Langsung ke konten utama

WAKTU YANG MENJAWAB

 

Di suatu Desa yang sangat asri, suasananya yang sangat sejuk, pepohonan yang teduh. Terlahirlah anak lelaki yang memiliki kakak dan adik dari 6 saudara, bocah kecil ini di urutan ke 5. Bocah lelaki ini bernama Ahmad, ayah dan ibunya hanyalah seorang petani yang terpandang karena turun menurut memiliki keturunan orang terkaya yang memiliki ladang yang sangat luas dan keturunan Kepala Desa dari jaman Desa awal ada. Ahmad merupakan anak kecil yang sangat mandiri, suka membantu kedua orang tuanya, dan sangat penyayang keluarganya.

            Ahmad panggilan keluarganya, tetapi akrab di panggil sapari oleh teman-temannya semasa kecil dan sekolahnya. Kegiatan Ahmad sehari-hari setelah pulang sekolah mencari rumput untuk memberi makan sapi dan kambing ternak ayahnya. Jika libur sekolah Ahmad suka membantu di lading atau di sawah bersama ayah dan ibunya. Kegiatan sehari-hari Ahmad berbeda dengan saudara-saudaranya. Ahmad membantu kedua orang tuanya itu semata-mata keingginanya sendiri. Kakak dan adik Ahmad membantu kedua orang tuanya tetapi itu menunggu untuk disuruh. Ahmad memang orangnya suka bekerja keras. Meskipun dia suka membantu kedua orang tuanya di lading dan mencari rumput sepulang sekolah, Ahmad tidak pernah melupakan penampilannya.

            Sisir merah kecil selalu di simpan didalam kantong celananya, Ahmad tidak suka jika ramputnya berantakan. Ahmad tidak pernah di manja oleh kedua orang tuanya. Jika Ahmad ingin membeli sesuatu slalu tidak di penuhi oleh kedua orang tuanya. Berbeda dengan kakak dan adik Ahmad yang selalu dipenuhi keingginannya. Tapi, Ahmad tidak berputus asa sampai disini. Ahmad berusaha untuk bekerja untuk mencari uang, dan uang tersebut di tabung untuk membeli yang Ahmad mau atau yang dibutuhkan. Semenjak itulah kehidupan Ahmad dimulai !.

            Ahmad anak kecil yang duduk di kelas 6 SD, yang setelah sekolah ia pergi mencari rumput untuk hewan ternak dan disisi lain rumput yang lain untuk dijual. Uang yang diperoleh ditabung sendiri. Ahmad tidak pernah meminta apapun ke orang taunya. Ada rasa iri di dalam hatinya melihat kakak dan adiknya yang selalu di kasih tanpa meminta. Tapi Ahmad menepis rasa iri itu dan rasa saying terhadap keluarganya pun tidak pudar. Ahmad meyakinkan dirinya bahwa ia bias sendiri dan ia bisa sukses dengan hasilnya sendiri.

            Suatu hari Ahmad setelah ujian kelulusan sekolah dasar, Ahmad duduk di depan rumah sendiri. Ayah Ahmad duduk disebelahnya lalu bertanya kepada Ahmad.

           

“ Apa rencana mu nak selanjutnya ??”

           

 Ahmad ingin sekolah SMP yang Ahmad harapkan yah.” Kata Ahmad.

           

“ Silahkan kamu memilik sekolah dimanapun yang Ahmad mau, Ayah tidak bisa memberikan kamu lebih. Ayah hanya bisa memberikan kamu uang besok untuk kamu mendaftar disekolah. Dan Ayah tidak bisa mengantarkan kamu ya Mad. Dan ingat pesan Ayah Mad, Ayah tidak bisa memberikan kamu apa-apa. Belajarlah dengan baik disekolah mu dan pertanggung jawabkan kemauanmu di sekolah disana.” Jawab Ayah

 

Ahmad hanya terdiam dan menoleh ke arah Ayahnya. Tatapan Ahmad penuh harapan ke ayahnya. Ahmad memberanikan diri untuk bertanya kepada Ayahnya.

 

“Ayah kenapa tidak mau mengantarkan aku kesekolah baru … ?” Tanya Ahmad

 

“Nak, suatu saat nanti kamu akan paham maksud dari ayah ini. Sudah Mad ayah masuk kedalam dulu.” (Ayah meninggalkan Ahmad masuk kedalam rumah).

