Langsung ke konten utama

CERPEN WONDER WOMEN

 

WONDER WOMEN

ADI IWAN HERMAWAN

Namanya Margaret Kainalu  Gadis remaja dengan kulit sawo matang yang sangat cantik. Margareth hidup di sebuah desa yang dikelilingi oleh hutan Pegunungan yang sangat lebat. Dia lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Keterbatasan ekonomi tidak menutup Margareth untuk meraih mimpi setinggi langit. Dia sosok yang sangat aktif di lingkungan desanya. Seperti Wonder Women yang selalu aktif menolong orang di dunia komik.

Cahaya Mentari pagi mulai terlihat dengan keindahannya. Menembus atmosfer hingga sela-sela jendela rumah gadis dengan senyum secantik gemintang.

“Margareth cepatlah bergegas, Matahari sudah mulai tinggi” kata kakanya
“Iya kak, ini Margaret mau berangkat, Dah kakak” jawab Margareth.
“Hati-hati di perjalanan yah, ingat Wonderwomen” Ucap kakanya.
“Siap kak Christoper” ucap Margareth dengan nada bersemangat

Margareth pergi dengan semangat yang berapi-api. Setiap pagi kakaknya selalu berkata Wonder women Mereka mempunyai makna sendiri tentang “wonder Women

“Wonder women ini ibaratya kamu Margareth” ucap kak Christoper saat mengobrol dengan Margareth di kamarnya.
“Kamu tahu Wonder women ini?” tanya kak Christoper terhadap Margareth.
“tidak tau kak,? kan biasanya saya mainnya boneka!”jawab Margareth.

“ wonder women adalah super hero Perempuan yang kuat sangat jarang ada superhero cewek, sebab orang beranggapan kalau perempuan itu lemah “ kak Christoper melanjutkan
“Maka kamu harus menjadi menjadi sosok wonder women yang kuat dan juga selalu membantu orang kesusahan yang kamu temui” menutup obrolannya dengan Margareth

“TIIIIINGGGG…3 X” Suara bel berbunyi. Masuklah semua murid ke dalam kelas. Sosok guru dengan aura positif masuk kedalam kelas.
“Baik anak-anak kelas 12 karena sebentar lagi kita mau kelulusan sekarang coba kalian maju satu-satu memaparkan mimpi kalian” ucap Bu Guru memulai kelas.
Lalu mulailah satu dari mereka memaparkan mimpinya. Hingga tiba giliran Margareth untuk memaparkan mimpinya. “Coba sekarang Margareth paparkan mimpinya pada teman-teman” bu guru menyuruh Margareth.
“Baik bu” Jawab Margareth.

“Mimpi saya ingin selalu membantu orang lain yang kesusahan seperti “Wonder Women” ” lanjutnya.
Temannya tertawa mendengar cita-cita Margareth ingin menjadi superhero WonderWomen karena istilah itu sangat kekanak-kanakan di telinga mereka. Lalu Margareth memaparkan istilah Wonder Women seperti yang dijelaskan kakaknya.

Semua temannya terpana melihat penjelasan Margareth. Semua mata di ruangan itu tertuju pada setiap kata yang diucapkan oleh Margareth. Lalu diakhir Margareth mengatakan
“Dunia ini sudah terlalu banyak orang egois, yang mementingkan diri mereka sendiri semua berlomba-lomba menyelamatkan diri mereka masing-masing dan Tuhan tidak suka Makhluknya seperti itu “Dunia masih berwarna karena masih ada orang baik di dalamnya” lanjutnya.
“Jadi ayolah bermimpi untuk sosok yang baik kalian boleh menjadi siapapun asal tetap tolong lah orang sekitar kalian” tutup Margareth.

“Ayooo kita menjadi Superhero” celetuk seorang anak dari pojok ruangan.
“Ayooooo ” semua anak berteriak memenuhi ruangan kelas.

Bau gurih singkong dan keladi goreng menggoda Margareth. Kakaknya sedang menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Hingga semuanya berkumpul di satu meja makan.

 

“singkong dan keladi Buatan kakakmu ini Margareth memang ngga ada tandingannya” puji ayah.

“Jadi menurut ayah masakan ibu ndak enak toh” sindir ibu.

“Yah ndak bu, masakan kak Christoper juga masakan ibu kan ibu toh yang ngajarin anak-anak kita ini” Rayu ayah terhadap ibu. Pipi ibu mulai memerah mendengar ucapan ayah.

“anak-anaku yang ganteng dan cantik nan cerdas, Ayah bersyukur memiliki kalian. Karena bagi ayah kalian adalah satu-satunya harapan ayah” ucap ayah dengan nada sedih.

“Kalian adalah harapan keluarga, bangsa dan agama. Kalian adalah penyemangat ayah dalam bekerja” Air mata ayah mulai menetes. Ibu mengambil tisu untuk ayah. Sambil mengusap air mata.

“kalian harus jadi orang hebat, orang yang banyak menolong orang lain tidak peduli di kaya atau miskin” Sesenggukan ayah.

“Ayah ndak sia-sia mendidik kalian, bekerja siang malam untuk menyolahkan kalian, agar kalian lebih baik dari ayah” semuanya meneteskan air mata.

“Gapailah mimpi kalian, ayah akan selalu dukung apa yang kalian impikan” tutup ayah.

Suasana meja makan itu sangat mengharukan. Semua saling menyayangi dan mencintai. Makan malam yang sangat berkesan. Keluarga yang saling mengerti, mendukung, dan memahami. Semenjak kejadian di meja makan itu. Margareth dan kak Christoper mulai sibuk menggapai mimpinya. Margareth mulai fokus belajar untuk meraih beasiswa kuliah di luar negeri. Sedangkan kakak laki-lakinya mulai fokus mengembangkan bisnis singkongnya.

