Di
suatu Desa yang sangat asri, suasananya yang sangat sejuk, pepohonan yang
teduh. Terlahirlah anak lelaki yang memiliki kakak dan adik dari 6 saudara,
bocah kecil ini di urutan ke 5. Bocah lelaki ini bernama Ahmad, ayah dan ibunya
hanyalah seorang petani yang terpandang karena turun menurut memiliki keturunan
orang terkaya yang memiliki ladang yang sangat luas dan keturunan Kepala Desa
dari jaman Desa awal ada. Ahmad merupakan anak kecil yang sangat mandiri, suka
membantu kedua orang tuanya, dan sangat penyayang keluarganya.
Ahmad panggilan keluarganya, tetapi
akrab di panggil sapari oleh teman-temannya semasa kecil dan sekolahnya. Kegiatan
Ahmad sehari-hari setelah pulang sekolah mencari rumput untuk memberi makan
sapi dan kambing ternak ayahnya. Jika libur sekolah Ahmad suka membantu di
lading atau di sawah bersama ayah dan ibunya. Kegiatan sehari-hari Ahmad
berbeda dengan saudara-saudaranya. Ahmad membantu kedua orang tuanya itu
semata-mata keingginanya sendiri. Kakak dan adik Ahmad membantu kedua orang
tuanya tetapi itu menunggu untuk disuruh. Ahmad memang orangnya suka bekerja
keras. Meskipun dia suka membantu kedua orang tuanya di lading dan mencari
rumput sepulang sekolah, Ahmad tidak pernah melupakan penampilannya.
Sisir merah kecil selalu di simpan
didalam kantong celananya, Ahmad tidak suka jika ramputnya berantakan. Ahmad
tidak pernah di manja oleh kedua orang tuanya. Jika Ahmad ingin membeli sesuatu
slalu tidak di penuhi oleh kedua orang tuanya. Berbeda dengan kakak dan adik
Ahmad yang selalu dipenuhi keingginannya. Tapi, Ahmad tidak berputus asa sampai
disini. Ahmad berusaha untuk bekerja untuk mencari uang, dan uang tersebut di
tabung untuk membeli yang Ahmad mau atau yang dibutuhkan. Semenjak itulah
kehidupan Ahmad dimulai !.
Ahmad anak kecil yang duduk di kelas
6 SD, yang setelah sekolah ia pergi mencari rumput untuk hewan ternak dan
disisi lain rumput yang lain untuk dijual. Uang yang diperoleh ditabung
sendiri. Ahmad tidak pernah meminta apapun ke orang taunya. Ada rasa iri di
dalam hatinya melihat kakak dan adiknya yang selalu di kasih tanpa meminta.
Tapi Ahmad menepis rasa iri itu dan rasa saying terhadap keluarganya pun tidak
pudar. Ahmad meyakinkan dirinya bahwa ia bias sendiri dan ia bisa sukses dengan
hasilnya sendiri.
Suatu hari Ahmad setelah ujian
kelulusan sekolah dasar, Ahmad duduk di depan rumah sendiri. Ayah Ahmad duduk
disebelahnya lalu bertanya kepada Ahmad.
“ Apa rencana mu nak
selanjutnya ??”
“ Ahmad ingin sekolah SMP yang Ahmad harapkan
yah.” Kata Ahmad.
“ Silahkan kamu memilik
sekolah dimanapun yang Ahmad mau, Ayah tidak bisa memberikan kamu lebih. Ayah
hanya bisa memberikan kamu uang besok untuk kamu mendaftar disekolah. Dan Ayah
tidak bisa mengantarkan kamu ya Mad. Dan ingat pesan Ayah Mad, Ayah tidak bisa
memberikan kamu apa-apa. Belajarlah dengan baik disekolah mu dan pertanggung
jawabkan kemauanmu di sekolah disana.” Jawab Ayah
Ahmad
hanya terdiam dan menoleh ke arah Ayahnya. Tatapan Ahmad penuh harapan ke
ayahnya. Ahmad memberanikan diri untuk bertanya kepada Ayahnya.
“Ayah
kenapa tidak mau mengantarkan aku kesekolah baru … ?” Tanya Ahmad
“Nak, suatu saat nanti
kamu akan paham maksud dari ayah ini. Sudah Mad ayah masuk kedalam dulu.” (Ayah
meninggalkan Ahmad masuk kedalam rumah).
Ahmad menangis, merasa bahwa kedua
orang tuanya tidak sayang dengan Ahmad. Perlakuan kedua orang tuanya berbeda
dengan saudara yang lain. Ahmad hanya ingin seperti saudaranya yang slalu di
antar kesekolah barunya. Tapi hal kecil itu tidak didapatkan oleh Ahmad.