 

            Ahmad menangis, merasa bahwa kedua orang tuanya tidak sayang dengan Ahmad. Perlakuan kedua orang tuanya berbeda dengan saudara yang lain. Ahmad hanya ingin seperti saudaranya yang slalu di antar kesekolah barunya. Tapi hal kecil itu tidak didapatkan oleh Ahmad.

 

            “Ya Allah, kenapa ayah dan ibuku memperlakukan aku berbeda dengan kakak-kakakku dan adik ku ?. Apa aku salah Ya Allah ingin diantar kesekolah baruku nanti ? apa aku ada salah sehingga aku di hukum seperti ini ?”. (Penuh dengan pertanyaan di hati Ahmad)

 

            Esok harinya. Ahmad sudah berpakaian rapi, rambut disisir rapi, dan tidak lupa sisir merah di simpan di dalam saku celananya. Duduklah di meja makan yang penuh dengan makanan yang lengkap. Ahmad sarapan dengan kakaknya yang bernama Hasan.

 

              “ Kamu mau kemana pagi-pagi sudah rapi banget, bukannya kamu sekarang lagi libur lulusan sekolah mu ?.” Tanya Hasan.

 

“ Iya… liburan, Tapi aku mau mendaftar sekolah SMP mau mengambil formulir.” Jawabnya sambil mengambil nasi dipiring.

 

              “ Memangnya ayah enggak mengantarkan kamu ?, kamu berani berangkat sendiri ?” Tanya Hasan (badan Hasan menghadap Ahmad)

 

              “ Kenapa si mas Tanya-tanya, kamu mau mengantarkan aku tidak kalau ayah tidak bisa mengantarkan aku ?” Tanya Ahmad balik dengan nada kesal.

             

              Iya aku cuman tanya aja, aku kan juga belum libur sekolah jadi enggak bisa anterinlah.” Jawab Hasan (nada cuek)

 

            Suasana yang hening, di meja makan tidak lengkap karena ayah dan ibunya Ahmad sudah pergi ke sawah karena lagi panen padi. Dengan pertanyaan Hasan kepada Ahmad, suasana hati Ahmad merasa kesal dan ingin menangis. Ahmad jalan kaki menuju sekolah SMP yang di inginkan, karena lewat jalan raya sangat jauh, akhirnya Ahmad lewat sawah dan menyebrang sungai supaya cepat sampai sekolah tersebut. Tidak ada kata mengeluh meskipun panas, semuanya dilewati oleh Ahmad dengan semangatnya.

 

*6 tahun kemudian ….. !!!!

           

            Ahmad telah lulus SMA, dan Ahmad memikirkan harus bekerja apa supaya bisa membantu kedua orang tuanya. Semua pekerjaan di coba dan dijalanin oleh Ahmad. Baik menjadi buruh di sawah, mencari rumput untuk dijual ke peternak, dan menjadi kernet angkutan umum dijalanin oleh Ahmad. Uang upahnya dikumpulkan ditabung oleh Ahmad. Hebatnya Ahmad dari kecil dapat mencari uang sendiri dan tidak merepotkan kedua orang tuanya. Bedanya dengan saudaranya baik itu kakak atau adiknya. Mereka tidak mau berusaha sendiri, hanya bisa menggantungkan kedua orang tua. Ahmad sangat peduli dengan saudara-saudaranya ketika memiliki uang lebih pasti membelikan makanan yang bisa di makan bersama dengan keluarganya.

            Suatu hari Ahmad diajak oleh kakak sepupunya untuk menjadi kernet angkutan umum. Dan Ahmad sangat senang sekali karena merasa memiliki pekerjaan dan tidak mencari-mencari lagi. Tapi dengan syarat setiap pagi sebelum menarik atau jalan mencari pelanggan Ahmad harus mencuci mobil angkutan tersebut. Tanpa Ahmad merasa mengeluh slalu dikerjakan setiap pagi. Semangat Ahmad terlihat dari raut mukanya dan kebahagiaan yang di rasakan ketika selama bekerja meskipun rasa panas dan lelah Ahmad senang tidak putus asa untuk mencari pelanggan. Ahmad ikut kakak sepupunya bekerja selama 4 tahun, tidak tahu kenapa tiba-tiba Ahmad setelah mencuci mobil angkut dan Ahmad mulai bersiap-siap untuk berangkat. Malah di tinggal oleh kakak sepupunya tanpa ada pembicaraan apapun dan esoknya pun Ahmad juga ditinggal begitu saja tidak diajak lagi. Ahmad bertanya-tanya pada dirinya apakah ada kesalahan yang kakak sepupunya merasa kecewa atau tersinggung sehingga Ahmad tidak diajak lagi bekerja. Dan Ahmad tidak menceritakan masalah ini ke dua orang tuanya. Ahmad tidak ingin membuat beban kedua orang tuanya.

