Langsung ke konten utama

CINTA PERTAMA MERYA

 

CINTA PERTAMA MERYA

Suci Puspita Sari

Aku kembali menapaki kaki di salah satu Ibu kota di Jawa Timur setelah bertahun-tahun menjadi perantau di Kota Serambi Makkah. Dan kota ini adalah kota kelahiranku, kota dimana aku mengawali tangis dan tawaku bersama keluarga tercinta. Walau sudah lima tahun aku hidup di kota tetangga, suasana di sini tidak banyak yang berubah. Masih banyak tambak ikan di samping rumah-rumah warga dengan dikeliling jaring pembatas yang sangat khas. Tak ayal bila ketika angin berembus selalu membawa aroma pellet dan amis bercampur menjadi satu. Memang pada kenyataannya di beberapa sudut kota telah berubah menjadi sebuah café dan satu dua gedung bertingkat menggantikan lahan kosong yang biasanya dipenuhi hamparan palawija. Begitulah potret kemajuan zaman yang sulit sekali dikendalikan. Namun, suasana kota ini tetap menempati rasa damai tersendiri di batin seorang perempuan seperti diriku. Aku mencoba menarik nafas dalam-dalam dan terus memandangi suasana di pagi itu dalam diam. Seketika benakku kembali ke masa itu. Masa kecil, masa dimana cinta kasih masih bisa aku dapatkan secara penuh dari kedua orang tuaku.

            Aku Elmerya Hasena Buwono dengan nama kesayangan Merya. Seorang putri tunggal kebanggan Umi dan Abah yang kini genap berusia 28 tahun. Kata mereka aku adalah anugerah terbesar yang memiliki hati mulia dan kelak akan menjadi perempuan berguna untuk dunia dan agamaku. Ya!…karena menurut cerita Abah dan umi, mereka baru bisa merasakan kehadiranku setelah sebelas tahun menyatu dalam kehidupan rumah tangga. Tidak heran apabila mereka begitu membanggakanku atas apapun yang aku lakukan. Nama yang Umi dan Abah sematkan itu, telah berhasil mewujud harapan mereka. Begitu ucapan manis yang selalu mereka lontarkan ketika memuji atau bahkan merayuku. Dan kepulanganku ke kota ini sejak empat bulan yang lalu, semata-mata demi memenuhi janjiku kepada Umi kala itu. Menemani Abah hingga renta dan mencintai Abah tiada tara, demi menggantikan Umi setelah ia berpulang menghadap Sang Pencipta.

Lamunanku seketika serna, saat Abah mengusap pundakku dengan perlahan. Rupanya sedari tadi, Abah telah mencariku tanpa aku sadari.

“Merya..Merya…melamun terus, sampai Abah teriak pun tidak dengar” kata Abah yang sedikit kesal namun selalu bernada pelan.         

“Maaf, Abah! Abah butuh bantuan Merya? Mau dibuatkan kopi? Kebetulan di dapur juga ada keladi  kukus untuk Abah” tanyaku dengan nada sedikit gugup

“Kalau ada masalah itu Mbok cerita. Jangan dipendam sendiri. Nanti keriput duluan kayak Abahmu, Nduk!” katanya tanpa menghiraukan pertanyaanku

“Tidak, Abah! Hanya kepalang rindu saja dengan Umi. Semalam, Merya memimpikan Umi, Bah!” jawabku sedikit bercerita

“Doakan Umimu seng apik-apik, ya Nduk! Jangan ditangisi. Umi tidak butuh itu karena yang Umi butuhkan hanya doa tulus dari kita. Suami dan putri kesayangannya ini,” kata Abah sambil merangkulku.

Aku hanya mampu tersenyum sembari mengangguk sebagai tanda menyetujui ucapan Abah. Rupanya Abah masih melanjutkan ceritanya. Namun telah berganti posisi sambil memetik dedaunan yang kering pada tanaman yang berada di teras rumah. Begitulah Abah, beliau bisa berjam-jam mengurus tanaman kesayangannya.

“Lagi pula Abah sudah berjanji kepada Umimu, Nduk!” tambahnya lagi.