“Ya Allah, kenapa ayah dan ibuku
memperlakukan aku berbeda dengan kakak-kakakku dan adik ku ?. Apa aku salah Ya
Allah ingin diantar kesekolah baruku nanti ? apa aku ada salah sehingga aku di hukum
seperti ini ?”. (Penuh dengan pertanyaan di hati Ahmad)
Esok harinya. Ahmad sudah berpakaian
rapi, rambut disisir rapi, dan tidak lupa sisir merah di simpan di dalam saku
celananya. Duduklah di meja makan yang penuh dengan makanan yang lengkap. Ahmad
sarapan dengan kakaknya yang bernama Hasan.
“ Kamu mau kemana pagi-pagi sudah rapi
banget, bukannya kamu sekarang lagi libur lulusan sekolah mu ?.” Tanya Hasan.
“ Iya… liburan, Tapi
aku mau mendaftar sekolah SMP mau mengambil formulir.” Jawabnya sambil
mengambil nasi dipiring.
“ Memangnya ayah enggak mengantarkan kamu ?,
kamu berani berangkat sendiri ?” Tanya Hasan (badan Hasan menghadap Ahmad)
“ Kenapa si mas Tanya-tanya, kamu
mau mengantarkan aku tidak kalau ayah tidak bisa mengantarkan aku ?” Tanya
Ahmad balik dengan nada kesal.
“ Iya aku cuman tanya aja, aku kan juga belum
libur sekolah jadi enggak bisa anterinlah.” Jawab Hasan (nada cuek)
Suasana yang hening, di meja makan
tidak lengkap karena ayah dan ibunya Ahmad sudah pergi ke sawah karena lagi
panen padi. Dengan pertanyaan Hasan kepada Ahmad, suasana hati Ahmad merasa
kesal dan ingin menangis. Ahmad jalan kaki menuju sekolah SMP yang di inginkan,
karena lewat jalan raya sangat jauh, akhirnya Ahmad lewat sawah dan menyebrang
sungai supaya cepat sampai sekolah tersebut. Tidak ada kata mengeluh meskipun
panas, semuanya dilewati oleh Ahmad dengan semangatnya.
*6
tahun kemudian ….. !!!!
Ahmad telah lulus SMA, dan Ahmad
memikirkan harus bekerja apa supaya bisa membantu kedua orang tuanya. Semua
pekerjaan di coba dan dijalanin oleh Ahmad. Baik menjadi buruh di sawah,
mencari rumput untuk dijual ke peternak, dan menjadi kernet angkutan umum
dijalanin oleh Ahmad. Uang upahnya dikumpulkan ditabung oleh Ahmad. Hebatnya
Ahmad dari kecil dapat mencari uang sendiri dan tidak merepotkan kedua orang
tuanya. Bedanya dengan saudaranya baik itu kakak atau adiknya. Mereka tidak mau
berusaha sendiri, hanya bisa menggantungkan kedua orang tua. Ahmad sangat
peduli dengan saudara-saudaranya ketika memiliki uang lebih pasti membelikan
makanan yang bisa di makan bersama dengan keluarganya.
Suatu hari Ahmad diajak oleh kakak
sepupunya untuk menjadi kernet angkutan umum. Dan Ahmad sangat senang sekali
karena merasa memiliki pekerjaan dan tidak mencari-mencari lagi. Tapi dengan
syarat setiap pagi sebelum menarik atau jalan mencari pelanggan Ahmad harus
mencuci mobil angkutan tersebut. Tanpa Ahmad merasa mengeluh slalu dikerjakan
setiap pagi. Semangat Ahmad terlihat dari raut mukanya dan kebahagiaan yang di
rasakan ketika selama bekerja meskipun rasa panas dan lelah Ahmad senang tidak
putus asa untuk mencari pelanggan. Ahmad ikut kakak sepupunya bekerja selama 4
tahun, tidak tahu kenapa tiba-tiba Ahmad setelah mencuci mobil angkut dan Ahmad
mulai bersiap-siap untuk berangkat. Malah di tinggal oleh kakak sepupunya tanpa
ada pembicaraan apapun dan esoknya pun Ahmad juga ditinggal begitu saja tidak
diajak lagi. Ahmad bertanya-tanya pada dirinya apakah ada kesalahan yang kakak
sepupunya merasa kecewa atau tersinggung sehingga Ahmad tidak diajak lagi
bekerja. Dan Ahmad tidak menceritakan masalah ini ke dua orang tuanya. Ahmad
tidak ingin membuat beban kedua orang tuanya.