 

“Kenapa sudah mulai nyaman bekerja kok jadi beginin ?, kenapa tiba-tiba aku didiamin tanpa ada sebab begini…..?. ah, kalau begini terus bisa-bisa uang tabunganku habis dan tidak ada masukan lagi. Aku harus berputar otak untuk mencari kerja lagi !!!!!” (bicara sendiri dengan diri sendiri, sambil rebahan dikamar)

 

Tiba-tiba ibu Ahmad mengetuk pintuk kamar.

 

Mad…Ahmad… !!!” (teriak ibu)

 

Iya…iya sebentar ibu. (membuka pintu). Iya bu ada apa bu kok manggil-manggil ?” (Tanya Ahmad)

 

“Kamu gak laper mad ? ya ayok makan bersama kamu dari pagi udah di kamar terus mad udah enggak kerja, enggak keluar kamar, kamu ada apa mad ? ada masalahkah dengan kakak sepupumu ?” (Tanya ibu dengan curiga)

 

hmmm….hmm enggak kok bu, ahmad cuman itu… apa bu hmmm… Ahmad cuman capek aja pengen istirahat dulu gitu bu” (merasa ragu menjawab tapi tetap berusaha untuk menutupin)

 

Iya sudah ayok makan ditunggu sama bapak dan semuanya !”

 

            Ahmad duduk di meja makan dekat ibunya, dengan diam dan takut ditanya sama ayahnya kenapa sudah beberapa tidak bekerja. Wajah kebingungan tampak sekali, tapi Ahmad berusaha seperti tidak apa-apa. Suasana meja makan seperti biasa kakak-kakak Ahmad dan adik Ahmad bergurau di meja makan. Tanpa disadari bapak Ahmad memperhatikan diamnya Ahmad yang berbeda sebelumnya. Setelah saudaranya pun mulai tenang setelah bergurau tiba-tiba ayah Ahmad bertanya dengan tenang

 

Mad …. Kamu baik-baik saja nak ? Apa kamu lagi sakit ? kok ayah lihat beberapa hari ini kamu tidak kerja ikut kakak sepupumu ? tidak berantem juga kan ya nak ?” (Pandangannya penuh dengan harapan baik-baik saja)

 

Iya Yah aku baik-baik saja, aku cuman ingin istirahat saja dirumah beberapa yah. Badan Ahmad merasa capek sekali soalnya daripada Ahmad memaksa kerja takutnya tidak fokus dan tidak dapat pelanggan gitu yah!” (berusaha menjawab dengan yakin)

 

Baiklah Mad, ayah percaya bahwa Ahmad tidak membohongi Ayah dan ibu ya… dan Ahmad tidak sendirian disini. Apapun yang terjadi kamu bisa cerita sama Ayah atau dengan Ibumu. Bisa juga Ahmad cerita dengan kakak-kakak mu Mad.” (jawab ayah)

 

            Suasana tmenghening, dan Ahmad merunduk tidak tahu apa yang tiba-tiba mengubah pikiran Ahmad saat itu. Ahmad memulai putar otak tidak bisa seperti ini. Semangat Ahmad kembali dan di meja makan tersebut Ahmad memutarakan keputusan yang Ahmad tidak tahu bisa atau tidak. Dan tujuan Ahmad nantinya kemana. Yang membuat Ayah dan saudara-saudaranya terkejut.

 

Yah, Ahmad mau berbicara dan ijin sama Ayah dan Ibu, Ahmad tidak ingin apa-apa tapi Ahmad minta doa restu. Ahmad punya rencana ingin ke Surabaya mencari kerja disana. Karena aku disini merasa tidak bisa menjamin. Aku pingin mandiri !” (mulut yang kaku yang berusaha untuk berbicara)

 

“(Semuanya menoleh ke arah Ahmad sambil terkejut)”

 

Mad kenapa tiba-tiba mengambil keputusan begitu Nak ? di sini banyak sekali kerjaan tanpa Ahmad harus ke Surabaya. Nanti Ahmad di sana ikut siapa ?” (Tanya ibu dengan rasa khawatir)