“Janji apa, Bah?” tanyaku penasaran

“Abah berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakan Merya. Jadi kalau ada yang mau menikah dengan anak Abah, harus bisa melewati beberapa syarat dulu,” jawabnya dengan nada yang sedikit menggoda.

“Apa syaratnya?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi

“Rahasiaa…..Hahahaha……

Begitulah Abah, selalu tampak tegar meskipun hatinya tidak demikian. Tubuhnya yang kekar dengan kumis yang lebat membuatnya tampak seperti sosok ayah yang sangat garang. Namun, itu tidaklah benar. Abah sangat suka bercanda, bahkan tidak pernah sekalipun berkata kasar kepada keluarga, anak, dan istrinya.

“Kenapa kamu pagi ini di rumah? Kamu ndak ngecek karyawan di toko?” tanya Abah kepadaku yang masih duduk manis tanpa ada pergerakan.

“Nanti siang saja, Bah! Masih malas beranjak. Sepertinya Merya terlalu betah di rumah bareng Abah,” jawabku sambil melirik ke arah laki-laki sepuh itu.

“Halah…isuk-isuk wes merayu, Nduk, Nduk! Dadi kelingan Umimu. Ha…Ha…Ha..” tawanya tiba-tiba menjadi pecah.

Begitulah rutinitasku saat sedang di rumah. Tiada hari tanpa bercengkrama dengan Abah. Ntahlah…Pagi itu rasanya aku memang malas keluar rumah. Terlebih menjalankan rutinitasku sekedar memeriksa toko pakaian muslimah dan para karyawan yang sedang bekerja seperti hari-hari biasanya. Alhamdulillah..tabunganku setelah beberapa tahun bekerja sebagai karyawan swasta, mampu menjadi modal untuk mendirikan sebuah toko pakaian kecil-kecilan. Baru tiga bulan berdiri, usahaku sudah terbilang lancar dan ada 6 karyawan yang bekerja bersamaku setiap harinya.

            Sebenarnya aku seorang sarjana pendidikan yang seharusnya bisa berkecimpung dalam dunia pendidikan terutama di sekolah. Namun aku lebih memilih menjadi pengusaha dan mengisi waktu malamku dengan mengajar ngaji anak-anak tetangga di mushala dekat rumah. Kesibukanku terus berjibaku pada rutinitas merawat Ayah, mengurus toko, dan pergi ke mushala. Begitulah dari pagi sampai petang. Hingga aku tidak lagi menyadari dan memperdulikan usiaku yang terus bertambah dari hari-ke harinya. Aktivitas yang sangat konstan dan kata orang begitu-begitu saja tanpa kehadiran seorang kekasih sebagai pelipur lara. Namun, aku tetap menikmati hari-hariku dengan rasa syukur yang teramat sangat. Begitulah keadaanku sekarang.  Masa laluku yang kelam dengan laki-laki kenalanku di masa kuliah, membuatku acuh dengan sebuah cinta dari laki-laki selain Abah.

            Hingga suatu ketika, kebahagiaan dan rasa syukurku berubah menjadi derai air mata yang datang dengan tiba-tiba. Siang itu, dunia terasa runtuh dan sangat kejam menusuk telinga, mata, dan juga hatiku. Abah mengalami kecelakaan ketika akan mengantarkan makan siang ke toko tempatku bekerja. Motor yang Abah kendarai tertabrak oleh sebuah sedan yang melaju kencang dan hilang kendali akibat pengemudi yang sedang mabuk hebat. Abah terpental sejauh 3 meter dengan luka berat di bagian kepala. Ditambah lagi luka di sekujur tubuh yang terus mengeluarkan darah. Akibatnya, Abah koma selama seminggu dan lebih menyakitkan lagi melihat Abah telah membuka mata tapi sekejur tubuhnya dipenuhi oleh luka yang tidak kunjung mengering. Ya!... Abahku penderita penyakit manis si diabetes begitu juga dengan almarhumah Umi. Luka pasca laka lantas itu membuat tubuh Abah menjadi hitam dengan luka yang terus menganga hingga menjalar ke bagian tubuh lainnya. Untuk pertama kalinya aku kecewa dengan Tuhan. Diambilnya Umi dan sekarang memberikan ujian yang begitu berat kepada satu-satunya kunci surga dan cinta pertama dalam hidupku.

