Langsung ke konten utama

PUISI SEPASANG SEPATU

PUISI 

SEPASANG SEPATU

Ho Ngoc Hieu

Puisi pertama yang kutulis untukmu

Ialah puisi tentang sepasang sepatu

Saat kerinduanmu di hatiku penuh

Bahkan hal-hal sepele kutulis menjadi puisi

Kapan sepasang sepatu itu bertemu

Tak cinta tapi tak terpisah satu langkah

Bahu-membahu menghadapi suka dan duka

Ke gunung ke laut ke dunia

Berjalan bersama, tidak beda pendek dan tinggi

Meski kekuatan orang yang mengijak

Meski hormat dan rasa malu tak pernah terputus

Nasib satu tergantung pada yang lain

Jika suatu hari ada satu yang hilang

Semua pengganti menjadi tak seimbang

Walaupun sangat mirip, tetapi yang pakainya akan tahu

Keduanya bukan sepasang

Seperti aku tanpamu

Hanya satu sisi langkah aku menuju

Padahal ada pengganti di sebelahku

Tapi di hatiku, rindumu ada selalu

Sepasang sepatu tak berjiwa yang berjalan beriringan

Tak sumpah tapi tak bohong

Tak janji tapi tak pengkhianatan

Kedua selalu berjalan bersama

Sangat diperlukan dalam perjalanan hidup

Padahal masing-masing ada di sisi kanan dan kiri

Tapi aku mencintaimu dari hal-hal yang terbalik

Tetap bersama untuk berjalan

Dua keping kehidupan diam-diam berjalan berdampingan

Akan berhenti ketika hanya ada satu yang tersisa

Hanya ada satu yang tersisa adalah tak berguna

Jika kamu tak dapat menemukan yang kedua!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen : Siapa Kamu ?

  Siapa kamu      Pagi yang sangat berembun karena semalaman turun hujan deras, setelah cuaca agak terang segerombolan ibu-ibu dan bapak-bapak bersiap untuk memulai aktivitas mereka. Pekerjaan sebagian besar orang di desa Insoe merupakan petani. Pagi itu tidak sengaja para ibu-ibu dan bapak-bapak menemukan sebuah koper besar berwarna hitam pekat, mereka bertanya-tanya milik siapa itu, kenapa koper sebagus itu di buang di ladang pertanian. Semakin penasaran dengan isi koper itu para petani pun mulai membukanya.      Terceganglah mereka bahwa isi dari koper hitam itu merupakan sesosok mayat wanita. Panik melanda seluruh petani, desapun menjadi geger dibuatnya. Kepala desa langsung memanggil petugas kepolisian, agar mereka bisa mengidentifikasi mayat tersebut. Petani dan warga setempat tidak berani mendekat, setelah polisi datang barulah seorang mayat perempuan itu dikeluarkan dari koper. Sungguh malang nasib perempuan tersebut, tubuhnya dipenuhi deng...

CERPEN PANGGILAN PADA HARI HUJAN

  CERPEN  PANGGILAN PADA HARI HUJAN Ho Ngoc Hieu Yuni diam-diam bergulir kursi roda ke jendela. Gerimis dari sore kemarin ke pagi hari ini masih belum berhenti. Dia duduk di sana dengan diam, tidak ingin melihat ke luar jendela bahkan sekali pun. Meskipun bunga-bunga, tanaman riang, pohon dan rumput, vitalitas subur di bawah hujan tipis tembus ... *** Itu sudah setengah tahun dari hari kecelakaan mengerikan terjadi. Dalam perjalanan dari sekolah pulang rumah, Yuni tertabrak dengan bus, kakinya dihancurkan hingga harus mengamputasi. Semua mimpi, ambisi dari seorang gadis berusia lima belas tahun dihancurkan oleh kecelakaan tragis itu. Dari seorang gadis manis, ramah, sering menyenangkan dan percakapan dengan semua orang di kelilingnya. Sejak waktu itu, Yuni tidak mau lagi berbicara, pertemuan atau hubungi dengan orang yang lain, kecuali orangtuanya. Yuni berpikiran bahwa hidupnya begitu berhenti, semua hal yang baik dalam kehidupan akan tidak pernah datang sama dia lagi ....

Topeng Monyet

  Topeng Monyet Oleh: Kholilatuz Zuhria “Dung dung, drrung dung dung!” “Dung dung, drrung dung dung!”   Inilah gending yang paling akrab di telingaku. Bukan akrab seperti kalian dengan teman-teman kalian. Tapi aku terpaksa mengakrabinya karena gending inilah gending yang paling lama kudengar. Selama yang dapat aku ingat, hampir tiap hari aku mendengar gending itu. Tak tanggung-tanggung mungkin lebih lama dari waktu manusia bekerja atau menuntut ilmu tiap hari. Entahlah, aku ini apes atau beruntung. Yang jelas, aku dibeli Tuanku di pasar hewan di dekat Alun-alun Tugu saat aku belum genap 1 tahun. Sejak saat itu, aku mengabdi padanya. Selebihnya, aku tidak bisa mengingat. Dari mana aku, kemana orang tuaku, aku tidak ingat lagi. *** “Aya, Kopral! Salto ke belakang!” Teriakan Tuanku sontak mengagetkanku yang asyik mengunyah butir-butir kacang pemberian penonton. Aku pun salto berkali-kali di hadapan puluhan anak kecil. Mereka tepuk tangan nampak gemas melihatku, bebe...