 

“(Ahmad berdiam dengan merunduk)”

 

Mad begini ya.. merantau di kota besar harus punya tujuan dan itu tidak sangat mudah sedangkan kamu yang tidak punya pengalaman di kota besar sepeerti Surabaya. Lalu kamu di sana tinggal dimana itu harus disiapkan Nak bukan dengan tiba-tiba dan asalan begini. Ayah tahu kamu sangat ingin hidup mandiri tapi bukan terburu-buru. Jika ada masalah diselesaikan dulu dengan berfikir tenang. Bukan untuk lari dari masalah lalu kamu memilik keputusan tinggal di luar Kota Nak   !. Sudah Mad sekarang kamu tidur saja dulu pikirkan baik-baik atas keputusan mu itu tadi.” (Sambil mempersilahkan Ahmad meninggalkan meja makan)

 

“(Ahmad berdiri dan pergi kekamarnya, dan saudara-saudaranya memandangi Ahmad yang melangkah meninggalkan meja makan)”

 

            Ayah dan Ibunya sangat terkejut dan semakin bertanya-tanya dengan keputusan Ahmad yang tiba-tiba ingin merantau ke kota besar, rasa khawatir seorang ibu yang tidak bisa ditutupin lagi. Ayah dengan tenang mencoba untuk menenangkan pikiran dan rasa khawatir ibu Ahmad. Posisi Ahmad yang semakin bingung sendiri dengan keputusan yang terlontar begitu saja. Ahmad juga menyadari bahwa dia tidak mempunyai pengalaman yang baik di Kota Besar seperti Surabaya. Ahmad menghabiskan malam dengan merenung dan kebingungan rasa bimbang. Ayah dan Ibu Ahmad berusaha suasana di meja makan akan baik-baik saja supaya Ahmad tidak canggung dengan keluarganya.

            Pagi yang sejuk ayah Ahmad menikmati kopi di depan teras rumah dengan santai. Ibu ahmad yang sibuk masak di dapur. Kedua orang tua Ahmad tidak pergi kesawah untuk sekarang dan sama-sama beristirahat di rumah. Ahmad tidak sengaja keluar ke teras rumah dengan  cangguh

 

Mad … sini duduk” (Ayah memanggil)

 

iya Yah …” (nyamperin Ayah dan duduk di sebelahnya)

 

Gimana Mad kenapa kamu kemarin ?” (tanpa Ayah)

 

Gini Yah, Aku tu ingin sekali punya pengalaman yang lebih supaya suatu saat nanti aku punya cerita sendiri dan bisa bangga dengan diriku sendiri. Jika aku hanya kerja di sini-sini aja aku merasa tidak berkembang dan tidak punya pengalaman yang Ahmad ceritakan untuk teman-teman ataupun semuanya. Tapi semua itu kembali ke ayah dan ibu merestui Ahmad untuk pergi atau tidak. Ayah tahu kan bahwa aku ingin sekali membantu orang-orang desa supaya maju dan ingin memimpin Desa ini supaya lebih baik lagi seperti mbah-mbah uyut dulu waktu memperjuangkan Desa lebih baik. Ya Ahmad tahu yah ini keputusan yang tidak mudah dan tidak gampang sekali untuk ditempuh. Tapi Bissmillah Ahmad yakin dan bisa Ayah.” (Ahmad berusaha untuk menjelaskan dengan baik)

 

“(Menghembuskan nafas), Ayah paham inginnya Ahmad, bukannya Ayah melarang Ahmad untuk pergi. Kejarlah nak apa yang sesuia dengan keingginan mu dan cita-citamu. Ayah dan ibu hanya bisa mendoakan semoga kamu diberikan kelancaran. Ayah semalam ngomong begitu karena Ayah tidak mau Ahmad menjalaninnya setengah-setengah. Ahmad nantinya tidak akan merasakan dengan benar. Jika memang tujuan mu begitu ayah yakin Ahmad bisa memilih mana yang benar dan mana yang tidak harus di jalankan sama Ahmad, pergilah Mad nanti Ayah bantu kasih pengertian ke Ibu mu. Tapi Ayah tanpa sama Ahmad, Ahmad ada uang untuk bertahan di sana semalam kamu mencari kerja ?” (jawab Ayah)

 

Ada yah dan Insya’allah cukup buat Ahmad, terimakasih banyak Ayah sudah memahami Ahmad dan mendoakan Ahmad.” (Wajah bahagia dan memegang tangan ayah)