“Kenapa sudah mulai nyaman bekerja
kok jadi beginin ?, kenapa tiba-tiba aku didiamin tanpa ada sebab begini…..?.
ah, kalau begini terus bisa-bisa uang tabunganku habis dan tidak ada masukan
lagi. Aku harus berputar otak untuk mencari kerja lagi !!!!!” (bicara
sendiri dengan diri sendiri, sambil rebahan dikamar)
Tiba-tiba
ibu Ahmad mengetuk pintuk kamar.
“Mad…Ahmad… !!!” (teriak ibu)
“Iya…iya sebentar ibu. (membuka pintu). Iya bu ada apa bu kok manggil-manggil ?” (Tanya
Ahmad)
“Kamu gak laper mad ? ya ayok makan
bersama kamu dari pagi udah di kamar terus mad udah enggak kerja, enggak keluar
kamar, kamu ada apa mad ? ada masalahkah dengan kakak sepupumu ?” (Tanya
ibu dengan curiga)
”hmmm….hmm enggak kok bu, ahmad cuman itu…
apa bu hmmm… Ahmad cuman capek aja pengen istirahat dulu gitu bu” (merasa
ragu menjawab tapi tetap berusaha untuk menutupin)
”Iya sudah ayok makan ditunggu sama bapak dan
semuanya !”
Ahmad duduk di meja makan dekat
ibunya, dengan diam dan takut ditanya sama ayahnya kenapa sudah beberapa tidak
bekerja. Wajah kebingungan tampak sekali, tapi Ahmad berusaha seperti tidak
apa-apa. Suasana meja makan seperti biasa kakak-kakak Ahmad dan adik Ahmad
bergurau di meja makan. Tanpa disadari bapak Ahmad memperhatikan diamnya Ahmad
yang berbeda sebelumnya. Setelah saudaranya pun mulai tenang setelah bergurau
tiba-tiba ayah Ahmad bertanya dengan tenang
”Mad …. Kamu baik-baik saja nak ? Apa kamu
lagi sakit ? kok ayah lihat beberapa hari ini kamu tidak kerja ikut kakak
sepupumu ? tidak berantem juga kan ya nak ?” (Pandangannya penuh dengan
harapan baik-baik saja)
“Iya Yah aku baik-baik saja, aku cuman ingin
istirahat saja dirumah beberapa yah. Badan Ahmad merasa capek sekali soalnya
daripada Ahmad memaksa kerja takutnya tidak fokus dan tidak dapat pelanggan
gitu yah!” (berusaha menjawab dengan yakin)
“Baiklah Mad, ayah percaya bahwa Ahmad tidak
membohongi Ayah dan ibu ya… dan Ahmad tidak sendirian disini. Apapun yang
terjadi kamu bisa cerita sama Ayah atau dengan Ibumu. Bisa juga Ahmad cerita
dengan kakak-kakak mu Mad.” (jawab ayah)
Suasana tmenghening, dan Ahmad
merunduk tidak tahu apa yang tiba-tiba mengubah pikiran Ahmad saat itu. Ahmad
memulai putar otak tidak bisa seperti ini. Semangat Ahmad kembali dan di meja
makan tersebut Ahmad memutarakan keputusan yang Ahmad tidak tahu bisa atau
tidak. Dan tujuan Ahmad nantinya kemana. Yang membuat Ayah dan
saudara-saudaranya terkejut.
“Yah, Ahmad mau berbicara dan ijin sama Ayah
dan Ibu, Ahmad tidak ingin apa-apa tapi Ahmad minta doa restu. Ahmad punya
rencana ingin ke Surabaya mencari kerja disana. Karena aku disini merasa tidak
bisa menjamin. Aku pingin mandiri !” (mulut yang kaku yang berusaha untuk
berbicara)
“(Semuanya
menoleh ke arah Ahmad sambil terkejut)”
“Mad kenapa tiba-tiba mengambil keputusan
begitu Nak ? di sini banyak sekali kerjaan tanpa Ahmad harus ke Surabaya. Nanti
Ahmad di sana ikut siapa ?” (Tanya ibu dengan rasa khawatir)
“(Ahmad
berdiam dengan merunduk)”
“Mad begini ya.. merantau di kota besar harus
punya tujuan dan itu tidak sangat mudah sedangkan kamu yang tidak punya
pengalaman di kota besar sepeerti Surabaya. Lalu kamu di sana tinggal dimana
itu harus disiapkan Nak bukan dengan tiba-tiba dan asalan begini. Ayah tahu
kamu sangat ingin hidup mandiri tapi bukan terburu-buru. Jika ada masalah
diselesaikan dulu dengan berfikir tenang. Bukan untuk lari dari masalah lalu
kamu memilik keputusan tinggal di luar Kota Nak !. Sudah Mad sekarang kamu tidur saja dulu pikirkan baik-baik atas
keputusan mu itu tadi.” (Sambil mempersilahkan Ahmad meninggalkan meja
makan)
“(Ahmad
berdiri dan pergi kekamarnya, dan saudara-saudaranya memandangi Ahmad yang
melangkah meninggalkan meja makan)”
Ayah dan Ibunya sangat terkejut dan
semakin bertanya-tanya dengan keputusan Ahmad yang tiba-tiba ingin merantau ke
kota besar, rasa khawatir seorang ibu yang tidak bisa ditutupin lagi. Ayah
dengan tenang mencoba untuk menenangkan pikiran dan rasa khawatir ibu Ahmad. Posisi
Ahmad yang semakin bingung sendiri dengan keputusan yang terlontar begitu saja.