“Abah….Merya akan selalu di sini bersama Abah! Kita lewati bersama-sama ya, Bah!” ungkapku menggenggam tangannya

“Merya putri Abah,,,yang kuat ya, Nduk! Abah minta maaf. Abah sudah gagal menepati janji Umimu” katanya dengan suara pelan sambil merintih menahan kesakitan.

Ruang rumah sakit menjadi saksi kepiluan kami berdua. Hanya ada suara tangis yang terus bersautan dengan bunyi monitor pengatur denyut nadi Abah. Malam ini menjadi kali pertamanya aku melihat Abah menangis sejadi-jadinya. Lidahku menjadi kelu dan isakku semakin menderu. Aku hanya bisa memeluknya dengan erat, tanpa mampu berkata sedikit pun. Begitu pula dengan Abah yang terus mendekapku sembari mengucap kata maaf berulang-ulang. Hatiku sangat hancur melihat Abah tak berdaya dan tampak menyesal karena tak mampu lagi menjagaku seperti sedia kala.

Hari telah berganti minggu. Tidak terasa sudah seminggu lamanya Abah terbaring di sini. Semua itu aku jalani bersama Abah di rumah sakit. Abah harus mendapatkan perawatan yang intesif akibat luka yang terus bertambah dan merembes berulang kali mengenai kasur dan juga selimutnya. Pemandangan seperti ini yang setiap hari aku saksikan. Mengganti pakaian Abah dan memberikan kain yang berlapis-lapis agar tempat tidur Abah tidak terlampau basah. Aku hanya bisa sabar dan ikhlas dalam melayani Abah. Tak jarang aku sering menangis saat di luar ruangan dan terkadang meraung sejadi-jadinya. Batinku sangat hancur, namun aku sadar ini adalah cobaan hidup karena Tuhan amat menyayangiku. Aku kuatkan hatiku agar tampak tegar di hadapan Abah. Ku coba menuju wastafel untuk menghapus jejak aliran tangis di pipi dan kembali menemui Abah lagi.

“Abah…sudah waktunya makan siang dan minum obat. Merya suapin Abah, ya! Ucapku sembari mengambil makanan di meja. Abah pun mengangguk pelan.

“Nduk…kamu Ndak pulang? Sudah beberapa hari kamu gak ke toko, anak-anak juga gimana? Kasian Nduk…” tanya Abah dengan suara yang masih lemah

“Abah gak usah banyak pikiran. Toko sudah dihandle Tika, anak-anak ngaji sementara ini Merya liburkan. Merya ingin menjaga Abah di sini” kataku memberi penjelasan

“Abah di sini kan ada yang merawat, Nduk! Gak usah dipikirin, tunaikan tanggungjawabmu dulu,” ucapnya lirih

“Tapi menjaga Abah adalah kewajiban Merya. Jangan suruh Merya pulang Abah,” jawabku sedikit memelas. Abah hanya sedikit mengangguk sambil menepuk tanganku.

Seperti biasanya, aku bermalam di rumah sakit menemani Abah Wibowo. Selepas shalat isya, tiba-tiba Abah memanggilku dan menyuruhku mendekat.

“Pripun, Bah? Abah mau ke kamar mandi?” tanyaku

“Duduk, Nduk! Abah mau bicara,” perintahnya sambil menunjuk ke kursi samping ranjang tidur. Aku yang belum sempat melipat mukena pun segera menuruti perkataan Abah.

“Nduk, sudah waktunya kamu memikirkan masa depanmu,” ungkapnya dengan tiba-tiba

“Masa depan pripun, Bah? Usaha Merya sejauh ini masih bisa diandalkan. Abah jangan khawatir,” jawabku menimpali

“Bukan, Nduk! Pikirkan hati dan perasaanmu. Sudah saatnya kamu menikah dengan laki-laki pilihanmu. Abah tidak akan memberikan syarat macam-macam seperti waktu itu.