 

*tiba-tiba ada mobil parker di depan rumah untuk bertamu

 

sudah Mad kamu masuk dulu ada tamu” (sambil berdiri dengan menengok-nengok siapa yang dating)

 

Baik Yah, ahmad ke dalam dulu” (Ahmad bergegas pergi)

 

Assalamualaikum …….” (teriak teman Ayah Ahmad)

 

Walaikumsalam…. Oh kamu apakabar sudah lama tidak berjumpa, sini-sini duduk bersantai.” (sambil berjabat tangan) Kamu mau kemana ? (Tanya Ayah Ahmad)

 

(ketawa) mau mampir kesini aja. Aku mau ke Surabaya ini jualan sayur di pasar sana. Alhamdulillah banyak pelanggan dan sekarang aku kerja di sana sudah lama sekali. Ini tadi aku ambil sayur di desa atas sana loh sekalian mampir kan ngelawatin sebentar-sebentar gitu”. (jawab Pak Nan)

 

Wah jadi juragan sayur ya sekarang. Alhamdulillah Nan kamu sukses sekarang. Barusan anak ku juga pengen ke Surabaya buat cari kerja disana. Tapi gak tahu tu Ahmad mau cari dimana Nan” (jawab Ayah Ahmad)

 

Wah kebetulan Ahmad anak mu mau gak ya kerja jadi karyawan ku buat anterin sayur di pelanngan ke rumah makan gitu. Aku belum ada karyawan ini soalnya” (berusaha menawarkan)

 

Wah pas sekali ini tidak merepotkan ta ini ? jadi gak enak loh aku ini. Bukan maksud ku begitu loh Nan” (jawab ayah dengan sungkan)

 

Santai, tapi aku tidak memaksa ya tergantung Ahmad mau apa tidak terserah” (Jawab balik Pak Nan)

 

Sebentar ya Nan. Maaaaad. Ahmaaaaaad nak kesini mad….. (teriak Ayah Ahmad)”

 

Iya Yah ada apa ?” (Ahmad datang)

 

Ini loh Pade Nan ada lowongan kamu mau gak jadi karyawannya Pade Nan yang mengantarkan sayur-sayur di pelanggannya. Pade Nan tidak memaksa juga si mau mau apa tidak. Terserah Ahmad saja” (Tanya Ayah)

 

Mau yah, pade Ahmad mau sekali apapun kerjanya Ahmad mau yang penting halal” (Wajah girangnya Ahmad terlihat)

 

Yasudah kalau Ahmad mau siap-siap pade tunggu kita berangkat sekarang ya” (Jawab Pak Nan)

 

(Ahmad lari untuk bersiap-siap)

 

Anak mu semangat sekali (sambil tertawa)” (Kata Pak Nan)

 

Beberapa menit menunggu akhirnya Ahmad sudah selesai bersiap-siap dan berpamit ke dua orang tuanya. Ibu yang belum siap untuk melepaskan, tapi ketika Ahmad berpamitan menunjukan tegar dan slalu mendoakan Ahmad baik-baik saja dan berusaha untuk tenang. Ahmad pergi ke Surabaya dengan wajah bahagia. Sedikit lega Ayah melihat Ahmad bekerja dengan teman baiknya. Ahmad bekerja dengan bahagia dan menyukai pekerjaannya. Ahmad merasa bukan karyawan tapi Ahmad merasa membantu seorang Ayahnya sendiri untuk bekerja. Karena perilaku Pak Nan yang menganggap Ahmad sebagai anaknya sendiri.

Ahmad melawati lika-liku dan bahagia bekerja dengan Pak Nan dengan waktu yang sangat lama sekali 7 tahun tepatnya. Dan Ahmad memiliki tabungan yang cukup, Pak Nan mengarahkan Ahmad untuk membuka sendiri tapi tidak di lepas dengan pantauan Pak Nan dan masih di belajarin menjadi pengusaha sayur bagaimana yang benar. Dan Ahmad memperhatikan, Pak Nan sangat senang sekali dengan semangat dan kejujuran Ahmad yang tidak mudah terpengaruh dengan siapapun. Ketika Ahmad bisa berdiri di atas kakinya dan menyukseskan usaha sayur di pasar. Ahmad mempunya banyak sekali pelanggan yang suka dengan perilaku Ahmad dan kesabaran Ahmad melayani. Bertemulah dengan wanita yang cantik rambutnya kriting dengan tai lalat di pipinya. Senyumnya manis yang membuat Ahmad terpikat. Berkenalan pun terjadi, dan tidak ingin mengajaknya berpacaran tetapi tidak tahu kenapa tiba-tiba Ahmad ingin sekali segera menikah dengannya.