Ahmad juga menyadari bahwa dia tidak mempunyai pengalaman yang baik di Kota
Besar seperti Surabaya. Ahmad menghabiskan malam dengan merenung dan
kebingungan rasa bimbang. Ayah dan Ibu Ahmad berusaha suasana di meja makan
akan baik-baik saja supaya Ahmad tidak canggung dengan keluarganya.
Pagi yang sejuk ayah Ahmad menikmati
kopi di depan teras rumah dengan santai. Ibu ahmad yang sibuk masak di dapur.
Kedua orang tua Ahmad tidak pergi kesawah untuk sekarang dan sama-sama
beristirahat di rumah. Ahmad tidak sengaja keluar ke teras rumah dengan cangguh
“Mad
… sini duduk” (Ayah memanggil)
“iya
Yah …” (nyamperin Ayah dan duduk di sebelahnya)
“Gimana
Mad kenapa kamu kemarin ?” (tanpa Ayah)
“Gini
Yah, Aku tu ingin sekali punya pengalaman yang lebih supaya suatu saat nanti
aku punya cerita sendiri dan bisa bangga dengan diriku sendiri. Jika aku hanya
kerja di sini-sini aja aku merasa tidak berkembang dan tidak punya pengalaman
yang Ahmad ceritakan untuk teman-teman ataupun semuanya. Tapi semua itu kembali
ke ayah dan ibu merestui Ahmad untuk pergi atau tidak. Ayah tahu kan bahwa aku
ingin sekali membantu orang-orang desa supaya maju dan ingin memimpin Desa ini
supaya lebih baik lagi seperti mbah-mbah uyut dulu waktu memperjuangkan Desa
lebih baik. Ya Ahmad tahu yah ini keputusan yang tidak mudah dan tidak gampang
sekali untuk ditempuh. Tapi Bissmillah Ahmad yakin dan bisa Ayah.” (Ahmad
berusaha untuk menjelaskan dengan baik)
“(Menghembuskan nafas), Ayah paham inginnya Ahmad, bukannya Ayah
melarang Ahmad untuk pergi. Kejarlah nak apa yang sesuia dengan keingginan mu
dan cita-citamu. Ayah dan ibu hanya bisa mendoakan semoga kamu diberikan
kelancaran. Ayah semalam ngomong begitu karena Ayah tidak mau Ahmad
menjalaninnya setengah-setengah. Ahmad nantinya tidak akan merasakan dengan
benar. Jika memang tujuan mu begitu ayah yakin Ahmad bisa memilih mana yang benar
dan mana yang tidak harus di jalankan sama Ahmad, pergilah Mad nanti Ayah bantu
kasih pengertian ke Ibu mu. Tapi Ayah tanpa sama Ahmad, Ahmad ada uang untuk
bertahan di sana semalam kamu mencari kerja ?” (jawab Ayah)
“Ada
yah dan Insya’allah cukup buat Ahmad, terimakasih banyak Ayah sudah memahami
Ahmad dan mendoakan Ahmad.” (Wajah bahagia dan memegang tangan ayah)
*tiba-tiba ada mobil parker di depan
rumah untuk bertamu
“sudah
Mad kamu masuk dulu ada tamu” (sambil berdiri dengan menengok-nengok siapa
yang dating)
“Baik
Yah, ahmad ke dalam dulu” (Ahmad bergegas pergi)
“Assalamualaikum
…….” (teriak teman Ayah Ahmad)
“Walaikumsalam….
Oh kamu apakabar sudah lama tidak berjumpa, sini-sini duduk bersantai.”