2 tahun kemudian.

Suara pesawat terdengar dari seorang gadis. pesawat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. “Selamat tinggal temanku” ucap seorang teman.

“Kau jaga diri baik-baik disana” lanjutnya.

“Terima kasih aku akan jaga diri baik-baik disana” ucap seorang gadis .

Pesawat sudah mendarat tepat di bandara dengan dua sosok orang yang saling melepas kenangan. Masuklah gadis itu ke dalam pesawat.

Lalu “Selamat jalan Margareth kau akan semakin meraih mimpimu untuk membantu orang banyak”. Lambainya sambil berteriak keras. Mereka berdua saling melambaikan tangan. Dunia sangat senang melihat mereka. Impian membuat mereka semakin semangat menjalani hidup.

London, Kota dengan banyak keindahan bangunannya telah terlihat oleh mata seorang gadis pemimpi. Dia sampai di tempat tunggu. Matanya mulai mencari sosok cahaya hidupnya.

Hingga terdengar suara “Margareth” Ucap sosok yang sangat dikenalnya.

Margareth menoleh kearah suara itu. Terlihat senyum yang merekah darinya. Margareth langsung berlari menujunya. Berpeluklah mereka saling melepas rindu. Air mata haru menetes membasahi lantai.

“Kau berhasil Margareth” ucap kak chistoper dengan nada lirih.

“Aku bangga padamu, Wonder women” Lanjutnya dengan nada bangga.

“Semua atas izin tuhan, kakak yang mengajarkanku untuk menggapai mimpi maka tuhan akan mewujudkannya” Kata Margareth.

“Kakak juga telah berhasil menggapai mimpi kakak, mengembangkan bisnis singkongnya hingga ke luar negeri” lanjut Margareth terharu. Mereka berdua saling melepas rindu. Lalu melanjutkan mimpi mereka.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen : Siapa Kamu ?

  Siapa kamu      Pagi yang sangat berembun karena semalaman turun hujan deras, setelah cuaca agak terang segerombolan ibu-ibu dan bapak-bapak bersiap untuk memulai aktivitas mereka. Pekerjaan sebagian besar orang di desa Insoe merupakan petani. Pagi itu tidak sengaja para ibu-ibu dan bapak-bapak menemukan sebuah koper besar berwarna hitam pekat, mereka bertanya-tanya milik siapa itu, kenapa koper sebagus itu di buang di ladang pertanian. Semakin penasaran dengan isi koper itu para petani pun mulai membukanya.      Terceganglah mereka bahwa isi dari koper hitam itu merupakan sesosok mayat wanita. Panik melanda seluruh petani, desapun menjadi geger dibuatnya. Kepala desa langsung memanggil petugas kepolisian, agar mereka bisa mengidentifikasi mayat tersebut. Petani dan warga setempat tidak berani mendekat, setelah polisi datang barulah seorang mayat perempuan itu dikeluarkan dari koper. Sungguh malang nasib perempuan tersebut, tubuhnya dipenuhi deng...

CERPEN PANGGILAN PADA HARI HUJAN

  CERPEN  PANGGILAN PADA HARI HUJAN Ho Ngoc Hieu Yuni diam-diam bergulir kursi roda ke jendela. Gerimis dari sore kemarin ke pagi hari ini masih belum berhenti. Dia duduk di sana dengan diam, tidak ingin melihat ke luar jendela bahkan sekali pun. Meskipun bunga-bunga, tanaman riang, pohon dan rumput, vitalitas subur di bawah hujan tipis tembus ... *** Itu sudah setengah tahun dari hari kecelakaan mengerikan terjadi. Dalam perjalanan dari sekolah pulang rumah, Yuni tertabrak dengan bus, kakinya dihancurkan hingga harus mengamputasi. Semua mimpi, ambisi dari seorang gadis berusia lima belas tahun dihancurkan oleh kecelakaan tragis itu. Dari seorang gadis manis, ramah, sering menyenangkan dan percakapan dengan semua orang di kelilingnya. Sejak waktu itu, Yuni tidak mau lagi berbicara, pertemuan atau hubungi dengan orang yang lain, kecuali orangtuanya. Yuni berpikiran bahwa hidupnya begitu berhenti, semua hal yang baik dalam kehidupan akan tidak pernah datang sama dia lagi ....

Topeng Monyet

  Topeng Monyet Oleh: Kholilatuz Zuhria “Dung dung, drrung dung dung!” “Dung dung, drrung dung dung!”   Inilah gending yang paling akrab di telingaku. Bukan akrab seperti kalian dengan teman-teman kalian. Tapi aku terpaksa mengakrabinya karena gending inilah gending yang paling lama kudengar. Selama yang dapat aku ingat, hampir tiap hari aku mendengar gending itu. Tak tanggung-tanggung mungkin lebih lama dari waktu manusia bekerja atau menuntut ilmu tiap hari. Entahlah, aku ini apes atau beruntung. Yang jelas, aku dibeli Tuanku di pasar hewan di dekat Alun-alun Tugu saat aku belum genap 1 tahun. Sejak saat itu, aku mengabdi padanya. Selebihnya, aku tidak bisa mengingat. Dari mana aku, kemana orang tuaku, aku tidak ingat lagi. *** “Aya, Kopral! Salto ke belakang!” Teriakan Tuanku sontak mengagetkanku yang asyik mengunyah butir-butir kacang pemberian penonton. Aku pun salto berkali-kali di hadapan puluhan anak kecil. Mereka tepuk tangan nampak gemas melihatku, bebe...