Ahmad tidak menawarkan pernikahan pada wanita tersebut. Tapi Ahmad langsung berbicara kepada kedua orang tuanya meminta ijin untuk menikahin putrinya. Kedua orang tua si wanita tersebut merestui pernikahannya dan mereka hidup berbahagia dan sukses dalam usaha jualan sayur di pasar Kota Surabaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen : Siapa Kamu ?

  Siapa kamu      Pagi yang sangat berembun karena semalaman turun hujan deras, setelah cuaca agak terang segerombolan ibu-ibu dan bapak-bapak bersiap untuk memulai aktivitas mereka. Pekerjaan sebagian besar orang di desa Insoe merupakan petani. Pagi itu tidak sengaja para ibu-ibu dan bapak-bapak menemukan sebuah koper besar berwarna hitam pekat, mereka bertanya-tanya milik siapa itu, kenapa koper sebagus itu di buang di ladang pertanian. Semakin penasaran dengan isi koper itu para petani pun mulai membukanya.      Terceganglah mereka bahwa isi dari koper hitam itu merupakan sesosok mayat wanita. Panik melanda seluruh petani, desapun menjadi geger dibuatnya. Kepala desa langsung memanggil petugas kepolisian, agar mereka bisa mengidentifikasi mayat tersebut. Petani dan warga setempat tidak berani mendekat, setelah polisi datang barulah seorang mayat perempuan itu dikeluarkan dari koper. Sungguh malang nasib perempuan tersebut, tubuhnya dipenuhi deng...

CERPEN PANGGILAN PADA HARI HUJAN

  CERPEN  PANGGILAN PADA HARI HUJAN Ho Ngoc Hieu Yuni diam-diam bergulir kursi roda ke jendela. Gerimis dari sore kemarin ke pagi hari ini masih belum berhenti. Dia duduk di sana dengan diam, tidak ingin melihat ke luar jendela bahkan sekali pun. Meskipun bunga-bunga, tanaman riang, pohon dan rumput, vitalitas subur di bawah hujan tipis tembus ... *** Itu sudah setengah tahun dari hari kecelakaan mengerikan terjadi. Dalam perjalanan dari sekolah pulang rumah, Yuni tertabrak dengan bus, kakinya dihancurkan hingga harus mengamputasi. Semua mimpi, ambisi dari seorang gadis berusia lima belas tahun dihancurkan oleh kecelakaan tragis itu. Dari seorang gadis manis, ramah, sering menyenangkan dan percakapan dengan semua orang di kelilingnya. Sejak waktu itu, Yuni tidak mau lagi berbicara, pertemuan atau hubungi dengan orang yang lain, kecuali orangtuanya. Yuni berpikiran bahwa hidupnya begitu berhenti, semua hal yang baik dalam kehidupan akan tidak pernah datang sama dia lagi ....

Topeng Monyet

  Topeng Monyet Oleh: Kholilatuz Zuhria “Dung dung, drrung dung dung!” “Dung dung, drrung dung dung!”   Inilah gending yang paling akrab di telingaku. Bukan akrab seperti kalian dengan teman-teman kalian. Tapi aku terpaksa mengakrabinya karena gending inilah gending yang paling lama kudengar. Selama yang dapat aku ingat, hampir tiap hari aku mendengar gending itu. Tak tanggung-tanggung mungkin lebih lama dari waktu manusia bekerja atau menuntut ilmu tiap hari. Entahlah, aku ini apes atau beruntung. Yang jelas, aku dibeli Tuanku di pasar hewan di dekat Alun-alun Tugu saat aku belum genap 1 tahun. Sejak saat itu, aku mengabdi padanya. Selebihnya, aku tidak bisa mengingat. Dari mana aku, kemana orang tuaku, aku tidak ingat lagi. *** “Aya, Kopral! Salto ke belakang!” Teriakan Tuanku sontak mengagetkanku yang asyik mengunyah butir-butir kacang pemberian penonton. Aku pun salto berkali-kali di hadapan puluhan anak kecil. Mereka tepuk tangan nampak gemas melihatku, bebe...