“Merya pasti menikah kok, Bah! Tapi setelah Abah sembuh ya,” kataku tersenyum

“Abah tidak mau meninggalkan Merya sendiri di dunia ini. Abah harus memastikan kamu ada yang menjaga jadi kamu harus segera menikah agar Abah tenang,” katanya sambil menarik tanganku

“Abah mau pergi kemana? Ya harus disini sama Merya. Abah harus menepati janji Umi. Begitu pula Merya, akan menggantikan posisi Umi dalam menjaga Abah.

“Maut itu tidak mengenal nanti, Nduk! Manut nggeh sama Abah,” ucap Abah sedikit memohon.

“Sudahlah, Bah! Jangan nglantur kemana-mana. Kalau Merya menikah, Abah sama siapa? Siapa yang  menjaga Abah? Abah itu satu-satunya kekuatan Merya, kunci surga Merya. Merya hanya ingin menjalankan bakti Merya sebagai anak. Anak sholihah yang penuh kemuliaan seperti harapan Umi dan Abah!!” jawabku dengan nada yang tiba-tiba meninggi.

Tidak terasa mataku telah memerah dengan air mata yang terus tumpah. Kedua pipi telah basah dengan isak yang semakin membuat dada sesak. Aku tak sanggup lagi menyembunyikan semua kesedihan itu dari Abah. Semua perkataan Abah, terasa begitu menamparku. Abah pun segera menenangkanku dengan pelukan hangatnya. Yah benar….hingga saat ini hanya Abahlah yang menjadi satu-satunya pelipur laraku.

            Keesokan paginya, lagi-lagi aku dikejutkan dengan kabar buruk perihal kondisi Ayah. Kesehatannya semakin menurun dengan tampilan monitor yang terus-menerus menunjukkan penurunan. Dokter dan perawat yang berjaga segera mengambil tindakan. Dari hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kadar gula tubuh Abah telah naik diambang batas, sehingga pembuluh darahnya rusak dan berpengaruh pada fungsi kerja jantungnya. Tamparan pagi ini lebih menyakitkan dibanding perkataan Abah semalam. Tubuhku semakin lemas dengan keringat dingin yang terus bercucuran menyaksikan dokter menempelkan alat-alat itu ke dada Abah. Mencoba terus beristighfar dan memohon doa kepada Tuhan untuk kesembuhan Abah..

            Aku hanya bisa diam terpaku menyaksikan angka monitor yang terus menurun dengan cepat. Dari 80 bewarna hijau hingga turun ke 20,10, dan 0 dengan warna merah menyala. Aku tak bisa lagi mengontrol diri. Menjerit sejadi-jadinya dan menangis sejadi-jadinya, hingga suara amat tercekat bak sedang tercekik sungguh menyakitkan. Mulanya aku merasa ini hanyalah mimpi buruk. Tapi rupanya Tuhan tidak sedang bercanda. Abah berpulang tepat lima bulan kepergian Umi ke pangkuan Illahi. Dokter di ruangan itu ku minta kembali memeriksa Abah. Aku memohon seperti orang tak berakal. Namun, laki-laki berjas putih dengan kalung stetoskop hanya berkata maaf…maaf…dan maaf. Detik itu juga aku menjadi gadis yatim piatu karena kunci surga terakhirku telah berbeda dimensi. Cinta pertamaku hilang bersamaan dengan selimut rumah sakit yang telah tersingkap menutup sekujur tubuh Abah. Cintaku telah terbujur kaku, meninggalkan harta terbesarnya. Aku, Elmerya Hasena anak Abah.

            Kini, semuanya terasa semakin mengabu. Tidak ada warna-warni keceriaan. Rumah menjadi sunyi karena segala aktivitas yang biasa aku lakukan bersama Abah hanya tertinggal dalam ingatan. Aku telah rela melepas Abah dan hidup mandiri bersama pesan-pesan kedua orang tuaku. Dan Sang Sutradara alam semesta benar-benar menunjukkan janjinya, setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Satu tahun berselang dari kepulangan Abah, Allah menghadirkan laki-laki sholeh dihadapankan. Aku dipertemukan kembali dengan kekasih lamaku, namun dengan jati diri yang berbeda. Ia tampak sangat dekat dengan ketaqwaan. Bukan lagi sebagai pemuda yang mudah mencampakkan dan tidak memuliakan wanita. Semua penilaian dan rasa benciku kepadanya telah berubah. Laki-laki itu kembali meluluhkan benteng pertahananku. Hatiku kembali mencair dan ku terima pinangan itu. Dan aku berjanji akan berbakti kepadanya seperti Umi yang selalu menaruh bakti dan hormatnya kepada Abah. Cinta pertamaku kini kembali tumbuh, meskipun sedikit berbeda. Baktiku kepada suamiku akan menuntunku kembali bersatu dengan Abah dan Umi di surga.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen : Siapa Kamu ?

