Setelahnya tidak ada pondok lagi hanya hutan lebat saja bapak jangan sampe kelewat biyar tidak tersasar “ kata salah satu santri menujnjukkan tempat abdul kepada pak jali.pak jalipun melangkahkan kakinya mengikuti arahan dari santri tersebut. Sampai diujung terdapat sebuat gubuk kecil yang posisinya memang berjauhan sekali dengan gubuk lainnya yang didiami para santri. Pak jali menduga mungkin ini tempatnya, tanpa ragu pak jali pun mengucapkan salam dan mengetok pintu yang terbuat dari bambu itu. Abdul dengan kentunannya menjawab salam dan mempersilahkan pak jali dan pak lurah masuk. Abdul memberikan suguhan seadanya kepada pak jali dan pak lurah perihal tempat yang sempit dan suguhannya. Kemudian abdul bertanya “ ada maksud apa bapak berdua atas kedatangannya gubuk saya ini bapak”? lalu pak jali menyampaikan kronologinya tentang peristiwa pohon dan mimpi yang mendatanginya se olah-olah pak jali yakin abdul lah yang dimaksud dalam mimpi itu. Namun abdul pun lupa akan nama yang disampaikan pak jali, abdul berkali-kali menyampaikan kepada pak jali bahwasanya dia hanya santri dan bukan kyai yang dimaksud dalam mimpi pak jali. entah apa yang membuat pak jali yakin terhadap abdul bahwasanya dialah yang dimimpi itu meskipun pak kades dalam kearguan pak kades pun berkata “ bantulah nak, kami datang dari desa yang cukup jauh hanya untuk memohon pertolonganmu nak” abdul pun merasa kasihan dan tidak mampu menolaknya untuk membantu akan tetapi dengan cara bagaimana dia membantunya. Abdul menundukkankan kepalanya tanpa jawaban apapun atas permohonan yang disampaikan pak jali dan pak kades kepadanya. Dia menundukkan kepala cukup lama memohon petunjuk kepada tuhan dengan cara apa saya membantu kedua orang ini ya Rabb.
Kemudian abdul kembali mengangkat kepala nya yang tertunduk cukup lama sepertinya sudah mendapat jawaban atas persoalan yang dia hadapi ini. Abdul menyampaikan bahwa dia akan hadir ke desa pak lurah besok pagi bakda subuh saya akan berangkat dari sini. Nanti cukup pak lurah meninggalkan alamat desanya yang akan aku kunjungi. InsyaAllah saya akan datang” ujar abdul kepada pak jali dan pak lurah. Pak lurah dan pak jali berpamitan dengan harapan penuh nak abdul akan datang kedasana dan menyelesaikan persoalan pohon didesanya. Setelah dua orang tersebut pergi abdul memohon kepada tuhan untuk diberikan petunjuk dan cara membantu kedua oran itu dengan terus ber dzikir abdul terus menunggu jawaban yang harus ia lakukan esok. Di spertiga malam abdul teringat kembali dengan kakek tua yang mencoba memberi emas malam itu. Dan kakek itu menyebutkan sebuah nama, iaa,, iaa,, aku mulai ingat nama itu,, nama itu sama seperti yang disamapikan ke dua bpak itu. Jika itu memang diriku dengan cara apa aku akan menolongnya. Abdul mendirikan sholat istihoroh untuk memohon petunjuk kepada tuhannya disela dia melihat sebuah tasbih yang dipegangnya berubah menjadi kerikil-kerikil kecil ketika diambil satu kerikil itu maka wujudnya berubah kembali menjadi tasbih yang biasa ia gunakan untuk berdzikir. Abdul merasa mungkin itulah jawaban dari tuhannya dengan perantara batu inilah saya akan mampu untuk membantu bapak jali dan pak lurah.
Keesokan hari jali bakda subuh abdul berangkat memenuhi janjinya untuk mendatangi desa pak jali untuk berusaha membantunya. Ia berangkat dengan membawa kerikil yang ia dapatkan semalam. Dengan menempuh perjalan yang lebih lama dari yang pak jali tempuh sekitar 3 mjam lamanya karna sering istrihat dan bertanya kepada warga masyarakat terkait dengan desa yang akan ia tuju. Ketika ia samapia didesa tersebut seolah-olah pak jali dan pak lurah telah menunggu kedatangannya. Beliau menyambut saya dengan hangat dengan penuh hormat. Pak lurah mengajakku untuk kekediaman beliau namun aku inginkan focus pada tujuan awalku datang kedasa ini. Aku tahu maksud pak lurah dan pak jali mengajakku kekdiamannya krana aku telah menempuh perjalanan jauh dan beliau mengejakku untuk menikmati suguhan-suguhan yang telah mereka sediakan. Cuman aku ingin langsung ke pohon yang diceritakan pak jali. pak jalipun menghantarkanku menuju pohon tersebut dengan beberapa warga desa sekitar yang ikut mendampingi untuk jaga-jaga mungkin dibutuhkan tenaganya.