(sambil berjabat tangan) Kamu mau kemana
? (Tanya Ayah Ahmad)
“(ketawa) mau mampir kesini aja. Aku mau ke Surabaya
ini jualan sayur di pasar sana. Alhamdulillah banyak pelanggan dan sekarang aku
kerja di sana sudah lama sekali. Ini tadi aku ambil sayur di desa atas sana loh
sekalian mampir kan ngelawatin sebentar-sebentar gitu”. (jawab Pak Nan)
“Wah
jadi juragan sayur ya sekarang. Alhamdulillah Nan kamu sukses sekarang. Barusan
anak ku juga pengen ke Surabaya buat cari kerja disana. Tapi gak tahu tu Ahmad
mau cari dimana Nan” (jawab Ayah Ahmad)
“Wah
kebetulan Ahmad anak mu mau gak ya kerja jadi karyawan ku buat anterin sayur di
pelanngan ke rumah makan gitu. Aku belum ada karyawan ini soalnya”
(berusaha menawarkan)
“Wah
pas sekali ini tidak merepotkan ta ini ? jadi gak enak loh aku ini. Bukan
maksud ku begitu loh Nan” (jawab ayah dengan sungkan)
”Santai,
tapi aku tidak memaksa ya tergantung Ahmad mau apa tidak terserah” (Jawab
balik Pak Nan)
“Sebentar
ya Nan. Maaaaad. Ahmaaaaaad nak kesini mad….. (teriak Ayah Ahmad)”
“Iya
Yah ada apa ?” (Ahmad datang)
“Ini
loh Pade Nan ada lowongan kamu mau gak jadi karyawannya Pade Nan yang
mengantarkan sayur-sayur di pelanggannya. Pade Nan tidak memaksa juga si mau
mau apa tidak. Terserah Ahmad saja” (Tanya Ayah)
“Mau
yah, pade Ahmad mau sekali apapun kerjanya Ahmad mau yang penting halal” (Wajah
girangnya Ahmad terlihat)
“Yasudah
kalau Ahmad mau siap-siap pade tunggu kita berangkat sekarang ya” (Jawab
Pak Nan)
(Ahmad lari untuk bersiap-siap)
“Anak
mu semangat sekali (sambil tertawa)” (Kata Pak Nan)
Beberapa
menit menunggu akhirnya Ahmad sudah selesai bersiap-siap dan berpamit ke dua
orang tuanya. Ibu yang belum siap untuk melepaskan, tapi ketika Ahmad
berpamitan menunjukan tegar dan slalu mendoakan Ahmad baik-baik saja dan
berusaha untuk tenang. Ahmad pergi ke Surabaya dengan wajah bahagia. Sedikit
lega Ayah melihat Ahmad bekerja dengan teman baiknya. Ahmad bekerja dengan
bahagia dan menyukai pekerjaannya. Ahmad merasa bukan karyawan tapi Ahmad
merasa membantu seorang Ayahnya sendiri untuk bekerja. Karena perilaku Pak Nan
yang menganggap Ahmad sebagai anaknya sendiri.
Ahmad
melawati lika-liku dan bahagia bekerja dengan Pak Nan dengan waktu yang sangat
lama sekali 7 tahun tepatnya. Dan Ahmad memiliki tabungan yang cukup, Pak Nan
mengarahkan Ahmad untuk membuka sendiri tapi tidak di lepas dengan pantauan Pak
Nan dan masih di belajarin menjadi pengusaha sayur bagaimana yang benar. Dan
Ahmad memperhatikan, Pak Nan sangat senang sekali dengan semangat dan kejujuran
Ahmad yang tidak mudah terpengaruh dengan siapapun. Ketika Ahmad bisa berdiri
di atas kakinya dan menyukseskan usaha sayur di pasar. Ahmad mempunya banyak
sekali pelanggan yang suka dengan perilaku Ahmad dan kesabaran Ahmad melayani.
Bertemulah dengan wanita yang cantik rambutnya kriting dengan tai lalat di
pipinya. Senyumnya manis yang membuat Ahmad terpikat. Berkenalan pun terjadi,
dan tidak ingin mengajaknya berpacaran tetapi tidak tahu kenapa tiba-tiba Ahmad
ingin sekali segera menikah dengannya.
Ahmad
tidak menawarkan pernikahan pada wanita tersebut. Tapi Ahmad langsung berbicara
kepada kedua orang tuanya meminta ijin untuk menikahin putrinya. Kedua orang
tua si wanita tersebut merestui pernikahannya dan mereka hidup berbahagia dan
sukses dalam usaha jualan sayur di pasar Kota Surabaya.
Komentar
Posting Komentar