  Siapa kamu      Pagi yang sangat berembun karena semalaman turun hujan deras, setelah cuaca agak terang segerombolan ibu-ibu dan bapak-bapak bersiap untuk memulai aktivitas mereka. Pekerjaan sebagian besar orang di desa Insoe merupakan petani. Pagi itu tidak sengaja para ibu-ibu dan bapak-bapak menemukan sebuah koper besar berwarna hitam pekat, mereka bertanya-tanya milik siapa itu, kenapa koper sebagus itu di buang di ladang pertanian. Semakin penasaran dengan isi koper itu para petani pun mulai membukanya.      Terceganglah mereka bahwa isi dari koper hitam itu merupakan sesosok mayat wanita. Panik melanda seluruh petani, desapun menjadi geger dibuatnya. Kepala desa langsung memanggil petugas kepolisian, agar mereka bisa mengidentifikasi mayat tersebut. Petani dan warga setempat tidak berani mendekat, setelah polisi datang barulah seorang mayat perempuan itu dikeluarkan dari koper. Sungguh malang nasib perempuan tersebut, tubuhnya dipenuhi deng...

CERPEN PANGGILAN PADA HARI HUJAN

  CERPEN  PANGGILAN PADA HARI HUJAN Ho Ngoc Hieu Yuni diam-diam bergulir kursi roda ke jendela. Gerimis dari sore kemarin ke pagi hari ini masih belum berhenti. Dia duduk di sana dengan diam, tidak ingin melihat ke luar jendela bahkan sekali pun. Meskipun bunga-bunga, tanaman riang, pohon dan rumput, vitalitas subur di bawah hujan tipis tembus ... *** Itu sudah setengah tahun dari hari kecelakaan mengerikan terjadi. Dalam perjalanan dari sekolah pulang rumah, Yuni tertabrak dengan bus, kakinya dihancurkan hingga harus mengamputasi. Semua mimpi, ambisi dari seorang gadis berusia lima belas tahun dihancurkan oleh kecelakaan tragis itu. Dari seorang gadis manis, ramah, sering menyenangkan dan percakapan dengan semua orang di kelilingnya. Sejak waktu itu, Yuni tidak mau lagi berbicara, pertemuan atau hubungi dengan orang yang lain, kecuali orangtuanya. Yuni berpikiran bahwa hidupnya begitu berhenti, semua hal yang baik dalam kehidupan akan tidak pernah datang sama dia lagi ....

Topeng Monyet

  Topeng Monyet Oleh: Kholilatuz Zuhria “Dung dung, drrung dung dung!” “Dung dung, drrung dung dung!”   Inilah gending yang paling akrab di telingaku. Bukan akrab seperti kalian dengan teman-teman kalian. Tapi aku terpaksa mengakrabinya karena gending inilah gending yang paling lama kudengar. Selama yang dapat aku ingat, hampir tiap hari aku mendengar gending itu. Tak tanggung-tanggung mungkin lebih lama dari waktu manusia bekerja atau menuntut ilmu tiap hari. Entahlah, aku ini apes atau beruntung. Yang jelas, aku dibeli Tuanku di pasar hewan di dekat Alun-alun Tugu saat aku belum genap 1 tahun. Sejak saat itu, aku mengabdi padanya. Selebihnya, aku tidak bisa mengingat. Dari mana aku, kemana orang tuaku, aku tidak ingat lagi. *** “Aya, Kopral! Salto ke belakang!” Teriakan Tuanku sontak mengagetkanku yang asyik mengunyah butir-butir kacang pemberian penonton. Aku pun salto berkali-kali di hadapan puluhan anak kecil. Mereka tepuk tangan nampak gemas melihatku, bebe...