Aku lihat pohon itu begitu besar dan aku lihat semuanya bahwa pohon itu sudah terpotong habis tanpak sedikitpun yang menghalangi pohon itu untuk roboh. Keanehan ini memang betul yang disampaikan pak jali pohon yang sudah terpotong tanpa adanya yang menyanggahnya untuk roboh bahkan warga sudah mencoba menariknya akan tetapi tetap pohon berdiri tegap tapa sedikitpun goyah atau menunjukkan tanda-tanda roboh. Abdul menyampaikan kepada pak jali dan warga yang berada tidak jauh dari pohon untuk menjauh. Abdul mendatang pohon itu lalu menggoreskan kerikil yang ia bawa ke pohon itu lalu pohon memberikan tanpa kemiringan seolah-olah pohon tersebut akan roboh. Abdul membacakan dzikir yang ia dapatkan dari kyai yang memberinya kemudian ia leparkan kerikil itu kepada pohon tersebut kemudian pohon itu roboh sesuai arah lemparan kerikil yang ia lemparkan.
Semenjak kejadian itu, ruapanya abdul menjadi perbincangan didesa tersebut. Banyak warga yang datang menemui abdul untuk menyampaikan terkait dengan semuanya mulai dari lahiran peliharaannya, mau memulai menanam atau bercocok tanam, menikahkan putra putrinya banyak urusan lainnya yang diadukan kepada abdul semenjak kejadian itu. Sepertinya tamu yang sowon kepada kyai pesantren itu kalah banyak dengan abdul. Menyadari hal itu banyak para santri merasa iri dan berbagai tuduhan pun dilayangkan kepada abdul. Ada yang mengatakan bahwa abdul bersekutu dengan jin, menjadi dukun, menandingi kyai atau tuduhan lainnya yang dituduhkan kepadanya. Tidak cukup sampai disitu saja pada tengah malam gubuknya tempat tinggal dilempari batu. Tiap pagi ia hanya membersihkan batu-batu tersebut tanpa sedikitpun keinginan membalasnya. Tidak hanya dimalam itu saja di malam berikutnya ketika ia sholat hujan batu itu turun lagi di gubuknya menghujaninya kembali. Dengan sabar abdul mengatakan jika hujan batu itu adalah berkah baginya karna tidak satupun batu-batu yang cukup besar itu menimpanya.
Sedari awal aku tiba di pesantren samapi saat ini aku baru dipertemukan dengan sang kyai dipesantren tersebut. Kembali lagi dengan pertemuanku dengan kyai ku dipesantren sebelumnya tak jauh berbeda, cahaya yang ditampakkannya lebih terang dengan kharismatiknya yang sama. Beliau menghampiriku dengan mengucapak” assalamualaikum ya akhi kyai Abdullah Muhammad idris. akupun terkejut mendengar kyai memanggilku dengan nama itu. Dengan memelukku dia perkenankanku untuk meninggalkan pesantrennya. Beliau tidak menyuruhku pergi akan tetapi itu merupakan isyarat bagiku saatnya aku pergi dari pesantren itu.
Akupun pergi meninggalkan pesantren itu dengan gelar tidak lagi santri yang bersanding di pundakku. Kini aku telah lahir kembali sebagi kyai yang diberikan nama oleh satu- satu Nabi yang hidup disepanjang hayatnya dunia. Kini namaku adalah Kyai Abdullah Muhammad Idris saatnya aku kembali ke desaku dan kudirikan pesantren dengan nama “Pesantren Hujan Batu” dengan hujan batu Tuhan memberikan keberkahan dan mukjizatnya , dengan Batu kerikil tuhan memberikan kuasa memenumbangkan pohon. Hujan yang merupakan rahmat "Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji."(QS. Qur'an Surat Asy-Syuara ayat 28).
Komentar
Posting Komentar